LONDON – Drama lima gol tercipta saat Arsenal menjamu Manchester United (MU) dalam lanjutan Liga Inggris di Emirates Stadium, Minggu (25/1) malam WIB. Setan Merah menang dengan skor 3-2.
Di laga itu, Arsenal unggul lebih dulu akibat gol bunuh diri Lisandro Martinez pada menit ke-29. MU bisa menyamakan kedudukan 1-1 lewat gol Bryan Mbuemo di menit ke-37.
Setan Merah comeback selepas jeda usai Patrick Dorgu mencatatkan namanya di papan skor di menit ke-50. Arsenal sempat menyamakan kedudukan dari torehan Mikel Merino di menit ke-84. Matheus Cunha memastikan kemenangan MU tiga menit berselang dengan gol indahnya.
Kemenangan ini membawa MU ke posisi keempat dengan 38 poin. Arsenal tetap di puncak dengan 50 angka terpaut empat poin dari Manchester City di urutan kedua.
Polesan Michael Carrick sudah menghabisi dua tim kuat, Manchester City dan Arsenal. MU-nya Carrick sudah mematahkan perkiraan. Tapi perlu diingat bahwa mereka baru di tahap awal, Carrick pun percaya timnya bisa jauh lebih baik ke depannya.
“Hari yang bagus. Saya rasa kami harus mengerahkan banyak hal ke laga ini, sangat banyak. Kredit untuk pemain, saya sangat bangga terhadap mereka. Kami harus menahan sejumlah serangan, terutama di awal, dan kami tumbuh di pertandingan. Kami mengalami kemunduran, bangkit dengan kuat, alami kemunduran lagi menuju akhir, lalu bangkit lagi,” kata Carrick kepada BBC.
Ia menyampaikan, timnya mengambil banyak hal positif dari dua laga yang sudah dijalaninya. “Kami masih sangat baru, mau itu setelah 10 hari atau dua pertandingan, tidak akan pernah sempurna pada tahap ini, terutama saat melawan tim seperti Arsenal. Tetapi ada sangat banyak hal positif yang bisa diambil dan kami akan terus menambahkannya di hari-hari dan minggu-minggu yang akan datang,” tuturnya.
Opta mencatat ini jadi pertama kalinya Meriam London kemasukan tiga gol atau lebih sejak Desember 2023 silam, kala itu oleh Luton Town. Tiga gol MU mengakhiri rentetan 121 laga tanpa kebobolan lebih dari dua kali.
Sementara buat MU, ini adalah pertama kalinya menang tiga gol atau lebih saat tandang ke pemuncak klasemen Premier League. Terakhir kali, mereka melakukannya bersama Jose Mourinho kala menang 3-2 atas Manchester City pada April 2018.
“Menurut saya, kami menunjukkan karakter dan kekuatan di tim ini. Kami tahu apa yang diharapkan dari lawatan ke sini (Emirates). Bagi saya Asenal merupakan tim terbaik di dunia saat ini, jujur saja. Mereka bermain di bawah Mikel (Arteta) sekian lama, tahu setiap taktiknya, tahu setiap hal yang dia rasakan. Jadi kami sejak awal tahu betapa sulitnya bermain di sini, tapi kami adalah United dan semua upaya yang kami kerahkan adalah untuk menang,” ujar gelandang MU Matheus Cunha kepada BBC.
Sementara Mikel Arteta menilai Manchester United mengalahkan timnya dengan gol-gol ajaib. Kekalahan dengan cara ini terasa menyakitkan untuk The Gunners yang mendominasi laga.
“Pertama-tama, kami harus mengucapkan selamat kepada Manchester United atas kemenangan ini. Kemenangan ini terjadi dengan cara yang sangat aneh. Kami benar-benar mendominasi dalam 30 menit pertama dan mencetak gol. Kami lalu memberi mereka gol dan itu mengubah momentum dan energi kami. Setelah itu, kami menurunkan standar permainan kami, kemudian mereka memiliki dua momen ajaib dengan gol-gol yang mereka cetak dan dalam pertandingan besar, Anda membutuhkan momen-momen seperti itu,” kata Arteta dikutip dari BBC.
Di laga itu, Arsenal mampu tampil dominan dengan mencatatkan 57 persen penguasaan bola dibanding 43 persen milik MU. The Gunners juga lebih banyak melepas ancaman dengan 15 tembakan lebih banyak dari tim tamu yang bikin 10 percobaan.
“Kekalahan adalah bagian dari sepak bola, tetapi itu sangat tidak mencerminkan kami. Kami memberi mereka gol dan harapan, dan itu mengubah energi pertandingan. Sejak momen itu hingga turun minum, kami benar-benar kesulitan, terutama dalam menjaga penguasaan bola di area yang tepat setelah merebutnya kembali,” ujar Arteta dikutip dari laman resmi Arsenal.
Arteta juga menilai skuadnya kehilangan dominasi yang membuat permainan menjadi lebih terbuka. “Mereka (MU) mencetak dua gol brilian dari kualitas individu yang luar biasa. Itu contoh momen magis di laga besar,” kata juru taktik asal Spanyol itu.
Viktor Gyokeres gagal mencetak gol di laga itu. Ia awalnya diharapkan bisa jadi solusi untuk lini serang. Tapi sejauh ini, performa Gyokeres malah tidak pernah beres. Sejak September, Gyokeres baru bikin dua gol di Premier League.
Bahkan dari 11 laga terakhir di liga, Gyokeres belum sekalipun bikin gol dari permainan terbuka. Padahal di ajang lainnya, Gyokeres bisa bikin masing-masing satu gol open play, yakni di Liga Champions lawan Inter dan di Carabao Cup lawan Chelsea.***
