Kriswanto Trimoeljo dan Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K)., FIHA. Beserta tim berfoto bersama anak-anak SD Negeri Makasar 03.
JAKARTA (LB)–Memperingati Pekan Kesadaran PJB (Penyakit Jantung Bawaan) yang berlangsung pada 7–14 Februari, PERKI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia) diprakarsai oleh Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan bekerja sama dengan GE HealthCare Indonesia menyelenggarakan program skrining Penyakit Jantung Bawaan gratis bagi anak usia sekolah secara berseri di 27 kota di seluruh Indonesia, mulai dari Aceh hingga Jayapura.
Inisiatif berskala besar ini juga diposisikan untuk meraih rekor MURI sebagai kegiatan skrining PJB terbanyak bagi anak-anak yang dilakukan serentak di periode 23 Januari – 14 Februari di berbagai wilayah.
Program skrining ini menargetkan siswa sekolah dasar dan santri pondok pesantren, tidak hanya untuk mendeteksi kelainan jantung sejak dini, tetapi juga sebagai langkah awal pengumpulan data skrining PJB secara nasional yang diharapkan dapat memperkaya pemahaman mengenai gambaran PJB di Indonesia.
Program skrining PJB gratis bagi anak usia sekolah tersebut salah satunya dilaksanakan pada Kamis (12/2/2026) di SD Negeri Makasar 03, Jalan Kerja Bakti No. 1, Kelurahan Makasar, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur.
Pelaksanaan skrining PJB di sekolah tersebut dihadiri oleh CEO GE HealthCare Indonesia Kriswanto Trimoeljo, Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K)., FIHA.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan Dr. Siti Nadia Tarmidzi, M.Epid, menyampaikan bahwa program ini sejalan dengan arah kebijakan kesehatan nasional yang menekankan upaya promotif dan preventif.
“Penyakit jantung bawaan merupakan kelainan yang paling banyak ditemukan pada bayi baru lahir, dengan angka prevalensi kira-kira 9-10 per 1.000 kelahiran hidup. Penyakit jantung bawaan telah diidentifikasi sebagai salah satu penyebab kematian yang paling sering ditemukan pada satu tahun pertama kehidupan . Sementara itu program skrining PJB sejak tahun 2025 merupakan salah satu skrining pada Cek Kesehatan Gratis. Karena itu kegiatan deteksi dini PJB pada anak sekolah merupakan salah satu upaya edukasi dan meningkatkan kesadaran masyarakat, sekaligus memperkuat deteksi dini agar anak-anak dengan PJB dapat memperoleh penanganan yang tepat sedini mungkin. Kolaborasi antara organisasi profesi, industri, dan pemerintah menjadi kunci dalam meningkatkan derajat kesehatan anak Indonesia,” jelasnya.
Menurut Ketua Pokja Kardiologi Pediatrik dan Penyakit Jantung Bawaan PERKI Dr. Oktavia Lilysari, SpJP(K)., FIHA, selama ini Indonesia belum memiliki gambaran utuh mengenai prevalensi Penyakit Jantung Bawaan pada anak karena keterbatasan data nasional.
Dan melalui skrining yang dilakukan secara serentak periode 23 Januari – 14 Februari 2026 di berbagai wilayah Indonesia, PERKI tidak hanya berupaya menemukan kasus PJB lebih dini, tetapi juga mengumpulkan data awal yang sangat penting sebagai fondasi menuju registri Penyakit Jantung Bawaan nasional yang lebih kuat dan berkelanjutan.
“Melalui skrining PJB gratis yang dilakukan secara berseri di 27 kota, PERKI memimpin upaya skrining PJB anak usia di bawah 18 tahun terbanyak di Indonesia. Dengan kegiatan tersebut diharapkan dapat menyaring anak dengan PJB lebih dini sehingga tatalaksana dapat dilakukan lebih cepat dan memberikan dampak signifikan bagi kualitas hidup anak-anak dengan Penyakit Jantung Bawaan,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaan program ini, GEHC (GE HealthCare) Indonesia turut mendukung melalui inisiatif yang selaras dengan fokus Kementerian Kesehatan dalam penguatan layanan promotif dan preventif.
GEHC menyediakan sistem ultrasonografi yang digunakan selama kegiatan skrining untuk mendukung deteksi dini kelainan jantung pada anak, menghadirkan pencitraan berkualitas tinggi guna penilaian jantung pediatrik yang lebih akurat, serta memperluas akses terhadap alat diagnostik esensial di wilayah dengan keterbatasan layanan kesehatan.
CEO GE HealthCare Indonesia, Kriswanto Trimoeljo, menyampaikan bahwa kolaborasi ini mencerminkan komitmen jangka panjang GEHC dalam mendukung kesehatan anak di Indonesia. “Dukungan kami terhadap program skrining PJB nasional ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk membantu tenaga medis melakukan deteksi dini, sekaligus mendukung organisasi profesi dan program kesehatan nasional demi masa depan kesehatan anak yang lebih baik,” ujarnya. **
