Gaya Hidup Tak Sehat Picu Meningkatnya Kista Ovarium pada Perempuan Muda

JAKRTA(LB)-Mendengar kata kista ovarium, pasti muncul kekhawatiran di benak perempuan. Tidak sedikit dari mereka yang biasanya langsung overthinking terkait kondisi ini.

Tanpa disadari, kasus kista ovarium kini semakin sering ditemukan pada usia muda, bahkan di usia remaja. Usia perempuan 20-an hingga 50-an kini tak luput dari risiko kista ovarium disfungsional.

Sebagai informasi perempuan sendiri sebenarnya memiliki dua jenis kista ovarium, yakni fungsional dan disfungsional atau dengan kata lain, kista yang normal alami dan yang tidak normal.

Kista fungsional adalah kantung berisi cairan yang terbentuk secara alami di indung telur (ovarium) akibat siklus menstruasi yang normal. Sebaliknya, kista disfungsional umumnya merujuk pada kista yang terbentuk akibat gangguan atau ketidakseimbangan hormon yang membuat siklus ovarium tidak berjalan sempurna.

“Jadi setiap wanita, dalam fase reproduksi atau fase subur sebelum mereka menopause, mereka pasti akan memiliki kista fungsional atau hormonal. Setiap bulan ketika mereka mengalamu siklus menstruasi, itu kan selalu dihasilkan sel telur yang matang ya,” kata dokter spesialis obstetri & ginekologi dr Med. Firman Santoso, SpOG dari Brawijaya Hospital Antasari di Jakarta, Kamis (7/5).

“Nah itu kita sebutnya kita yang fungsional, yang come and gone terus berlangsung sepanjang umur hidupnya sampai pasien ini menopause. Baru nanti kista fungsional tidak akan ada lagi,” sambungnya.

dr Firman dengan bekal 14 tahun pengalaman internasional menambahkan bahwa yang selama ini menjadi masalah bagi para perempuan adalah munculnya kista ovarium disfungsional.

Kista tidak normal ini banyak sekali jenisnya. Namun, yang paling sering ditemukan adalah jenis endometriosis.

“Kemudian ada juga kista jenis dermoid, yang merupakan kista bawaan. Jadi isinya itu rambut, gigi, tulang. Jadi kalau menurut masyarakat kita kayak disantet, padahal bukan,” katanya.

“Kemudian ada jenis kista-kista yang lain, seperti jenis mucinous cystadenoma, serous cystadenoma. Kemudian kista jenis lain yang bercampur dengan komponen tumor jinak, misalnya fibroma itu isinya bukan lagi cairan tapi merupakan tumor padat,” lanjutnya.

dr Firman yang telah menangani lebih dari 2.000 tindakan bedah ini mengatakan para perempuan usia remaja sampai dewasa, bisa dikatakan umur 20-an tahun sampai 50-an, lebih berisiko mengalami kista disfungsional.

Paling umum, munculnya kista ovarium disfungsional ini adalah gaya hidup ‘kekinian’ yang banyak dilakukan oleh para perempuan muda.

“Yang paling sering kami temukan itu gaya hidup sih. Artinya kalau pola hidupnya tidak sehat, mereka terlalu gemuk, tidak pernah berolahraga, pola makannya terlalu banyak high sugar, terlalu tinggi karbo, lack of protein,” kata dr Firman.

“Nah itu bisa menyebabkan mereka cenderung menderita kista yang jenis endometriosis atau mucinous cystadenoma, serous cystadenoma, dan lain-lain,” sambungnya.

dr Firman menegaskan bahwa kista yang terjadi pada mereka yang berusi lanjut atau 60 tahuan ke atas, harus diwaspadai adanya kanker ovarium.

Canggihnya Penanganan Kista
Beruntung, saat ini pengobatan terkait kista sudah cukup canggih. Menurut dr Firman, banyak kasus bisa ditangani dengan metode laparoskopi.

Ini adalah prosedur operasi minimal invasif (sayatan kecil) untuk mendiagnosis dan mengangkat kista ovarium atau kista lainnya dengan cepat, menggunakan kamera khusus (laparoskop) melalui 1-3 sayatan kecil di perut.

“Bahkan kalau misalnya ada kanker ovarium, kalau stadiumnya sangat awal, kami benar-benar bisa tangani dengan baik. Bahkan metode operasinya seperti yang dilihat tadi, dengan laparoskopi,” katanya.

“Tidak buka perut. Jadi bayangin, kamu cuma bikin 3-4 lubang kecil, masing-masing 5 mm, setengah cm bayangkan. Jadi operasi, 1-2 hari pasien sudah boleh pulang,” tutupnya. tom

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *