Selebrasi pemain Inter Milan usai Lautaro Martinez mencetak gol ke gawang AS Roma.
MILAN – Tujuh gol tercipta saat Inter Milan menjamu AS Roma dalam lanjutan Liga Italia. Bermain di Giuseppe Meazza, Senin (6/4) dinihari WIB, Si Ular mengamankan tiga angka usai mengalahkan Serigala Ibukota dengan skor 5-2.
Inter membuka keunggulan di menit ke-1 lewat Lautaro Martinez. Roma sempat menyetarakan angka dari gol Gianluca Mancini di menit ke-40. Inter bisa menutup babak pertama dengan keunggulan 2-1 usai Hakan Calhanoglu bikin gol di menit 45+2.
Di babak kedua, Inter tak terbendung. Mereka bikin tiga gol lewat brace Lautaro menit ke-52, Marcus Thuram di menit ke-55 dan torehan Nicolo Barella di menit ke-63. Roma hanya bisa menipiskan ketinggalan lewat gol Lorenzo Pellegrini di menit ke-70. Nerazzurri pun kokoh di puncak klasemen dengan 72 poin. Roma di urutan keenam dengan 54 angka.
Pelatih Inter Milan, Cristian Chivu, menilai timnya sempat dalam tren buruk karena terlalu cepat berpuas diri. Hal itu tak terjadi lagi kala Si Ular menang dari AS Roma.
Inter fokus sepenuhnya pada laga. Mereka berusaha terus tampil dominan hingga laga tuntas. Inter mendominasi serangan dengan bikin total 18 tembakan dengan sembilan mengarah ke gawang. Roma cuma bikin delapan percobaan dengan tiga on target.
“Anda menyadari apa yang terjadi di lapangan, bahwa ada tanda-tanda kedewasaan dari tim ini. Ada beberapa yang goyah dalam pertandingan terakhir, ketika kami mencoba untuk berpuas diri dengan hasil dan seharusnya kami tidak melakukan itu. Di laga ini, kami keluar untuk babak kedua dengan semangat yang benar, mencoba untuk mendominasi dan mengakhiri pertandingan,” ujar Chivu dikutip dari Football Italia.
Menurut Chivu, tidak mudah menekan Roma karena pergerakan dinamis mereka, terutama dari sisi sayap. “Kami sedikit khawatir bola akan lebih sering mengarah ke Donyel Malen, sehingga (Hakan) Calhanoglu bermain lebih dalam dan kesulitan menutup (Niccolò) Pisilli yang mengatur tempo. Kami meningkatkan tempo, lebih banyak sprint, dan itu membuat perbedaan besar,” jelasnya.
Chivu juga berkomentar soal Alessandro Bastoni yang mendapatkan standing ovation dari publik Giuseppe Meazza. Bastoni diturunkan Chivu sebagai starter dalam laga ini. Bastoni bermain selama 58 menit lalu digantikan oleh Matteo Darmian, bersamaan dengan momen Martinez meninggalkan lapangan, memberi jalan Ange-Yoan Bonny untuk bermain.
Bastoni tengah menjadi sorotan tajam menyusul kartu merahnya di laga play-off Piala Dunia bersama Timnas Italia. Di tengah rumor kepindahannya ke Barcelona akibat atmosfer negatif di Italia, dukungan fans Inter menjadi oase bagi pemain berusia 26 tahun tersebut.
“Kita semua bertanggung jawab atas apa yang terjadi di sepak bola karena kritik dan negativitas lebih banyak mendapat perhatian. Kita harus ingat bahwa sepak bola adalah permainan. Kita semua bersalah, jadi kita harus mengubah pendekatan terhadap olahraga indah ini,” kata Chivu.
Kembalinya Lautaro Martinez membuat Inter Milan tajam lagi. Sebelumnya tanpa Lautaro, Si Ular cuma bisa bikin enam gol dari lima laga di Serie A. Lautaro langsung memberikan dampak besar pada laga comeback-nya usai pulih dari cedera. Penyerang asal Argentina tak tampil di lima laga Serie A sebelumnya akibat cedera otot.
Dikutip dari SofaScore, pemain asal Argentina itu mampu mengemas tiga tembakan serta memenangi lima duel. Pemain 28 tahun tersebut hanya bermain hingga menit ke-58.
Sosok Lautaro memang begitu krusial untuk Inter. Tak sekadar tajam, ia juga penyerang yang bisa turun menjemput bola untuk mengkreasi serangan. Lautaro kini telah mengoleksi 16 gol dan empat assist di Serie A. Mantan pemain Racing Club memimpin daftar top skor Serie A.
“Selama bertahun-tahun, kami sudah membawa Inter ke tempat tertinggi, dan kami tidak bisa berhenti sekarang, tapi pasti ada momen menurunnnya. Kami terima kritikan yang ada, kami mencoba memberikan segalanya, dan saya senang memiliki rekan-rekan setim ini,” ujar Lautaro seperti dikutip Football Italia.
Sementara pelatih AS Roma Gian Piero Gasperini menilai gol ketiga Inter Milan menghancurkan mental timnya. Hal tersebut bikin Il Lupi kehilangan semangat hingga kalah.
“Tidak mudah kebobolan di beberapa detik pertama, tetapi setelah itu saya melihat Roma bermain bagus, meskipun tertinggal di babak pertama benar-benar pukulan telak bagi moral. Gol ketiga khususnya membuat kami kehilangan semangat, dan sejak saat itu kami benar-benar kesulitan,” kata Gasperini kepada DAZN Italia.***
