Kepala Dinas Perhubungan Kota Bandung, Rasdian Setiadi.
BANDUNG (LB)- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tengah menyiapkan sejumlah strategi jangka pendek, hingga panjang untuk mengatasi kemacetan. Termasuk penerapan angkot pintar, subsidi bahan bakar sampai rencana pembangunan monorail yang terintegrasi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Rasdian Setiadi mengatakan, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya memperbaiki reliabilitas transportasi publik selama periode 2025 hingga 2029.
“Jangka pendeknya kita tetap gunakan angkot yang ada sekarang, tapi ke depan akan ada BRT dan enam rute baru. Untuk rute baru ini, pemerintah akan memberikan subsidi BBM,” kata Rasdian Setiadi pada Senin (11/8).
Selain subsidi, pihaknya juga akan mulai menerapkan sistem pembayaran non-tunai (cashless) untuk angkot dan melakukan kajian terhadap konsep angkot pintar. Kajian tersebut, dianggarkan dan akan melibatkan berbagai pemangku kepentingan termasuk sopir angkot dan pakar transportasi.
“Ini sesuai arahan pak wali dan pak sekda. Kita akan mulai di perubahan anggaran 2025 karena ini perlu segera dikaji,” ucapnya.
Untuk jangka menengah, pihaknya menargetkan terealisasinya konsep angkot pintar yang lebih ramah lingkungan. Salah satunya dengan mempertimbangkan kendaraan listrik sebagai pengganti angkot berbahan bakar fosil. Hal ini, dilakukan sebagai bagian dari target pengurangan emisi CO2 di kawasan perkotaan.
Sementara untuk jangka panjang, Rasdian mengusulkan pembangunan transportasi berbasis rel termasuk monorail yang akan menghubungkan sejumlah kawasan strategis dari pusat kota hingga daerah perbatasan.
“Sudah ada rencana jalur dari stasiun ke Sarijadi sampai Parongpong. Jadi nanti lintas daerah. Kita sesuaikan dengan tata ruang dari Kementerian PUPR dan Kementerian Perhubungan. Harapannya sebelum 2027 sudah bisa direalisasikan,” ujar dia.
Pihaknya juga tengah mendorong pengajuan ke Kementerian PUPR, terkait penanganan perlintasan sebidang kereta api yang kerap memicu kemacetan parah di beberapa titik seperti Ciroyom, Braga, Jalan Merdeka, Laswi hingga Gedebage. “Volume kereta cukup tinggi dari timur ke barat. Ini harus kita atasi karena memang jadi bottleneck. Surat juga sudah kita siapkan ke PUPR dan kementerian terkait,” tandasnya. *
