Perkumpulan Teo Chew Nusantara dan Perhimpunan Teo Chew Indonesia Menerima Kunjungan Delegasi Shenzhen Overseas Exchange Association

Penyerahan sumbangan dari asosiasi kepada Perkumpulan Teochew Nusantara dan Perhimpunan Teochew Indonesia.

JAKARTA (LB)—Perkumpulan Teo Chew Nusantara dan Perhimpunan Teo Chew Indonesia, menerima kunjungan dari delegasi Shenzhen Overseas Exchange Association, bertempat di Kantor Perkumpulan Teo Chew Nusantara-Perhimpunan Teo Chew Indonesia, Rukan Sentra Latumenten Blok C12-12A, Jl. Prof. Dr. Latumenten No. 50, Jakarta Jakarta, Selasa (7/7/2026) lalu.

Rombongan delegasi dari Shenzhen Overseas Exchange Association   tersebut dipimpin oleh  Mr. Liu Xin  didampingi  Mrs Lie Hongmei Wakil Presiden Shenzhen Overseas Exchange Association dan Wakil Presiden International Teochew Youth Federation.

Kedatangan delegasi disambut dengan hangat oleh Ketua Umum Teo Chew Nusantara Eka Tjandranegara, Ketua Pengurus Perhimpunan Teo Chew Indonesia, Janto Tjahjadin, Dewan Kehormatan Ali Suganda, Ketua Pembina Perhimpunan Teo Chew Indonesia, Roger Tjakradisurya,

Suasana saat dialog.

Pembina/Ketua Umum periode ke-7 Edi Yansah, Wakil Ketua Pengurus Teo Chew Indonesia Abraham Rudy, Sekretaris Jenderal, Hendro Luhur, Wakil Sekretaris Jendral Agustina dan serta jajaran pengurus lainnya.

Dalam kunjungan ini, kedua belah pihak mengadakan dialog mengenai berbagai topik, seperti mempererat persahabatan antarwarga, kerja sama ekonomi dan perdagangan, pelestarian warisan budaya, serta pendidikan bahasa Mandarin serta hubungan Kerjasama Tiongkok dan Indonesia.

Ketua Umum Perkumpulan Teo Chew Nusantara, Eka Tjandranegara,  mengucapkan selamat datang kepada Presiden Liu Xin beserta delegasi yang berkunjung, serta memaparkan sejarah perkembangan dan kegiatan operasional terkini Perkumpulan Teochew di Indonesia.

Ketua Umum Teochew Indonesia Janto Tjahjadin memberikan cinderamata kepada Liu Xin didampingi Mrs Hong, Eka Tjandranegara, Ali Suganda, Roger Tjakradisurya dan Edi Yansah.

“Perkumpulan didirikan tahun 2015, saat ini menghimpun 19 perkumpulan Teo Chew dari 17 kota di seluruh Indonesia,” kata Eka Tjandranegara seperti keterangan yang diterima, Kamis (9/7/2026)

Perkumpulan juga secara konsisten menjunjung misi untuk mempersatukan sesama warga perantauan, memupuk rasa kekeluargaan, serta melestarikan dan mempromosikan budaya tradisional luhur dari wilayah Chaoshan, Guangdong, Tiongkok, serta secara aktif memfasilitasi jejaring dan kerja sama di kalangan komunitas Teo Chew di Indonesia.

Lebih lanjut Eka Tjandranegara menyampaikan perkembangan perkumpulan Teo Chew di Indonesia, seraya mencatat keberhasilan federasi tersebut dalam menyelenggarakan Konvensi Internasional Teo Chew ke-19 pada tahun 2017.

Abraham Rudy, Lie Hong Mei, Eka Tjandranegara, Liu Xin, dan Edi Yansah.

Acara itu menarik partisipasi lebih dari 100 perkumpulan Teo Chew serta lebih dari 2.700 warga dan tamu komunitas Teo Chew dari seluruh dunia, yang sepenuhnya mencerminkan kekompakan komunitas Teo Chew Indonesia sekaligus semakin meningkatkan pengaruhnya dalam jaringan Teo Chew global.

Menurut Eka Tjandranegara,  Shenzhen merupakan  penggerak utama Kawasan Provinsi Guangdong-Hong Kong-Makau, senantiasa berada di garis depan dalam reformasi, keterbukaan, dan pembangunan yang didorong oleh inovasi.

 Asosiasi Pertukaran Luar Negeri Shenzhen juga telah lama berdedikasi untuk mempererat hubungan dengan komunitas Tionghoa perantauan, serta memberikan kontribusi positif dalam memupuk persahabatan antarwarga dan kerja sama praktis antara Tiongkok dan negara-negara lain.

Ketua Pembina Teo Chew Indonesia, Roger Tjakradisurya mengemukakan bahwa kemitraan strategis komprehensif antara Tiongkok dan Indonesia terus semakin mendalam, dengan pertukaran yang kian erat di bidang ekonomi, perdagangan, budaya, serta hubungan antarwarga, sehingga menciptakan peluang baru bagi perkembangan komunitas Tionghoa perantauan.

“Saya berharap,  kunjungan ini sebagai kesempatan untuk semakin memperdalam pertukaran dan memperluas kerja sama, bahu-membahu mempromosikan budaya tradisional Tiongkok yang luhur, serta memberikan kontribusi baru bagi kemajuan hubungan persahabatan antara Tiongkok dan Indonesia maupun pertukaran antar masyarakat kedua belah pihak,” kata Roger Tjakradisurya.

Lebih lanjut, Roger Tjakradisurya juga menyatakan bahwa berdirinya Asosiasi Teo Chew Indonesia dimungkinkan oleh pelonggaran kebijakan secara bertahap terkait budaya Tionghoa pasca-reformasi Indonesia, yang memungkinkan komunitas Tionghoa untuk kembali berkembang secara normal.

Mrs. Lie Hong Mei saat berbincang dengan Abraham Rudy.

Ia mengemukakan bahwa situasi sejarah dalam beberapa dekade terakhir telah menyebabkan banyak orang dari generasi muda kehilangan kesempatan untuk mempelajari bahasa Mandarin dan Teo Chew.

“Selain aktif dalam kegiatan amal dan filantropi, Perhimpunanni berencana untuk mempromosikan pelatihan bahasa Mandarin dan dialek Teo Chew. Dengan menyediakan wadah pembelajaran bagi generasi muda, asosiasi ini bertujuan untuk mendorong pelestarian budaya Tionghoa dan Teochew,” pungkas Roger.

Presiden Liu Xin menyatakan bahwa kunjungan ke Indonesia ini berfokus pada tiga bidang utama: kerja sama ekonomi dan perdagangan, pertukaran persahabatan, dan interaksi budaya. Ia berharap dapat semakin mempererat hubungan antara Shenzhen dan komunitas Tionghoa di Indonesia serta mendorong kerja sama praktis yang lebih luas di antara kedua belah pihak.

Roger Tjakradisurya didamping Eka Tjandranegara, Edi Yansah, Janto Tjahjadin, Hendro Luhur, Ali Suganda dan Abraham Rudy, menyerahkan cinderamata atas nama Perkumpulan Teocher Nusantara kepada ketua Delegasi Shenzen Liu Xin.

“Kami mengapresiasi Perhimpunan Teo Chew Indonesia dan Perkumpulan Teo Chew Nusantara atas kontribusi positif yang telah berlangsung lama dalam mempersatukan sesama anggota komunitas, melaksanakan kegiatan kesejahteraan masyarakat, serta membina pertukaran antar masyarakat yang bersahabat antara Tiongkok dan Indonesia”, kata Liu Xin

Liu Xin mengemukakan bahwa para leluhur dari wilayah wilayah Chaoshan merantau ke Asia Tenggara dan membangun usaha berkat kerja keras yang luar biasa, yang mencerminkan “semangat Red-Headed Junk” sebuah karakter yang ditandai oleh keberanian, kegigihan, serta semangat kepeloporan dan inovasi.

“Semangat ini sangat selaras dengan etos inovasi dan kewirausahaan,  yang telah mengakar kuat di Shenzhen sejak dimulainya kebijakan Reformasi dan Keterbukaan, “katanya.

Ia mencatat, bahwa sebagai kota garda depan dalam kebijakan reformasi dan keterbukaan Tiongkok, Shenzhen telah mengalami perkembangan pesat selama lebih dari empat dekade dan muncul sebagai salah satu kota paling inovatif dan dinamis,   menempati posisi terdepan secara nasional dalam hal jumlah entitas pasar, manufaktur maju, dan perdagangan luar negeri.

                Shenzhen telah lama berperan sebagai jembatan yang menghubungkan para warga perantauan serta secara aktif mendorong pertukaran budaya dan pendidikan.

Foto bersama Delegasi dan Eka Tjandranegara, Ali Suganda, Edi Yansah, Roger Tjakradisurya, Janto Tjahjadin, Abraham Rudy, dan Hendro Luhur.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, delegasi tersebut mengunjungi Sekolah Trilingual Bajiang dan menyumbangkan buku-buku berbahasa Mandarin, dengan harapan dapat membantu generasi muda keturunan Tionghoa untuk lebih mengenal budaya Tionghoa melalui pertukaran pendidikan.

Li Hongmei, Wakil Presiden Shenzhen Overseas Exchange Association dan Wakil Presiden International Teochew Youth Federation, menyumbangkan dana sebesar RMB 400.000 (atau nilai setara) kepada Indonesian Teochew Association atas nama Shenzhen Overseas Chinese Public Welfare Foundation, Hongmei Cultural Heritage Fund, dan Xuyu Optoelectronics (Shenzhen) Co., Ltd.

Sumbangan ini ditujukan untuk “Proyek Peningkatan Pencahayaan Ruang Kelas ‘Peduli Pendidikan’ bagi Masyarakat Tionghoa Perantauan Shenzhen,” yang bertujuan memperbaiki pencahayaan ruang kelas di sekolah-sekolah Tionghoa di Indonesia serta menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat dan nyaman bagi para siswa, sekaligus menunjukkan dukungan nyata terhadap pengembangan pendidikan bahasa Tionghoa di luar negeri. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *