Kawasan Cipedak Jaksel Rawan Kekeringan

Ilustrasi kekeringan.

JAKARTA (LB)- Ancaman kekeringan kembali membayangi wilayah Cipedak, Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pemerintah pun berkaca pada kejadian ekstrem pada 2023, saat sejumlah RT di kawasan tersebut mengalami krisis air bersih.

Kepala Pusat Data dan Informasi BPBD DKI Jakarta, Mohammad Yohan, mengatakan fenomena kekeringan di Jakarta Selatan kerap memunculkan tanda tanya, mengingat wilayah ini dikenal sebagai jalur aliran air dari hulu ke hilir.

“Ini yang namanya Jaksel, pintu air dari hulu ke hilir. Jadi mungkin orang berpikir kok ternyata masih ada yang kekeringan ya di wilayah Jaksel,” ujar Yohan dalam keteranganya Jumat (24/4).

Menurut dia, kekeringan yang terjadi bukan semata karena distribusi air, melainkan faktor alam, terutama hilangnya sumber air baku di dalam tanah.

“Ketika sumber baku air tanahnya itu hilang, kekeringan, sehingga ini mengakibatkan kurang air bersih. Ini ada di Kelurahan Cipedak, Jagakarsa,” kata dia.

Berkaca dari 2023 Yohan mengungkapkan, periode 2023 hingga 2024 menjadi fase paling terasa dampaknya. Saat itu, kekeringan melanda beberapa titik di Cipedak.

Wilayah terdampak berada di satu RW yang mencakup tiga RT, yakni RT 14, RT 1, dan RT 13. Selain itu, kawasan Renek Agung juga mengalami kondisi serupa, tepatnya di RW 8 yang meliputi RT 3, RT 4, dan RT 7.

“Kalau dilihat pada tahun 2023, ekstremnya di 2023 ya, kejadian trending 2023-2024. Tapi kita antisipasi di 2026, jangan sampai kejadiannya,” ujar Yohan.

Lebih lanjut, Yohan menjelaskan bahwa kondisi geologi menjadi penyebab utama sulitnya warga memperoleh air bersih, terutama saat musim kemarau.

Lapisan tanah di wilayah tersebut membuat sumber air berada jauh di bawah permukaan, bahkan berada di bawah lapisan batuan.

“Ketika airnya itu lebih rendah dari lapisan batuan itu tadi, otomatis akan susah untuk mendapatkan air bersih, apalagi saat kemarau ketika suplai airnya berkurang,” jelasnya.

Menghadapi kondisi tersebut, BPBD DKI Jakarta sebelumnya mengandalkan distribusi air bersih menggunakan mobil tangki bersama PAM Jaya.

“Pada saat kejadian tersebut, kita suplai dengan mobil-mobil tanki yang ada dari PAM ke lokasi tersebut,” kata Yohan.

Namun, ia menegaskan langkah tersebut bukan solusi jangka panjang. BPBD mendorong penyediaan tandon air sebagai cadangan di wilayah rawan kekeringan.

“Harusnya ada tandon air, jadi warga tidak hanya bisa mengambil air saat mobil tangki datang. Tandon bisa dipakai untuk suplai air ke situ,” ujarnya. Menurut Yohan, penyediaan tandon air menjadi langkah penting agar warga tidak sepenuhnya bergantung pada distribusi darurat, terutama saat musim kemarau kembali terjadi. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *