Kebaktian dan Pelantikan dipimpin oleh Ws. Sunarta diikuti oleh seluruh umat.
BOGOR (LB)—Pengurus MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Rumpin periode 2025 – 2029 resmi dilantik pada Minggu (3/1/2026) lalu di Litang MAKIN Rumpin Jl. Kp. Nordin RT.04/01, Ds. Sukamulya, Kec. Rumpin, Kab. Bogor.
Diawali dengan kebaktian yang dipimpin oleh umat, Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo didampingi Ws. Sunarta Hidayat – Sekretaris Bidang Kerohanian, Dq. Hendri Ayung Tjoe – Wakil Sekretaris Bidang Organisasi, Ws. Gunadi – Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat dan Js. Irianto Suardy – Ketua MATAKIN Kabupaten Bogor hadir dalam Kebaktian dan Pelantikan Pengurus MAKIN Rumpin.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan Pengesahan Pengurus MAKIN Rumpin oleh Wakil Sekretaris Bidang Organisasi MATAKIN Dq. Hendri Ayung Tjoe, dilanjutkan dengan pembacaan doa dan pengucapan sumpah jabatan yang dipimpin oleh Sekretaris Bidang Kerohanian – Ws. Sunarta Hidayat yang diikuti oleh segenap Pengurus yang dilantik.
Setelah para pengurus mengucapkan sumpah jabatan, acara dilanjutkan penandatanganan Berita Acara Pelantikan yang disaksikan oleh Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat – Ws. Gunadi dan Ketua MATAKIN Kabupaten Bogor – Js. Irianto Suardy. Kemudian dilanjutkan penyerahan Surat Keputusan Dewan Rohaniwan/Pengurus Pusat MATAKIN dari Ketua Umum MATAKIN – Xs. Budi S. Tanuwibowo kepada Ketua MAKIN Rumpin 2025-2029, Dq. Acan.
Pada saat Jiang Dao sekaligus sambutan oleh Ketua Umum MATAKIN – Xs. Budi S. Tanuwibowo, mengambil kutipan ayat Mengzi Jilid II A : 7 ; 2-5 Mengzi berkata “Seorang pembuat anak panah itu sukar dikatakan ia kalah sifat Cinta Kasihnya daripada seorang pembuat pakaian perang.

Seorang pembuat anak panah selalu khawatir kalau hasil pekerjaannya tidak dapat melukai orang. Sebaliknya seorang pembuat pakaian perang selalu khawatir kalau pemakainya sampai terluka.
Begitu pula pekerjaan antara seorang tabib dan pembuat peti mati. Maka dalam memilih pekerjaan janganlah tidak berhati – hati.
2. “Khongcu bersabda. “Bertempat tinggal dekat tempat kediaman orang yang berperi Cinta Kasih, itulah sebaik-baiknya. Bila tidak mau memilih tempat yang disuasanai Cinta Kasih itu, bagaimana ia memperoleh Kebijaksanaan?” Sesungguhnya Cinta Kasih itu ialah anugerah Tian yang sangat mulia, karena orang tidak dapat menghalangi kita berbuat Demikian, bilamana kita tidak berperi Cinta Kasih, itu tidak bijaksana.
3. “Orang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak Bijaksana, tidak Susila, dan tidak berlaku benar ; Ia tidak lebih ialah seorang budak. Kalau seorang budak malu diperbudak ialah seperti pembuat busur malu membuat busur atau pembuat anak panah malu membuat anak panah.
4. “Kalau benar – benar merasa malu, hendaklah berusaha hidup berperi Cinta Kasih.”
5. “Cinta Kasih itu seperti laku orang memanah. Pemanah itu lebih dahulu meluruskan diri baharu membidik, bila bidikannya tidak tepat pada sasarannya, ia tidak menyesali lawan yang mengalahkan dirinya ; melainkan mencari kekurangan pada diri sendiri”.

Dalam Jiangdao tersebut Xs. Budi Memberikan pesan khususnya kepada Ketua dan Pengurus MAKIN Rumpin yang baru saja dilantik “Sebuah perenungan mendalam tentang pekerjaan dan niat di baliknya. Seorang pembuat anak panah dan pembuat pakaian perang, meskipun sama-sama bekerja untuk peperangan, memiliki kecemasan yang berbeda: yang satu khawatir panahnya tidak melukai, yang lain khawatir pemakainya terluka. Dari sini Mengzi mengingatkan, bahwa niat batin seseorang sangat menentukan nilai moral dari pekerjaannya. Jabatan tidak boleh dijadikan alasan untuk tindakan / pekerjaan yang hanya menguntungkan diri sendiri atau berdampak merugikan masyarakat, jabatan tidak hanya sebagai tanggung jawab di pundak, lebih dari itu – jabatan adalah sebuah karya pengabdian yang setulus-tulusnya.”, tuturnya.
Lebih lanjut, dipaparkan Xs. Budi bahwa orang yang tidak berperi Cinta Kasih, tidak bijaksana, tidak susila, dan tidak berlaku benar, hakikatnya telah dirinya sendiri mempunyai mentalitas budak yang sejatinya jauh lebih rendah nilainya dari budak itu sendiri. Orang menjadi budak bisa karena terpaksa. Tapi orang yang mempunyai mentalitas budak adalah kesadaran atau kemauannya sendiri. Ini menjadi peringatan keras bagi pemimpin: kekuasaan tanpa Cinta Kasih justru merendahkan martabat diri sendiri. Rasa malu bukanlah aib, melainkan tanda kesadaran moral. Maka, bila seorang pemimpin merasa malu atas kekurangan dan kesalahannya, itulah awal dari perbaikan diri.
Mengakhiri Jiang Dao nya, Xs. Budi mengucapkan selamat bekerja kepada Ketua dan Pengurus MAKIN Rumpin periode 2025 – 2029 yang baru dilantik. “Atas nama pribadi dan MATAKIN saya mengucapkan selamat bekerja kepada pengurus MAKIN Rumpin yang baru, dan saya mengucapkan terima kasih kepada pengurus yang lama atas dedikasi dan pengabdiannya. Semoga Pengurus yang baru dapat terus mengembangkan MAKIN Rumpin dan amanat dalam menjalankan tugas” Ucap Xs. Budi. **
