Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan Gubernur Lemhanas RI, Ace Hasan Syadzily mempertanyakan mengapa dirinya tidak diserang meski Jakarta tengah dikepung banjir beberapa waktu lalu.
JAKARTA (LB)- Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung menyatakan upayanya dalam mencegah banjir tidak selalu mendapat respons positif dari semua pihak. Bahkan, ia menyebut ada kelompok tertentu yang justru menginginkan Jakarta kembali dilanda banjir. Pernyataan itu disampaikan Pramono di hadapan Gubernur Lemhannas RI, Ace Hasan Syadzily dalam acara penandatanganan kerja sama antara Lemhannas RI dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terkait peningkatan dan pengembangan ketahanan nasional Jakarta, Rabu (28/1).
“Pak Gubernur Lemhannas. Enggak semuanya orang itu senang bahwa Jakarta enggak banjir. Itu juga ada yang pengen Jakarta banjir,” ucap Pramono, Rabu.
Pramono menjelaskan, pernyataan tersebut disampaikannya sebagai respons atas candaan Ace Hasan Syadzily yang sebelumnya mempertanyakan mengapa dirinya tidak mendapat serangan kritik meski Jakarta sempat dilanda banjir dalam beberapa waktu terakhir.
“Tadi di ruang tunggu, Pak Gubernur Lemhannas bercanda sama saya. ‘Ini Jakarta banjir, kenapa kok Mas Pram enggak diserang gitu?’” kata dia.
Menurut Pramono, setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah daerah hampir selalu menimbulkan beragam respons di tengah masyarakat. Ada pihak yang mendukung, namun tidak sedikit pula yang menyampaikan kritik. “Saya bilang, apa yang saya lakukan tentunya ada yang senang, ada yang enggak senang,” ucap Pramono.
Ia mengakui, sejumlah kebijakan Pemprov DKI Jakarta memang menuai pro dan kontra, salah satunya pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan untuk menekan potensi banjir akibat cuaca ekstrem.
“Termasuk modifikasi cuaca, Pak Gubernur Lemhannas. Enggak semuanya orang itu senang bahwa Jakarta enggak banjir. Itu juga ada yang pengen Jakarta banjir,” kata dia.
Meski demikian, Pramono menegaskan bahwa kebijakan OMC dilakukan semata-mata demi kepentingan masyarakat luas. Ia menilai kritik terhadap kebijakan tersebut merupakan bagian dari dinamika dalam pengambilan kebijakan publik.
“Modifikasi cuaca yang kami jalankan dikritik, enggak apa-apa. Tetapi kan yang saya lakukan ini adalah untuk kepentingan masyarakat, kepentingan publik,” kata dia.
Untuk diketahui, dalam menghadapi cuaca ekstrem yang belakangan ini terjadi, Pramono memilih mengandalkan OMC sebagai salah satu langkah mitigasi banjir.
Awalnya, pelaksanaan OMC dijadwalkan berakhir pada 23 Januari 2026. Namun, melihat perkembangan cuaca yang masih tergolong ekstrem, pelaksanaannya diperpanjang hingga 27 Januari 2026. Kini, Pramono kembali meminta agar OMC dilanjutkan hingga 1 Februari 2026. OMC terus digencarkan untuk mencegah potensi banjir akibat hujan dengan intensitas tinggi. “Untuk OMC, sekali lagi kami melihat cuaca yang ada. Hasil BMKG memang sekarang ini ada kemungkinan sampai dengan tanggal 1 Februari cuacanya kurang lebih harus dilakukan OMC,” kata Pramono di kawasan Jakarta Utara, Selasa (28/1). *
