PARIS – Timnas Prancis menjadi salah satu favorit di ajang Piala Dunia, Juni – Juli 2026. Bagi pelatih Didier Deschamps ajang nanti menjadi keempat baginya.
Deschamps mengatakan dirinya akan fokus membenahi tim. “Sejujurnya, tidak ada hal lain yang penting. Saya fokus pada apa yang ada di depan. Apa yang terjadi pada tahun 1998 dan 2018 akan selalu melekat dalam ingatan saya, tetapi tidak ada yang dapat mengubah masa lalu. Yang penting sekarang adalah apa yang akan kita lakukan selanjutnya,” kata Deschamps di laman FIFA.
Ia mengatakan antara tahun 1998 dan 2018 mempunyai kenangan yang manis untuknya. “Peran saya mungkin telah berubah antara tahun 1998 dan 2018, tetapi saya ada di sana dalam kedua kesempatan itu. Kedua pengalaman yang benar-benar ajaib. Saya cukup beruntung memenangkan trofi di level klub, Liga Champions (UEFA), dan lain-lain, tetapi tidak ada yang mengalahkan menjadi juara dunia. Nama Anda tetap sama, tetapi dua kata ditambahkan yang jadi pembeda selamanya: juara dunia,” ujarnya.
Edisi ke-23 yang akan segera dimulai tentu saja punya makna spesial bagi Deschamps, di sisi lain ini akan menjadi turnamen terakhir sebagai pelatih Prancis, Dia juga bisa mencatatkan namanya dalam buku sejarah olahraga ini jika berhasil menang pada final yang akan dilangsungkan pada 19 Juli mendatang.
Hanya Deschamps, mendiang Mario Zagallo dan Franz Beckenbauer yang berhasil meraih juara Piala Dunia sebagai pemain dan pelatih. Jika Perancis berhasil meraih prestasi terbaik lagi pada musim panas ini, dia punya kategorinya sendiri: akan menjadi orang pertama yang mencapai tiga final Piala Dunia berturut-turut dan menjadi juara dua kali sebagai pelatih serta sekali sebagai pemain.
Perancis sekali lagi masuk ke turnamen ini sebagai favorit, seperti yang mereka lakukan di Qatar 2022. “Kami telah membangun ekspektasi karena hasil yang kami peroleh. Kami mengangkat trofi pada tahun 2018 dan mencapai final pada tahun 2022, jadi para pendukung kami tentu berharap melihat Prancis (masih bersaing) pada pertengahan Juli. Kami adalah salah satu dari 10 atau 12 negara yang secara realistis dipandang bisa menjadi juara dunia,” ujarnya.
Les Bleus sendiri harus bisa melewati babak penyisihan grup yang penuh tantangan. Norwegia dan Irak bisa memberikan tantangan berat, namun pertandingan pembuka melawan Senegal bakal jadi penentu. Pertandingan ini pastinya akan membangkitkan kenangan tahun 2002 di Korea/Jepang, ketika Prancis yang bertabur bintang memulai usaha mempertahankan gelar Piala Dunia dengan kekalahan 0-1 melawan Lions of Teranga (Senegal).
Meskipun Timnas Prancis memiliki bakat-bakat luar biasa, Deschamps tetap berhati-hati. Dia sadar bahwa sepak bola akan membawa seseorang kembali membumi jika berpikir telah berhasil mencapai puncak.
Di atas kertas, final ketiga berturut-turut tampaknya bisa didapat oleh Les Bleus. “Dalam hal bakat individu, ada banyak kekuatan dan saya punya banyak pilihan. Satu-satunya kelemahan kecil yang bisa saya tunjukkan di tahun 2026 ini adalah mereka yang hadir di tahun 2018 sudah mengalami tahun 2014 dan 2016. Tapi saat ini, saya punya banyak pemain muda yang punya pengalaman terbatas di kompetisi besar,” urainya.
Penyerang Timnas Prancis Ousmane Dembele menyatakan timnya bertekad menjadikan Piala Dunia 2026 sebagai momen perpisahan indah untuk Deschamps.
Deschamps sudah melatih Prancis sejak musim panas 2012 menggantikan Laurent Blanc. Selain membawa Les Bleus juara Piala Dunia 2018, Deschamps juga menghqdirkan trofi di ajang UEFA Nations League 2021. Capaian lainnya yakni runner-up Piala Eropa 2016 dan Piala Dunia 2022.
Pelatih 57 tahun itu sudah mengumumkan akan mundur selepas Piala Dunia 2026, apa pun hasil yang diraih Prancis. Meski tahu sang pelatih akan pergi, namun skuad Prancis tak lantas kehilangan motivasi. Mereka justru terlecut untuk tampil maksimal.
“Kami tahu ini adalah turnamen terakhir bagi pelatih (Deschamps). Dia adalah sosok yang sangat hebat dan telah meraih banyak hasil bersama Timnas Prancis. Tentu saja kami sangat senang memilikinya. Kami sudah pernah bermain di Piala Dunia bersamanya,” kata Dembele kepada ESPN.
Hanya saja jelang ajang ini, Timnas Prancis diganggu kabar tidak sedap. Ruang ganti memanas karena kapten Kylian Mbappe dan N’Golo Kante kabarnya tidak akur.
Dalam tayangan video yang sempat viral di sosial media, Mbappe meminta Rayan Cherki untuk mengambil ban kapten dari lengan Kante. Cherki menurutinya dan Kante cuma bisa terdiam melihat ban kaptennya diambil. Patut ditunggu kiprah Prancis dalam ajang akbar nanti.***
