Kondisi rumah warga di Perumahan Periuk Damai, Kota Tangerang yang terendam banjir setinggi lima meter, Senin (9/3),
TANGERANG (LB)- Sejumlah warga di Perumahan Periuk Damai, Periuk, Kota Tangerang, memilih tetap bertahan di lantai dua rumahnya meski tempat tinggal mereka terendam banjir sekitar lima meter, Senin (9/3).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangerang, Andia S Rahman mengatakan, sebagian warga yang belum mengungsi dan memilih tetap berada di rumah karena khawatir meninggalkan harta benda mereka.
“Ini terus kami sosialisasikan dan edukasi agar mereka bersedia dievakuasi ke tempat pengungsian,” ujar Andia saat ditemui di lokasi, Senin (9/3).
Menurut dia, alasan utama warga bertahan biasanya karena khawatir terhadap keamanan barang-barang di rumah.
Selain itu, ada juga warga yang merasa kurang nyaman tinggal di pengungsian sehingga memilih tetap bertahan di rumahnya meski terendam.
“Biasanya terkait harta benda dan juga faktor kenyamanan karena mereka melihat kondisi di pengungsian. Padahal yang diutamakan adalah keselamatan,” kata dia.
Ia menambahkan, di lokasi pengungsian telah disiapkan berbagai kebutuhan dasar, termasuk layanan kesehatan dan pengamanan bagi para pengungsi.
Meski demikian, masih ada warga yang memilih bertahan di lantai dua rumahnya.
Sementara itu, Ketua RW 08 Perumahan Periuk Damai, Heri Bertus, mengatakan banjir yang melanda wilayahnya menjadi salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir.
“Banyak warga yang sudah sangat kelelahan karena proses evakuasi sejak kemarin. Masih ada juga warga yang sempat terjebak di rumah karena air terlalu tinggi,” ujar Heri.
Sebanyak 860 warga dari 286 kepala keluarga terpaksa mengungsi akibat banjir tersebut. Saat ini, kebutuhan yang begitu diperlukan bagi para pengungsi adalah fasilitas sanitasi. “Kebutuhan paling mendesak saat ini toilet karena yang ada di masjid sudah terendam dan tidak bisa digunakan,” kata Heri. Meski demikian, kebutuhan logistik berupa makanan dan air bersih mulai terpenuhi dari bantuan pemerintah serta swadaya masyarakat yang membuka dapur umum di sekitar lokasi pengungsian. *
