MATAKIN Kabupaten Bogor Selenggarakan Kebaktian, Ketum Budi Berikan Khotbah

BOGOR (LB)—MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Kabupaten Bogor, untuk kesekian kalinya, menyelenggarakan kebaktian bersama umat Khonghucu.

Kali ini kebaktian dilangsungkan di Litang Tepasalira MAKIN Kampung Tionghoa, Kecamatan Tajur Halang, Kabupaten Bogor, Minggu (19/4/20260.

Ketua Umum MATAKIN, Xs. Budi S. Tanuwibowo hadir sekaligus memberikan Jiang Dao (khotbah) dalam kebaktian bersama tersebut.

          Kebaktian bersama dihadiri kurang lebih 300 umat Khonghucu, MAKIN Kampung Tionghoa, turut hadir pengurus dan umat Khonghucu dari berbagai MAKIN di Kabupaten Bogor seperti MAKIN Kampung Bulu, MAKIN Ciampea, MAKIN Tegal Bogor, MAKIN Rancabungur, MAKIN Kemang, MAKIN Tonjong dan MAKIN Binong.

          Kebaktian dimulai dengan doa pembuka yang dipimpin Js. Unkuih Haryanto, kemudian dilanjutkan dengan nyanyian lagu rohani, pembacaan ayat suci Kitab Si Shu, dan sambutan – sambutan di antaranya perwakilan MAKIN Kampung Tionghoa, Ketua MATAKIN Kabupaten Bogor dan Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat.

          Ketua MATAKIN Kabupaten Bogor, Js. Irianto Suardy mengatakan kebaktian bersama se Kabupaten Bogor ini sudah berjalan kesekian kali, khusus Wilayah II ini sudah berlangsung kedua kali, yang pertama di MAKIN Tegal, Bogor.

Seiring berjalannya waktu, kebaktian bersama ini mendapat animo luar biasa dari umat Khonghucu. Harapan saya semoga ke depannya dapat diadakan di suatu tempat yang cukup besar sehingga semua MAKIN bisa mengikuti.

          Xs. Budi S. Tanuwibowo, Ketum MATAKIN dalam Jiang Dao nya mengatakan hakikat memberi hadiah merupakan bagian dari sopan santun, menghargai dan menghormati sebuah persahabatan.

Xs. Budi kemudian menjelaskan bahwa persahabatan itu tidak boleh mengenal kelas, kasta, tidak ada perbedaan kaya miskin, tua muda.

Yang namanya sahabat itu harus mengedepankan kesetaraan, tidak ada perbedaan kasta, contohya Raja Yao dan Shun, seorang raja yang memandang seorang rakyat sebagai sahabat, itu” papar Ketum Budi.

          “Di Zaman Nabi Kongzi, pemberian hadiah belum menjadi masalah, karena pada saat itu kesusilaan dijunjung lebih tinggi daripada sesuatu yang dapat merusak hubungan, kecuali kalau memang nyata-nyata prosesnya tidak benar atau dalam proses mendapatkan atau menyiapkan atau memperolehnya ada pelanggaran HAM,” paparnya.

          “Begitupun di zaman sekarang, jika seorang pejabat negara menerima suatu hadiah, itu tidak boleh sembarangan dan bisa menjadi gratifikasi,” tambah Budi.

Xs. Budi juga menyampaikan bahwa seorang yang hebat pun kadang dipaksa oleh keadaan tertentu untuk mengikuti kebiasaan yang berlaku meskipun ia tak sepaham. Meski keliru – tapi karena sudah berakar berurat, ia tidak serta – merta tbisa melarangnya saat itu juga. Perlu edukasi lebih dulu”.

          Ketum juga menyoroti fenomena dan kebiasaan bahwa dalam hal apapun kita menyebelah contohnya sumbangan untuk orang sakit atau menikah,

Menurutnya kebanyakan perilaku masyarakat kita aneh , misal dalam sumbangan pernikahan, kalau yang menikah orang kaya sumbangannya banyak, tapi jika yang menikah orang kurang mampu, malah sedikit. “Ini terbalik ya,” ucapnya.

          Dalam hal apapun kita ini seringkali menyebelah dan membedakan, Nabi Kongzi mengatakan dalam hal membenci atau mencinta, manusia itu menyebelah” tambah Budi.

          Menutup Jiang Dao nya, Ketum Budi menyampaikan bahwa kebajikan saja tidak cukup, tapi harus diejawantahkan sehingga menghasilkan kesejahteraan yang bisa meluluhkan hati orang.

“Belum ada Kebajikan yang mampu meluluhkan hati seseorang dalam jumlah besar dan jangka panjang. Kesimpulannya kebajikan kebaikan itu bagus, tapi akan lebih bagus jika kita olah sehingga menghasilkab kesejahteraan,” tutupnya.

Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat, Ws. Gunadi dalam sambutan menyampaikan program dan kegiatan MATAKIN Jawa Barat

“Dalam kesempatan yang baik ini, saya infokan beberapa kegiatan dan program MATAKIN Provinsi Jawa Barat, diantaranya Celengan Twan Yang, Kegiatan dalam rangka Hari Anak Nasional, peresmian Kong Miao Binong, dan pembangunan Zhong He Miao” ujar Gunadi. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *