Ketum MATAKIN, Xs. Budi S. Tanuwibowo.
BOGOR (LB)—Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S.Tanuwibowo mengisi Jiang Dao (khotbah) dalam kebaktian Hari Kebaktian Hari Lahir Nabi Kongzi ke 2576 yang digelar di MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Citeureup, Kabupaten Bogor, Sabtu (18/10/2025).

Seperti MAKIN-MAKIN lainnya di seluruh Indonesia, MAKIN Citeureup juga menyelenggarakan kebaktian khusus dalam rangka memperingati Kelahiran Nabi Kongzi (Zhi Sheng Dan) ke 2576 di Lithang Gerbang Kebajikan MAKIN Citeureup Kabupaten Bogor. Ketua Umum MATAKIN, Xs, Budi S. Tanuwibowo mengisi Jiangdao di Kebaktian tersebut.
Ketum MATAKIN tiba di lokasi pukul 18.45 WIB, didampingi oleh Ws. Andi Gunawan Tjiok (Wakil Ketua Bidang Pelayanan), Heri Yuliyanto (Wakil Sekretaris Bidang Organisasi), Auwjang Phin Khuan (Wakil Ketua Bidang Dana), dan Marleen Wang, LDS (Wakil Sekretaris Bidang Keorganisasian).

Selain itu ikut dalam rombongan, Prof. Kim Chae Young (akademisi dari Sorgang University, Korea Selatan), yang menjadi salah satu Narasumber dalam acara dialog Islam Khonghucu tanggal 17 Oktober 2025 di Jakarta.
Kedatangan ketum dan rombongan disambut langsung oleh Ketua MAKIN Citeureup Js, Irwan Sutarman dan Hendri Ayung Tjoe yang juga merupakan Wakil Bendahara Umum dan Wakil Sekretaris Bidang Organisasi MATAKIN.
Kebaktian dimulai dengan sambutan selamat datang dari Ketua MAKIN Citeureup, Js. Irwan Sutarman yang mengucapkan terima kasih kepada Ketua Umum MATAKIN atas kehadirannya mengisi Jiang Dao di MAKIN Citeureup.

“Atas nama Pengurus MAKIN Citeureup kami mengucapkan terima kasih atas kedatangan Ketum MATAKIN dan rombongan, khususnya kepada Prof. Kim Chae Young dari Korea Selatan, yg kemarin baru saja menjadi Narasumber Dialog islam Khonghucu,” kata Irwan memulai .
“Kebaktian Peringatan Hari Lahir Nabi Kongzi merupakan momentum baik bagi umat Khonghucu untuk senantiasa merenungkan dan meneladani ajaran – ajaran beliau yang menjadi pembimbing dan pedoman dalam kehidupan umat manusia,” lanjut Irwan.
Kemudian dilanjutkan dengan Pembacaan Teks Hikayat Kelahiran Nabi Kongzi yang dibacakan dengan khidmat oleh Hendri Ayung Tjoe (Bendahara MAKIN Citeureup).
Prosesi sembahyang Kelahiran Nabi Kongzi ke 2576 dipimpin oleh Ws. Ronny Winanto, sekitar 400 umat Khonghucu yang hadir tampak khusyuk mengikuti prosesi sembahyang peringatan Hari Kelahiran Nabi Kongzi ke 2576 tersebut.
Sementara itu Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo dalam Jiang Dao (khotbah) pada kebaktian tersebut mengangkat topik tentang keteladanan dan ajaran Nabi Kongzi yang mampu bertahan ribuan tahun dan tak lekang oleh waktu.
Ajaran Nabi Kongzi sampai saat ini menjadi pedoman hidup tak ternilai bagi umat Khonghucu dan umat manusia di dunia ini. Ajatan beliau terutama 8 Kebajikan, 3 Mustika dan Tepasalira (Zhong Shu) perlu terus didalami dan dipraktikkan.
Nabi Kongzi acapkali menekankan pentingnya manusia mempunyai “Tiga Pusaka Kehidupan”, “Tiga Mutiara Kebajikan” atau “Tiga Kebajikan Utama”, yaitu : Zhi (Ti), Ren dan Yong’ lanjut Budi

Zhi berarti wisdom atau Kearifan. Ren berarti Cinta Kasih universal tidak terbatas sahabat dan keluarga saja, sedangkan Yong sering diartikan Berani namun bukan berani asal berani saja, namun berani karena benar, berani atas dasar kesusilaan, kejujuran dan peraturan yang berlaku,” urai Ketum Budi.
“Dalam agama Khonghucu juga terdapat hubungan antar manusia dengan manusia dan antara manusia dengan sang khalik, yang dikenal sebagai Zhongsu Satya kepada (Firman) Tian, dan Tepasalira (tenggang rasa) kepada sesama. Sabda beliau yang populer yang merupakan golden rule yakni “Apa yang diri sendiri tiada inginkan, jangan diberikan kepada orang lain” dan “Bila diri sendiri ingin tegak (maju), berusahalah agar orang lain tegak (maju),” terang Budi.
Setelah kebaktian dilakukan sesi foto bersama dan dilanjutkan ramah tamah dengan Prof. Kim Chae Young. Prof. Kim merasa sangat senang, gembira, antusias dan baginya merupakan pengalaman pertama kali bisa melihat langsung tata cara ibadah umat Khonghucu di Indonesia.
“Saya sangat senang dan excited bisa melihat lansung upacara agama Khonghucu di Indonesia, momen spesial yang tidak akan terlupakan,” kata Prof. Kim. **
