Kawasan Dipatiukur hingga sejumlah ruas jalan di sekitarnya di Kota Bandung, akan ditata ulang pemerintah kota.
BANDUNG (LB)- Kawasan Dipatiukur hingga sejumlah ruas jalan di sekitarnya di Kota Bandung, akan ditata ulang pemerintah kota.
Rencana itu, mencuat seiring penilaian sejumlah titik di kawasan tersebut sudah mengalami penurunan kualitas tata ruang dan dinilai kurang tertata.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan mengatakan, penataan merupakan bagian dari upaya penyesuaian tata ruang kota yang mengikuti perkembangan kawasan. Perubahan di suatu wilayah, harus direspons dengan desain tata ruang yang selaras dan terintegrasi.
“Pak gubernur sudah memanggil kita semua untuk bersama-sama memikirkan apa yang bisa kita lakukan bersama, juga untuk wilayah Monumen Perjuangan Rakyat Jawa Barat (Monju). Itu jadi bagian yang terintegrasi dari utara sampai selatan,” kata Farhan, Rabu (29/4).
Dia menjelaskan, selain kawasan Monju. Pemerintah juga mulai memikirkan penataan kawasan lain yang memiliki keterkaitan dalam struktur kota termasuk koridor Dipatiukur dan sekitarnya.
Farhan menyebut, sepanjang kawasan Dipatiukur hingga beberapa ruas lain seperti Teuku Umar, Hasanuddin dan Bagusrangin akan masuk dalam rencana penataan ulang. Kawasan tersebut, membutuhkan perbaikan agar lebih tertata.
“Dipatiukur, Teuku Umar, Hasanuddin, Bagusrangin dan lain-lain itu akan dilakukan penataan juga,” ucapnya.
Meski demikian, dia menegaskan setiap rencana pengembangan kota tidak bisa dilakukan secara langsung tanpa kajian. Semua usulan, harus melalui proses evaluasi sesuai aturan tata ruang dan mempertimbangkan aspek budaya serta karakter wilayah.
Terkait berbagai gagasan pengembangan kawasan, termasuk usulan pembangunan skywalk di sekitar Monju. Farhan menyebut, hal tersebut masih berada pada tahap awal pembahasan. “Itu ide-ide kreatif, masih dijajaki. Karena secara tata ruang juga belum dikaji,” ujar dia.
Dia menambahkan, pemerintah kota telah mendiskusikan berbagai kemungkinan pengembangan kawasan namun belum ada keputusan final. Semua opsi masih harus diuji secara teknis dan regulatif.
Menurutnya, pendekatan pemerintah kota dalam menyikapi perubahan kawasan tidak bersifat hitam putih. Setiap rencana, harus melalui proses penyesuaian agar tidak bertentangan dengan arah pembangunan kota secara keseluruhan.
“Kota Bandung meresponsnya bukan sekadar iya atau enggak, tetapi merespons dengan saling menyesuaikan,” ujar dia.
Farhan menegaskan, perubahan tata ruang harus mengikuti dinamika perkembangan kota. Desain kawasan ke depan, harus dibuat saling terhubung dan memiliki kesesuaian dengan arah pembangunan yang lebih luas.
“Ketika terjadi perubahan, maka tata ruangnya pun harus mengikuti perubahan. Sebuah desain yang senafas dengan desain tersebut,” ucapnya.
Wacana penataan ulang kawasan Dipatiukur hingga sejumlah ruas jalan di sekitarnya, mendapat beragam tanggapan dari warga. Sebagian warga menilai, rencana tersebut sudah tepat untuk memperbaiki kondisi lingkungan yang dinilai mulai kurang tertata.
Sejumlah warga yang beraktivitas di sekitar Jalan Dipatiukur mengaku, kondisi kawasan tersebut memang perlu pembenahan. Terutama terkait kepadatan lalu lintas, dan penataan ruang publik.
“Sebenarnya sudah lama butuh dibenahi. Kadang terlihat semrawut, apalagi kalau jam ramai,” kata Ruli, pedagang di sekitar Dipatiukur.
Dia berharap, penataan yang dilakukan nantinya tidak hanya memperbaiki tampilan kawasan. Tetapi juga tetap memberi ruang bagi pelaku usaha kecil yang sudah lama berjualan di sekitar lokasi. “Kalau ditata sih bagus. Tapi jangan sampai kami yang kecil-kecil ini jadi terdampak,” ucapnya.
Tanggapan serupa disampaikan Rina warga yang kerap melintas di kawasan tersebut. Penataan, diperlukan untuk membuat kawasan lebih nyaman bagi pejalan kaki dan pengguna jalan. “Kalau bisa lebih rapi dan enak dilalui. Trotoarnya juga mungkin bisa diperbaiki, agar lebih nyaman untuk pengguna pejalan kaki,” kata Rina.
Namun, dia juga menekankan pentingnya perencanaan yang matang agar tidak menimbulkan masalah baru di kemudian hari. “Yang penting jangan cuma bagus di awal, tapi harus dipikirkan juga dampaknya ke depan,” ucapnya.*
