Kanada Bikin Sejarah Melaju ke 16 Besar

Selebrasi Stephen Eustaquio dan rekannya saat mengalahkan Afrika Selatan.

LOS ANGELES – Timnas Kanada memastikan langkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 usai mengalahkan Afrika Selatan dengan skor tipis 1-0 pada babak 32 besar di Stadion Los Angeles, AS,  Senin (29/6) dinihari WIB. Stephen Eustaquio jadi pahlawan Kanada lewat golnya pada masa injury time babak kedua (90+2).

Kanada tampil lebih dominan dan langsung mengambil inisiatif menyerang sejak menit awal.  Di sisi lain, Afrika Selatan memilih bermain lebih sabar dengan mengandalkan serangan balik cepat. Solidnya lini belakang Bafana Bafana membuat Kanada kesulitan menciptakan peluang bersih, sehingga skor tanpa gol bertahan hingga turun minum.

Memasuki babak kedua, Afrika Selatan mulai berani keluar menyerang. Oswin Appollis sempat mengancam lewat tembakan jarak jauh pada menit ke-64, tetapi bola masih melenceng tipis dari sasaran.

Pelatih Jesse Marsch kemudian memasukkan Alphonso Davies pada menit ke-75 untuk menambah daya gedor. Kehadiran sang kapten membuat serangan Kanada semakin hidup, sementara Jonathan David nyaris memecah kebuntuan pada menit ke-79. Namun, penyelamatan gemilang Ronwen  Williams kembali menggagalkan peluang tersebut.

Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak perpanjangan waktu, Eustaquio muncul sebagai pembeda. Berawal dari sapuan pemain Afrika Selatan yang mengarah ke tepi kotak penalti, Eustaquio mengontrol bola dengan dada sebelum melepaskan tendangan voli keras ke sudut bawah gawang. Kiper Williams tak mampu menghalau bola.

Pelatih Kanada, Jesse Marsch, menyebut timnya sebagai ‘Pahlawan Kanada’. Ia pub menyampaikan pujian tersebut tepat setelah laga berakhir. Dia mengumpulkan pemainnya di pinggir lapangan dan menyatakan kepada mereka; “kalian adalah pahlawan Kanada”, momen yang kemudian viral di media sosial.

Pelatih berusia 52 tahun ini menyatakan bahwa dia ingin pemainnya langsung memahami betapa pentingnya kemenangan ini, sebuah pencapaian bersejarah bagi sepak bola negeri ini.

“Saya hanya ingin menyampaikan kepada mereka (pemain), betapa pentingnya momen ini bagi olahraga Kanada,” kata Marsch dalam wawancara singkat kepada wartawan setelah “team talk”.

 Pelatih asal Amerika Serikat ini menyatakan tidak peduli tentang penilaian terkait briefing di pinggir lapangan yang memang terkadang mendapat sorotan kamera. “Ada orang yang mengatakan bahwa pertemuan di lapangan itu hanya sandiwara. Terus terang, saya tidak peduli apa yang orang katakan. Yang saya pedulikan hanyalah tim kami sendiri dan apa yang kami lakukan bersama,” kata Marsch.

Dalam sejarahnya, ini merupakan edisi Piala Dunia ketiga bagi Kanada setelah Piala Dunia 2022 dan yang pertama adalah Piala Dunia 1986.

Untuk edisi Piala Dunia 2026 ini, mereka tentu saja tampil di Piala Dunia ini sebagai tuan rumah yang berarti tanpa melalui kualifikasi. Namun demikian, Jonathan David dan kawan-kawan berhasil membuktikan bahwa mereka mampu bersaing walau tanpa melalui fase kualifikasi.

Kanada lolos sebagai ke 32 besar dengan status runner-up grup setelah kalah dari Swiss dalam laga terakhir Grup B, 24 Juni lalu. Karena kegagalan menjadi juara grup, membuat mereka harus kehilangan kesempatan untuk tetap bermain di Kanada, seperti saat ini main di Los Angeles, AS. Bermain di Kanada memiliki peluang bagi mereka untuk tetap dekat dengan fans dan meningkatkan atmosfer semangat Piala Dunia 2026 di negeri mereka sendiri.

“Kami kecewa harus meninggalkan Kanada, mengingat kemeriahan dan semangat di sekitar Piala Dunia dan tim kami. Tetapi para pemain dengan cepat fokus kembali dan tahu bahwa ini adalah kesempatan besar,” kata Marsch.

Stephen Eustaquio menegaskan keberhasilan  ini merupakan hasil kerja keras seluruh pemain, bukan semata-mata karena aksinya mencetak gol. “Kami bekerja sangat keras untuk meraih kemenangan ini. Kami benar-benar ingin mempersembahkan kemenangan ini kepada seluruh rakyat Kanada. Kami terus percaya dan terus berjuang,” ujarnya.

Pemain berusia 29 tahun itu juga menggambarkan gol yang dicetaknya sebagai hasil kontribusi seluruh tim. “Itu gol yang luar biasa. Saat saya menembak, rasanya semua orang ikut menendang bola bersama saya. Semua memberikan sedikit tenaga hingga akhirnya bola masuk ke gawang. Saya sangat bahagia,” ucap Eustaquio.

Sementara pelatih Afrika Selatan, Hugo Broos, mengakui timnya kalah bersaing secara tenaga dan kecepatan. “Saya pikir kami harus jujur bahwa kami kalah karena tim kami kekurangan tenaga dan kecepatan. Bila dibandingkan dengan lawan, kami kalah dalam banyak duel dan kecepatan tim kami, bukan hanya kecepatan berlari, tetapi juga kecepatan dalam mengeksekusi permainan, tidak berada di level yang sama,” kata Broos yang dikutip dari CNA.

Pelatih asal Belgia berusia 74 tahun itu memuji permainan Kanada yang dinilai mampu membangun serangan dengan tempo tinggi. Sebaliknya, para pemain Afrika Selatan dinilai terlalu lama mengambil keputusan sehingga kesulitan mengimbangi permainan lawan.

“Anda bisa melihat seberapa cepat Kanada bermain, termasuk saat membangun serangan. Sementara kami terkadang membutuhkan waktu terlalu lama untuk mengambil keputusan,” ujarnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *