Pameran Kaligrafi, Seni Lukis, dan Fotografi Memperingati 75 Tahun Hubungan Diplomatik Tiongkok – Indonesia, 70 Tahun KAA dan 620 Tahun Perjalanan Pertama Laksamana Cheng Ho ke Barat

Prosesi gunting pita pembukaan.

JAKARTA (LB)—Pameran Kaligrafi, Seni Lukis, dan Fotografi untuk Memperingati 75 Tahun Hubungan Diplomatik Tiongkok – Indonesia, 70 Tahun KAA (Konferensi Asia Afrika), dan 620 Tahun Perjalanan Pertama Laksamana Cheng Ho ke Barat bertajuk “Setinggi – tingginya Gunung dan Sepanjang – panjangnya Sungai, Suka dan Duka Dilewati Bersama” yang diselenggarakan oleh Indonesia Caligraphy and Painting Institute dan Confucius Institute – PBM UAI (Pusat Bahasa Mandarin Universitas Al Azhar Indonesia) di Gedung Sinde Budi Sentosa, Landmark Pluit, Tower E1, Jln Pluit Selatan Raya, Jakarta Utara, pada Sabtu (9/8/2025) resmi dibuka.

Hu Sudan menjelaskan karya seni kaligrafi ke Wamen Giring Ganesha.

          Peresmian ditandai dengan pengguntingan pita oleh Wamen (Wakil Menteri) Kebudayaan RI Giring Ganesha bersama Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia Wang Lutong, Ketua Indonesia Caligraphy and Painting Institute Hu Sudan, Budi Yuwono, Jony Yuwono, Rektor Al Azhar Indonesia Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, M.Sc, dan perwakilan seniman kaligrafi dari Tiongkok.

          Dalam kata sambutannya, Wamen Kebudayaan RI Giring Ganesha mengatakan bahwa dalam momen ini kita tidak hanya merayakan 75 tahun hubungan diplomatik antara Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga mengenang sejarah hubungan kita yang jauh lebih panjang.

Wamen Giring Ganesha dan Dubes Wang Lutong melihat karya seni kaligrafi.

Ratusan tahun Indonesia dan Tiongkok telah memiliki hubungan yang kuat yaitu perdagangan rempah-rempah, perjalanan maritim, pertukaran budaya, kepercayaan, bahasa, dan bahkan teknologi. Karena itu, Budaya Tionghoa memang telah mempengaruhi Budaya Indonesia,” jelas Wamen.

Lebih lanjut Wamen menyampaikan pada momen ini  kita juga berkumpul untuk mengenang peristiwa bersejarah yang menyatukan dua peradaban besar, Tiongkok dan Nusantara.

Hu Sudan berfoto bersama seniman kaligrafi dari Tiongkok.

Peristiwa itu adalah pelayaran Laksamana Cheng Ho pada tahun 1405, yang bukan hanya seorang pelaut. Ia juga seorang diplomat, penjelajah, dan duta budaya. Kita juga memperingati 70 tahun Konferensi Asia-Afrika di Bandung, di mana Indonesia, Tiongkok, dan banyak negara Asia dan Afrika lainnya mendeklarasikan komitmen mereka untuk bebas dari kolonialisme.

Menurut Wamen Giring, acara budaya ini sangat penting dan berharga.

“Saya percaya bahwa dalam hubungan internasional, budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan kita, membangun saling pengertian, dan menciptakan hubungan yang kuat. Dengan semangat ini, saya yakin acara hari ini mempererat hubungan kita. Dan saya juga berharap persahabatan antara Indonesia dan Tiongkok akan terus tumbuh, lebih harmonis, lebih kuat, dan lebih indah,” ujarnya.

KI-KA: Wamen Giring Ganesha, Liliawati Rahardjo dan Hu Sudan.

Dubes Wang Lutong dalam kata sambutannya mengatakan dirinya merasa bahagia bisa menghadiri peresmian Pameran Kaligrafi, Lukisan, dan Fotografi Tiongkok-Indonesia ini.

Dia juga menyampaikan apresiasi kepada PT. Sinde Budi Sentosa, Indonesia Caligraphy and Painting Institute dan Confucius Institute – PBM UAI yang telah lama memupuk pertukaran budaya antara kedua Tiongkok dan Indonesia.

Dia mengatakan Tiongkok dan Indonesia, dua negara besar di Asia dengan sejarah panjang dan peradaban gemilang, berbagi warisan persahabatan yang luas dan mendalam.

Lebih dari enam abad yang lalu, Laksamana Cheng Ho memimpin armadanya dalam tujuh pelayaran ke samudra barat, mengunjungi kepulauan Indonesia beberapa kali.

Ekspedisinya menyampaikan cita-cita damai dan persahabatan tulus peradaban Tiongkok, meninggalkan kisah-kisah abadi tentang niat baik dengan rakyat Indonesia.

Interaksi bersejarah ini meletakkan dasar sejarah bagi pertukaran budaya antara kedua negara kita dan mengawali babak baru apresiasi peradaban bersama serta ikatan antarmasyarakat yang langgeng.

Demo seni kaligrafi.

Presiden Xi Jinping mengusulkan untuk bersama-sama membangun “Jalur Sutra Maritim Abad ke-21” di Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, rasa saling percaya strategis antara kedua negara kita telah ditingkatkan, kerja sama bilateral terus berkembang, dan kerja sama politik, ekonomi, budaya, maritim, dan keamanan semakin erat.

Persahabatan antara kedua bangsa semakin erat melalui pembelajaran bersama, yang menyuntikkan kekuatan bagi perdamaian dan pembangunan regional dan global.

Dubes Wang Lutong lebih lanjut menyampaikan Tiongkok dan Indonesia telah mencapai hasil yang bermanfaat dalam kerja sama di berbagai bidang.

Hubungan bilateral kita berada pada titik terbaiknya sepanjang sejarah. Hubungan persahabatan kita dapat digambarkan sebagai “gunung tinggi dan sungai panjang, suka dan duka bersama”. Tahun 2025 menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik Tiongkok-Indonesia, peringatan 70 tahun Konferensi Bandung, dan peringatan 620 tahun pelayaran perdana Zheng He ke Samudra Barat.

Ketiga momen penting dalam sejarah ini bertemu dalam resonansi, tidak hanya menjadi saksi persahabatan abadi antara bangsa kita, tetapi juga melambangkan ikatan mendalam bangsa kita.

          Rektor Al Azhar Indonesia Prof. Dr. Ir. Asep Saefuddin, dalam kata sambutannya juga mengatakan bahwa pameran ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 70 tahun Konferensi Asia Afrika di Bandung dan 620 tahun perjalanan pertama Laksamana Cheng Ho ke Barat.

Para pengunjung menikmati karya seni kaligrafi yang dipamerkan.

Dua peristiwa bersejarah yang menegaskan betapa dalamnya akar hubungan antara Indonesia dan Tiongkok.

Prof. Asep Saefuddin menambahkan, pameran ini bukan sekadar menampilkan karya yang indah secara visual. Kaligrafi mengajarkan kita kesabaran dan ketelitian, lukisan mengekspresikan pandangan hidup dan emosi, sedangkan fotografi mengabadikan momen-momen berharga yang menjadi saksi sejarah.

Melalui karya-karya ini, kita saling mengenal, saling memahami, dan saling mengapresiasi. Inilah wujud nyata diplomasi budaya yang memperkuat persahabatan antarbangsa.

          Dia berharap pameran kaligrafi, seni lukis, dan fotografi ini bisa menghadirkan inspirasi, memperluas wawasan, serta menguatkan tali persahabatan yang telah dibangun selama puluhan tahun antara Indonesia dan Tiongkok.

          Ketua Indonesia Caligraphy and Painting Institute Hu Sudan yang juga menyampaikan kata sambutan menyampaikan pameran ini bukan hanya bukti persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia, tetapi juga merupakan dialog budaya yang melampaui batas waktu dan ruang, menghubungkan hati masyarakat Tiongkok dan Indonesia melalui seni.

Para pengunjung menikmati karya seni kaligrafi yang dipamerkan.

Pameran ini, yang menggunakan kaligrafi dan lukisan sebagai medium, dengan gamblang menampilkan keindahan perpaduan budaya Tiongkok dan Indonesia.

          Menurutnya setiap karya kaligrafi dan lukisan merupakan penghormatan terhadap budaya tradisional dan visi untuk masa depan. Upaya ini tidak hanya memupuk kerja sama yang mendalam antara kedua negara di bidang budaya dan seni, tetapi juga secara diam-diam memperkuat ikatan antara kedua bangsa, menyuntikkan momentum humanis untuk membangun “Komunitas Tiongkok-Indonesia dengan Masa Depan Bersama” yang lebih erat.

          Saat ini, Indonesia masih menghadapi tantangan yang signifikan dalam melestarikan kaligrafi. Namun, sungguh menggembirakan melihat, melalui pameran ini, semakin banyak anak muda Indonesia yang mengekspresikan kecintaan mereka terhadap kaligrafi dan budaya tradisional melalui karya seni mereka.

“Kami berharap melalui acara ini, lebih banyak anak muda Indonesia yang jatuh cinta pada kaligrafi, berani bereksperimen, dan mengabdikan diri untuk belajar, sehingga khazanah budaya ini dapat bersinar terang di Indonesia. Pameran ini bukan hanya sebuah pameran seni tetapi juga sebuah kesempatan untuk melestarikan warisan budaya, dan tentunya akan memberikan dampak yang mendalam bagi kaligrafi dan warisan budaya Indonesia,” ujarnya.

          Prosesi pembukaan pameran dihadiri oleh Atase Budaya Kedubes Tiongkok Wang Siping, para budayawan, seniman, akademisi, serta pengusaha, tokoh dan pimpinan organisasi antara lain Didi Dawis dan isteri, Liliawati Rahardjo, Sugeng Prananto, Djoko Susanto, Rudy Setiawan dan isteri, Haris Chandra, Sarpin Lie, Suryadi, Nancy Wijaya, Sopyan Wijaya dan lain-lain. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *