Dialog Kebangsaan, Ketua  Fraksi PKB  MPR RI: Etnis Tionghoa Salah Satu Arsitek Utama Republik Indonesia

Wamenperin Faisol Riza, Wamen Koperasi Farida Farichah, Ketua Fraksi PKB MPR RI  Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, Daniel Johan, Wilianto Tanta, Abraham Rudy, Indra Wahidin, Pui Sudarto, Suhu Benny, Ardy Susanto dan tokoh lainnya berfoto bersama.

JAKARTA (LB)–Berani (Badan Persaudaraan Antariman), sebuah badan otonom di bawah naungan PKB yang fokus merawat pluralisme pada Minggu (19/7/2026) lalu menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Peran Tionghoa dalam Pusaran Kebangsaan“, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta.

          Dialog dalam rangka menyambut Hari Lahir ke-28 PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) ini dihadiri sejumlah tokoh PKB di antaranya Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza dan Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah, Pembina DPP Berani Daniel Johan, dan Ketum DPP Berani Lorens Manuputty.

Ketua Fraksi PKB MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz memberikan cenderamata ke Pui Sudarto.
Ketum DPP Berani Lorens Manuputty memberikan cenderamata ke Wilianto Tanta.

Lalu hadir pula sejumlah tokoh Tionghoa, antara lain Ketua Umum PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia) Wilianto Tanta, Dewan Penyantun PSMTI Abraham Rudy, Wakil Ketua Umum/Koord Wilayah Jawa Barat Henry Husada, Ketua Umum Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) Indra Wahidin, Wakil Ketua umum Perhimpunan INTI Pui Sudarto, Ketua Umum Majelis Agama Buddha Mahayana Tanah Suci Indonesia Maha Bhiksu Dutavira Mahasthavira (Suhu Benny), , Ketua Umum IPTI (Ikatan Pemuda Tionghoa Indonesia) Ardy Susanto dan sejumlah tokoh lainnya.

          Ketua Fraksi PKB MPR RI  Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz dalam sambutan pembukanya mengatakan etnis Tionghoa merupakan salah satu arsitek utama dalam pembangunan Republik Indonesia.

          Menurut dialog ini untuk membuka wawasan sekaligus merespons masih adanya dikotomi semu antara pribumi dan nonpribumi. Dia menjelaskan bahwa jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, pembauran budaya telah mengakar kuat di Nusantara melalui interaksi damai. Denyut akulturasi telah mengalir dalam keseharian masyarakat, mulai dari kuliner hingga arsitektur.

Wamen Koperasi Farida Farichah memberikan cenderamata ke Abraham Rudy.

          “Di masa itu, laskar Tionghoa dan pejuang Jawa bersatu di medan laga, menghantam kezaliman VOC. Sejarah ini menjadi bukti bahwa solidaritas lintas etnis demi menegakkan keadilan telah tumbuh subur di bumi pertiwi sejak berabad-abad silam,” ujarnya.

          Pembina DPP Berani Daniel Johan, menegaskan etnis Tionghoa memiliki peran penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, mulai dari perjuangan kemerdekaan hingga pembangunan ekonomi, pendidikan, dan kebudayaan nasional. Daniel mengatakan Indonesia dibangun oleh seluruh anak bangsa tanpa membedakan suku, agama, maupun etnis.

          Menurutnya, kontribusi masyarakat Tionghoa telah menjadi bagian penting dalam sejarah nasional dan perlu terus dikenalkan kepada generasi penerus. “Komunitas Tionghoa telah memberikan sumbangsih besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan, pembangunan ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan nasional. Sejarah itu harus terus dirawat agar tidak hilang dari ingatan generasi penerus,” kata Daniel.

Daniel Johan memberikan cenderamata ke salah satu pembicara dialog.
Wamen Koperasi Farida Farichah ke Ardy Susanto.

Gus Dur Dinilai Pulihkan Hak-Hak Warga Tionghoa

Daniel Johan menambahkan, hubungan harmonis antara PKB dan komunitas Tionghoa memiliki akar sejarah yang kuat. Salah satunya melalui perjuangan Presiden ke-4 RI, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam memulihkan harkat, martabat, dan hak-hak warga Tionghoa di Indonesia.

Wamen Koperasi Farida Farichah, Ketua Fraksi PKB MPR RI Neng Eem Marhamah Zulfa Hiz, Abraham Rudy, Ketum DPP Berani Lorens Manuputty berfoto bersama.

          Kebijakan pemulihan hak-hak warga Tionghoa pada masa Gus Dur diwujudkan melalui Keppres (Keputusan Presiden) No 6 Tahun 2000 tentang Pencabutan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967 mengenai Agama, Kepercayaan, dan Adat Istiadat Tiongkok.

          Kebijakan ini menghapus pembatasan terhadap ekspresi budaya, adat istiadat, dan tradisi Tionghoa di ruang publik. Pada masa pemerintahan Gus Dur pula, Tahun Baru Imlek ditetapkan sebagai hari libur fakultatif, yang kemudian disempurnakan pada masa Presiden Megawati Soekarnoputri menjadi hari libur nasional mulai 2003.

          Daniel menegaskan hubungan PKB dengan komunitas Tionghoa dibangun di atas nilai kemanusiaan, keadilan, dan persamaan hak sebagai warga negara. “Inilah fondasi yang terus kami jaga hingga hari ini,” ucapnya.

Suasana Dialog Kebangsaan yang berlangsung hangat dan interaktif.

Merawat Sejarah untuk Masa Depan

          Daniel mengajak seluruh elemen bangsa meneladani nilai-nilai yang diwariskan Gus Dur dalam membangun Indonesia yang damai, inklusif, dan berkeadaban.

          Menurutnya, menjaga sejarah merupakan bagian penting untuk memperkuat persatuan bangsa serta memastikan setiap warga negara memperoleh kesempatan yang sama untuk berkontribusi. rbs

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *