Arsenal Kokoh di Puncak Klasemen

Sukacita pemain Arsenal usai Eberechi Eze mencetak gol ke gawang Tottenham Hotspur.

LONDON – Arsenal berhasil memenangkan duel Derby London Utara melawan Tottenham Hotspur dalam lanjutan Liga Inggris,  di Emirates Stadium, Minggu (23/11) malam WIB. Meriam London menang 4-1.

Empat gol kemenangan  Arsenal tercipta melalui aksi Leandro Trossard dan hattrick Eberechi Eze. Sementara satu-satunya gol balasan Spurs dicetak oleh Richarlison.

The Gunners pun semakin kokoh di puncak klasemen sementara Premier League dengan koleksi 29 poin. Mereka kini unggul enam angka dari Chelsea di peringkat kedua.

Manajer Mikel Arteta  mengaku puas dengan apa yang didapatkan oleh timnya. “Kami bermain sangat baik, kami sangat konsisten, dan hanya itu. Maksud saya, jika melihat hasilnya, baik mereka menang atau kalah, selisih skor dan apa yang terjadi dalam pertandingan sangat kecil. Kami tahu itu,” ujar Arteta seperti dilansir dari laman resmi klub

Namun  ia juga meminta timnya tidak boleh terlena karena mereka hanya unggul tipis di tabel klasemen. Terlebih, The Gunners saat ini juga tengah menghadapi masalah di mana sejumlah pemain pilar harus menepi karena cedera.

“Di liga ini, keunggulan tim di puncak klasemen tidak banyak. Kami membutuhkan pemain yang kembali segera hari ini. Noni (Madueke) sudah kembali ke lapangan, itu bagus, tapi kami masih kehilangan banyak pemain penting, dan kami akan membutuhkan mereka semua. Kabar buruknya adalah kami kehilangan Gabi (Gabriel Magalhaes), yang merupakan pukulan telak, dan Piero (Hincapie) masuk, dan saya pikir dia tampil fantastis sejak awal laga,” ujarnya.

Arteta sendiri mengambil tindakan saat melihat susunan pemain Tottenham Hotspur. Thomas Frank dalam lagi ini memakai formasi 3-4-2-1 dengan tiga bek tengah.

Dalam skema itu, formasi bertahan Tottenham menjadi lima bek dengan hadirnya Destiny Udogie dan Djed Spence sebagai full-back. Hal ini jarang dilakukan Frank selama membesut Tottenham, yang lebih sering menggunakan 4-2-3-1.

Arteta menyadari itu ketika melihat line-up. Arsenal justru malah banyak berusaha menembus pertahanan lawan langsung dari sisi tengah. “Kami bersiap (untuk formasi lima bek) dan jelas kami tidak tahu. Begitu kami mendapatkan susunan pemain, kami langsung membuat keputusan yang harus kami buat, dan kemudian para pemain menunjukkan performa yang luar biasa,” kata Arteta kepada Sky Sports.

Ia juga memuji performa Eberechi Eze. Ini  merupakan hasil langsung dari kerja keras yang dilakukan rekrutan musim panas Arsenal itu di tempat latihan.

“Luar biasa. Saya melihat statistik, dan kapan terakhir kali ada pemain yang mencetak hat-trick di derby London Utara? Sudah sangat, sangat, sangat lama. Itu menunjukkan betapa sulitnya, tapi ini bukan kebetulan. Ketika seorang pemain punya bakat, punya kecerdasan dan punya kemauan untuk menjadi lebih baik serta memberi dampak untuk tim, hal seperti ini bisa terjadi,” kata manajer asal Spanyol itu.

Di sisi lain, Eze  mengaku mestinya bisa mencetak gol lebih banyak. Pemain berusia 27 tahun itu menjadi pemain yang menonjol dalam laga itu. Dia melepaskan enam tembakan dalam 90 menit, empat di antaranya mencapai sasaran.

“Saya mungkin sejujurnya bisa mencetak empat gol. Saya selalu berusaha mencetak gol, selalu mencoba untuk memanfaatkan peluang yang saya dapat. Penting untuk bersikap gigih. Kami fokus pada diri kami sendiri, fokus agar bisa mengeluarkan permainan yang kami latih setiap hari. Ini bukan kebetulan kami bisa tampil seperti ini,”  kata Eze di BBC.

Sementara manajer Tottenham Hotspur, Thomas Frank, mengakui bahwa  timnya tampil sangat buruk. “Dari mana saya harus mulai? Sangat mengecewakan kami tampil buruk dalam pertandingan menghadapi Arsenal, rival terbesar kami. Saya hanya bisa meminta maaf kepada para penggemar atas kekalahan ini. Saya sangat yakin pada hari Jumat ketika kami berbicara bahwa kami akan kompetitif  di laga ini, tetapi tidak selama 90 menit,” ujar Frank dilansir dari laman resmi klub.

Ia mengaku timnya sudah berjuang melakukan yang terbaik. “Kami mencoba datang ke sini dan bermain agresif, menekan tinggi, dan sesekali mengejar mereka. Kami tidak berhasil dalam hal itu, tidak cukup dekat dengan mereka dalam situasi yang kami bisa. Kami sering terdesak dan bermain terlalu pasif. Sepertinya kami mengejar mereka. Ketika kami akhirnya menguasai bola, kami tidak cukup baik untuk keluar dari situasi tersebut,” ujarnya.

Frank mengaku keputusannya memulai laga dengan pola tiga bek berakhir blunder. Tapi di luar itu, timnya juga tampil di bawah standar dengan kalah di berbagai aspek seperti duel-duel dan kurang agresif. “Sangat menyakitkan harus berdiri di sini setelah performa yang sangat buruk. Salah besar kami tampil buruk melawan tim ini. Inilah badai sempurna,” ujarnya kepada BBC Radio 5 Live.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *