JAKARTA (LB)—Sebuah inspiratif turut hadir pada perhelatan Wisuda ke-56 Tahun Akademik 2024/2025 Institut Pariwisata Trisakti (IP Trisakti). Di tengah momen euphoria wisudawan yang dikukuhkan pada Wisuda ke-56 IP Trisakti, Rabu (8/10/2025) lalu, terdapat seorang wisudawan penyandang difabel yang berhasil menyelesaikan studinya.
Terlahir dengan kondisi kurang dengar (low of hearing), Timotius Christian Onggowasito atau yang biasa dipanggil Timo membuktikan tekad kuatnya untuk menempuh pendidikan setinggi mungkin. Wisudawan yang berasal dari Program Studi Sarjana Terapan Pengelolaan Perhotelan IP Trisakti ini berhasil lulus dengan raihan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 3,78.
Menempuh pendidikan tinggi merupakan tekad Timo sejak ia lulus dari SLB (Sekolah Luar Biasa) Pangudi Luhur Jakarta Barat.

“Saat Timo lulus dari SLB Pangudi Luhur, saya tanya kepada dia, setelah lulus mau buka usaha atau kuliah. Timo langsung jawab mau kuliah. Karena dia sekolahnya jurusan tata boga, saya cari kampus yang ada jurusan tata boga dan saya datang ke IP Trisakti yang waktu itu masih bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti. Saat mendaftar saya sampaikan kalua anak saya ada keterbatasan tuna rungu, tidak saya sangka ternyata kampus Trisakti welcome sekali, bahkan Timo ditawari untuk ikut program beasiswa dengan syarat di tes terlebih dahulu. Setelah mengikuti tes, anak saya Timo lulus dan memperoleh beasiswa 50 persen,” turut Ir Markus W. Onggowasito, ayah dari Timo ditemui LinkBisnis bersama Timotius Christian Onggowasito di Kampus IP Trisakti, Bintaro, Jakarta Selatan pada Senin (27/10/2025).
Program beasiswa 50 persen tersebut diperoleh Timo hanya berlaku satu semester. Dan untuk mendapatkan beasiswa di semester selanjutnya harus dengan IPK minimal 3,5. “Saya bersyukur, ternyata Timo berhasil mendapatkan beasiswa itu sampai dia lulus kuliah, bahkan waktu diwisuda IPK nya 3,78. Jadi beasiswa 50 persen itu berlaku dari awal sampai Timo lulus kuliah,” ujar Markus dengan penuh bangga.
Menurutnya Timo di lingkungan kampusnya tidak merasa minder, dia sudah menjadi bagian keluarga IP Trisakti. Timo pun, turut Markus, suka bercerita kalau dia senang menjalani kuliahnya. Bahkan, kalau libur dia malah kepinginnya masuk kuliah. Karena dia ambil jurusan terapan yang 70 persen praktek dan 30 persen teori. Timo senang menjalankan kuliah praktek.

“Saya terima kasih sekali kepada IP Trisakti, Selama kuliah itu tidak ada diskriminasi. Timo diperlakukan sama dengan mahasiswa lainnya. ini membuat saya nyaman,”ucapnya.
Hal yang sama diceritakan Dr. Robiatul Adawiyah, SST.Par, M.Par., CHE, Kepala Program Studi Sarjana Terapan Penglolaan Perhotelan IP Trisakti. Menurutnya Timo meski ada keterbatasan, namun tidak menjadikannya kendala dalam menjalankan studinya. Dengan keterbatasannya itu, Timo sangat fokus dengan studinya.
“Timo ini saat kuliah sangat fokus dan cepat menyerap materi yang diajarkan oleh dosen-dosennya. Anaknya juga rajin dan proaktif. Tidak segan-segan dia bertanya kepada dosennya jika ada hal yang dia belum pahami. Kami pun para dosen juga dengan senang hati membimbingnya,” ujar Dr. Robiatul Adawiyah.
Robiatul mengatakan, dosen-dosen IP Trisakti memang tidak membedak-bedakan antara mahasiswa disabilitas dengan mahasiswa normal. Mereka diperlakukan sama.
Tak sekedar mengikuti perkualiahan, Timo juga aktif mengikuti lomba dan meraih prestasi sebagai Juara 2 Pastry & Baking Challenge, Dress The Cake Inclusive Challenge, Food Hotel Indonesia (FHI), di JIExpo Kemayoran, Jakarta pada 28 Juli 2022. Sebuah prestasi yang membawa harum nama Kampus IP Trisakti.

Robiatul berharap Timo kedepannya terus mengasah ilmunya lebih dalam lagi. Dan jika perlu menempuh studinya lebih tinggi lagi yaitu S2.
Menurutnya Timo bukan mahasiswa disabilitas pertama yang kuliah di IP Trisakti. Tidak sedikit mahasiswa penyandang disabilitas yang sudah menempuh pendidikannya di perguruan tinggi ini. “Kami sangat welcome bagi mereka penyandang disabilitas yang ingin kuliah di IP Trisakti,” ucap Robiatul.
Timo yang sudah resmi menyandang gelar sarjana terapan berkesempatan untuk menjadi pekerja harian di The Westin Jakarta, sebuah hotel bintang 5 yang berlokasi di puncak Gama Tower, Jalan HR Rasuna Said Kav. C-22A, Kuningan, Jakarta Selatan.
Ayah Timo, Markus, mengatakan, setelah mendapatkan banyak pengalaman Timo bisa mewujudkan cita-citanya untuk membuka usaha seperti kafe dengan menggandeng teman-temannya sesama disabilitas agar mereka bisa dihormati dan punya kesempatan.
Selain raih prestasi di akademik, Timo sebelumnya juga telah membuktikan bahwa keterbatasan tidak membuatnya untuk bisa meraih prestasi. Terbukti Timo meraih berbagai prestasi sebagai atlet renang.

Timo pernah menyabet Juara 1 100M gaya bebas Tuna rungu Kel – F3 Putra pada tahun 2018, Jakarta open para swimming championship di kolam renang Istana Gelora Bung Karno, renang Juara 1 50m gaya dada, juara 50m 1 gaya kupu-kupu, juara 3 50m gaya punggung, juara 2 100M gaya bebas, juara 2 100M gaya dada.
Markus berpesan agar para orang tua yang memiliki anak disabilitas untuk tidak berkecil hati. Perlakukan anaknya itu seperti anak normal dan selalu mendukung apa yang menjadi keinginannya. Mereka itu bukan tidak mampu hanya saja tidak diberi kesempatan.
Kesuksesan mereka membuktikan bahwa keterbatasan pendengaran bukanlah penghalang untuk berprestasi dan menginspirasi orang lain. **
