Rayakan HUT ke-70, Prof. Jimly: Estafet Perjuangan Harus Berlanjut

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie berfoto bersama tokoh yang hadir.

JAKARTA (LB)–Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) pertama Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie, S.H., M.H pada Jumat, 17 April 2026 lalu genap berulang tahun ke-70.

Tujuh dekade bukan sekedar angka, bagi Jimly Asshiddiqie, usia ini mencerminkan rekam jejak pengabdian yang konsisten dalam membangun fondasi demokrasi dan supremasi hukum di tanah air.

Namanya dikenal luas sebagai sosok sentral dalam perkembangan Mahkamah Konstitusi, lembaga yang berperan penting dalam menjaga konstitusi negara.

          Memasuki usia ke-70, semangat dan kontribusinya tetap terasa. Sosoknya terus menjadi rujukan dalam berbagai isu konstitusi, demokrasi, dan kebangsaan.

Banyak pihak menilai, perjalanan hidup Jimly Asshiddiqie merupakan inspirasi bagi generasi muda untuk terus berkomitmen menjaga nilai-nilai konstitusi.

          Memperingati ulang tahun ke-70, tercatat sebanyak 12 judul buku diterbitkan atas kiprah Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie. Buku – buku tersebut ditulis oleh rekan dan sahabat, memuat testimoni dan kontribusi Prof. Jimly hingga hari ini.

Peluncuran buku sekaligus puncak perayaan ulang tahun ke-70 Prof. Jimly digelar di Restaurant Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026).

          Acara dihadiri para sahabat, antara lain Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, Prof. Dr. Mahfud MD, S.H., Dr. H. Bambang Soesatyo, Prof. Dr. Arif Satria, Xs. Budi S. Tanuwibowo (Ketua Umum MATAKIN/Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) serta undangan lainnya.

          Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo dalam momen tersebut menyampaikan testimoni. Dia katakana Prof. Jimly dimata sahabat MATAKIN disebut sebagai sosok yang lurus dan berani, maka MATAKIN menganugerahi nama Mandarin Lǐ Zhèng Yì kepada Prof. Jimly.  

“Untuk pertama kali dalam sejarahnya, MATAKIN menganugerahi nama Mandarin. Asshiddiqie itu artinya jujur, berani, dan lurus, itu sama artinya dengan Zhèng Yì,” jelas Budi.

Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo menyampaikan testimoni.

       “Kenapa Prof. Jimly seakan mendapat tempat istimewa di MATAKIN? Sebenarnya di dalam perjalanan perjuangan MATAKIN, ada banyak tokoh yang terlibat, dan saya beruntung bisa berkenalan dengan para tokoh besar itu. Kalau tidak salah ingat, tokoh non – Khonghucu yang mendapat gelar Anggota Kehormatan MATAKIN ada 28 Tokoh dan lebih dari 23 Tokoh diantaranya adalah tokoh Muslim. Dan pada hari ini kebetulan hadir 4 Tokoh tersebut, ada Prof. Yusril, Prof. Din Syamsuddin, Prof. Jimly, dan Prof. Komarudin Hidayat. Di luar itu ada Alm. Gus Dur, Cak Nur, Pak Djohan Effendy, Pak Utomo Dananjaya, Prof. Sri Soemantri, dan lain-lain. Dari perjalanan MATAKIN hingga hari ini, mendapat banyak dukungan dari para tokoh tersebut,” jelas Budi.

          Budi menambahkan, pendapat Prof. Jimly tentang pentingnya landasan etika moralitas dalam pertimbangan hukum selaras dengan sabda Confucius, Kongzi yang mengatakan bahwa “diatur dengan hukum dan undang-undang orang masih bisa kehilangan harga diri. Tapi diatur dididik dengan etika moralitas, orang akan bangkit harga dirinya”

Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie membagikan buku kepada tokoh yang hadir.

          Acara diakhiri dengan penyampaian sekapur sirih dari Prof. Jimly Asshiddiqie. “Terimaasih banyak atas kehadiran bapak ibu semua, syukuran ulang tahun ke-70 ini membuat saya mengenang kembali ide – ide dan semangat lampau, semoga semangat perjuangan ini dapat diteruskan tanpa henti” ujarnya.

          Suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan terasa hingga penghujung acara. Para tamu yang hadir antusias memberikan ucapan selamat sekaligus doa terbaik bagi kesehatan dan kiprah beliau ke depan.

Momen tersebut tidak hanya menjadi perayaan bertambahnya usia, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang pengabdian dalam bidang hukum dan kenegaraan. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *