Deretan toko kain bermotif khas pesisir itu sudah lama menjadi magnet bagi pelancong.
CIREBON (LB)- Riuhnya aktivitas di sentra batik Trusmi Kabupaten Cirebon bukan hal baru. Deretan toko kain bermotif khas pesisir itu sudah lama menjadi magnet bagi pelancong yang singgah ke Cirebon.
Namun dalam beberapa tahun ke depan, wajah kawasan ini diproyeksikan akan berubah dan lebih tertata.
Kawasan sentra batik trusmi, digadang-gadang menjadi ikon wisata layaknya kawasan Malioboro di Yogyakarta.
Pemkab Cirebon kini sedang merancang arah besar pengembangan Trusmi. Bukan sekadar pusat belanja batik, kawasan ini akan ditata sebagai ruang publik yang nyaman bagi pejalan kaki, sekaligus menguatkan identitas budaya lokal.
Kepala Bidang Destinasi dan Industri Pariwisata Disbudpar Kabupaten Cirebon, Dadan Subandi, mengungkapkan langkah awal yang akan dilakukan adalah membangun kesepahaman dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Konsep besar ini tidak bisa berjalan sendiri tanpa dukungan lintas pemerintah. Konsepnya harus matang dan sejalan dengan arah pembangunan provinsi, sehingga hasilnya benar-benar berdampak bagi masyarakat,” ujarnya, Minggu (29/3).
Dia menjelaskan, konsep yang sedang digodok mengarah pada penataan kawasan berbasis pedestrian. Aktivitas wisata akan dibuat lebih ramah bagi pengunjung yang berjalan kaki, sekaligus menata keberadaan pedagang kaki lima agar lebih rapi tanpa menghilangkan daya tariknya.
“Bayangannya, orang datang ke Trusmi bukan hanya belanja, tapi juga menikmati suasana. Ada ruang interaksi, ada pengalaman budaya yang terasa,” kata Dadan.
Lebih dari itu, pendekatan yang diusung juga menitikberatkan pada pemberdayaan warga lokal. Pemerintah ingin masyarakat sekitar tidak hanya menjadi penonton, tetapi terlibat langsung dalam aktivitas wisata mulai dari perajin batik, pelaku usaha kecil, hingga pemandu wisata berbasis komunitas.
“Kita punya potensi besar di masyarakat. Tinggal bagaimana kita kemas agar mereka bisa menjadi bagian dari ekosistem wisata, bukan sekadar pelengkap,” ujarnya.
Meski begitu, penataan tidak akan dilakukan secara drastis. Pemerintah memastikan perubahan akan berjalan bertahap agar tidak mengganggu aktivitas ekonomi yang sudah lebih dulu hidup di kawasan tersebut.
“Prinsipnya bukan menggusur, tapi merapikan. Kami ingin semua pihak tetap bisa berjalan bersama tanpa ada yang dirugikan,” ujarnya.
Dalam rancangan jangka menengah lanjut dia, pengembangan Trusmi ditargetkan mulai menunjukkan hasil signifikan dalam lima tahun ke depan. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada sinergi antar pihak, termasuk dukungan kebijakan dari tingkat provinsi.
“Jika rencana ini berjalan sesuai harapan, Trusmi bukan hanya akan dikenal sebagai pusat batik, tetapi juga sebagai wajah baru pariwisata Kabupaten Cirebon. Disinilah tempat di mana tradisi, ekonomi, dan pengalaman wisata bertemu dalam satu ruang yang hidup,” tukasnya. *
