Sukacita pemain Swiss saat mengalahkan Kolombia.
VANCOUVER – Swiss melangkah ke perempat final seusai mengalahkan Kolombia lewat adu penalti pada babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Stadion BC Place, Vancouver, Rabu (8/7) pagi WIB.
Pada pertandingan ini kedua tim bermain imbang tanpa gol selama 120 menit sebelum Swiss mampu menjadi pemenang setelah menang 4-3 di babak adu penalti. Dua eksekutor Kolombia Davinson Sanchez dan Cucho Hernandez gagal melaksanakan tugasnya.
Pelatih Timnas Swiss Murat Yakin menyebut rencananya berjalan mulus. Terpeenting baginya adalah Swiss bisa melangkah ke babak perempat final setelah menanti 72 tahun.
“Di awal pertandingan, kami membutuhkan pengalaman. Kami membutuhkan mentalitas yang tepat. Kemudian, pada babak kedua, kami melakukan pergantian pemain yang memberikan kami kendali lebih besar, terutama dalam penguasaan bola. Sebuah penantian panjang bagi kami untuk melaju ke babak perempat final,” ujarnya.
Yakin melanjutkan, keberhasilan Swiss menyingkirkan Kolombia tidak terlepas dari pemain-pemain yang percaya diri untuk mengambil tendangan penalti. Meskipun begitu, dirinya mengakui bahwa keberhasilan Swiss bisa melangkah ke babak perempat final tidak terlepas dari keberuntungan yang menaungi Granit Xhaka serta kolega.
“Anda tentu selalu memiliki rencana. Ketika rencana itu akhirnya berhasil, rasanya jauh lebih memuaskan. Tentu saja, kami juga sedikit beruntung, dan itu adalah bagian dari sepak bola,” ungkap Yakin.
Kapten Swiss Granit Xhaka menilai negaranya saat ini diperkuat generasi yang spesial. Ia menjelaskan jika Swiss harus menanti cukup lama untuk bisa memiliki kumpulan pemain seperti ini.
Pemain Sunderland itu berharap Swiss tetap akan diperkuat sekelompok pemain hebat di masa mendatang tanpa harus menunggu dalam waktu lama agar hal tersebut bisa terwujud.
“Kami, para pemain yang lebih berpengalaman, terus didorong oleh pemain-pemain yang lebih muda, dan pada saat yang sama, kami harus memberikan contoh nyata setiap hari serta di setiap pertandingan,” ungkap Xhaka.
Xhaka menambahkan ia beserta pemain senior lainnya akan terus membagikan pengalaman kepada pemain muda mereka dan menanamkan mentalitas bahwa Swiss dapat melakukan apa pun, termasuk di babak perempat final Piala Dunia 2026. “Mulai dari staf pelatih hingga pemain terakhir, kita semua bisa bangga atas pencapaian kita,” ujarnya.
Sementara pelatih Kolombia Nestor Lorenzo menyesalkan kegagalan timnya memaksimalkan peluang. Menurutnya, Los Cafeteros sebenarnya tampil lebih agresif dan layak meraih kemenangan dalam pertandingan tersebut. “Yang paling kurang dari kami, tanpa diragukan lagi, adalah mencetak gol,” ujar Lorenzo.
Ia menilai laga berlangsung sangat ketat dengan kedua tim menerapkan pendekatan taktis sehingga ruang untuk menciptakan peluang terbuka sangat terbatas.
“Kami tahu pertandingan akan berjalan sangat rapat, sangat taktis dan seimbang. Meski begitu, saya pikir kami pantas mendapatkan hasil yang lebih baik dalam 90 menit karena niat menyerang dan jumlah peluang yang kami ciptakan,” katanya.
Menurut Lorenzo, intensitas permainan menurun memasuki babak kedua hingga perpanjangan waktu karena kedua tim mulai mengalami kelelahan. Situasi tersebut membuat pertandingan akhirnya harus ditentukan lewat adu penalti.
Pelatih berusia 60 tahun itu juga menjelaskan alasan pergantian gelandang Jhon Arias pada babak kedua. Keputusan tersebut diambil karena kondisi fisik pemain mulai menurun serta untuk menghindari risiko menerima kartu kuning kedua yang dapat membuatnya absen jika Kolombia lolos ke perempat final.
“Kami khawatir satu pelanggaran lagi bisa membuat kami kehilangan satu pemain. Selain itu, faktor energi pemain juga menjadi pertimbangan,” ujarnya.
Selanjutnya Swiss berhadapan dengan juara bertahan, Argentina pada babak perempat final yang berlangsung pada Minggu (12/7) pukul 08.00 WIB.***
