Studi: Kebiasaan Membaca dan Menulis Bisa Turunkan Risiko Demensia Hingga 40 Persen

JAKARTA(LB)- Membaca, menulis, serta mempelajari satu atau dua bahasa asing disebut dapat menurunkan risiko demensia   hingga hampir 40 persen. Hal ini merujuk pada penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam jurnal American Academy of Neurology.

Demensia adalah salah satu ancaman kesehatan terbesar di dunia. Jumlah penderitanya diperkirakan akan meningkat tiga kali lipat menjadi lebih dari 150 juta secara global pada tahun 2050, sehingga menghadirkan tantangan besar bagi sistem kesehatan dan layanan sosial di berbagai negara.

Penelitian yang dilakukan oleh peneliti dari Rush University Medical Center AS menemukan bahwa aktivitas seperti membaca, menulis, atau mempelajari bahasa asing, dikaitkan dengan risiko penyakit Alzheimer yang lebih rendah. Alzheimer adalah bentuk demensia yang paling umum.

Penulis studi, Andrea Zammit, mengatakan temuan ini menunjukkan bahwa kesehatan kognitif di usia lanjut dipengaruhi oleh kebiasaan yang mengasah otak atau intelektual seperti membaca. 

“Temuan kami menunjukkan, ketika Anda sepanjang hidup konsisten melakukan aktivitas yang mengasah otak, hal itu akan bisa membantu mencegah penyakit kognitif. Jadi menumbuhkan kecintaan  membaca dan belajar sejak dini dapat membantu mencegah demensia di usia tua,” kata Zammit.

Para peneliti mengamati 1.939 peserta dengan usia rata-rata 80 tahun yang tidak menderita demensia pada awal penelitian. Peserta diamati selama rata-rata delapan tahun. 

Mereka juga diminta mengisi survei tentang aktivitas kognitif dan sumber pembelajaran dalam tiga tahap kehidupan yaitu masa awal (sebelum usia 18 tahun), usia paruh baya, serta usia lanjut.

Hasilnya, kelompok paling aktif melakukan aktivitas yang mengasah otak seperti membaca dan menulis, hanya 21 persen yang mengembangkan Alzheimer. Sebaliknya, kelompok yang tingkat membacanya rendah, lebih banyak mengalami Alzheimer (34 persen).

Setelah menyesuaikan faktor-faktor lain seperti usia, jenis kelamin, dan pendidikan, para peneliti juga melihat bahwa kebiasaan seperti membaca dan menulis bisa mencegah Alzheimer hingga 38 persen (hampir 40 persen). 

Orang-orang dengan tingkat pengayaan tertinggi (aktif baca dan lainnya) mengalami penyakit Alzheimer pada usia rata-rata 94 tahun, sedangkan kelompok terendah pada usia 88 tahun.

Namun demikian, peneliti mengakui studi ini masih memiliki keterbatasan. Karena peserta melaporkan pengalaman masa kecil dan paruh baya saat sudah lanjut usia, sehingga berpotensi terjadi bias ingatan. 

Selain itu, studi ini hanya menunjukkan hubungan atau asosiasi, bukan bukti langsung bahwa aktivitas belajar pasti menyebabkan penurunan risiko demensia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *