Benecia saat menerima medali di ajang Worldskills. (dok. IP Trisakti)
JAKARTA (LB)––Prestasi bukan sekadar pencapaian yang diukur melalui medali atau penghargaan, melainkan sebuah proses panjang yang membentuk karakter, kepemimpinan, dan kontribusi nyata bagi lingkungan sekitar.
Dalam perspektif Pilmapres (Pemilihan Mahasiswa Berprestasi), mahasiswa tidak hanya dinilai dari apa yang berhasil diraih, tetapi juga dari bagaimana perjalanan tersebut membentuk kapasitas diri, integritas, keberlanjutan kontribusi, serta refleksi pembelajaran yang memberi dampak lebih luas.
Keyakinan inilah yang menjadi fondasi perjalanan Benecia Glory Shevania Valerie, Mahasiswi Prodi (Program Studi) Pengelolaan Perhotelan Institut Pariwisata Trisakti, hingga dipercaya mewakili Indonesia pada ajang The 14th WorldSkills ASEAN Competition 2025 di bidang Hotel Reception. WorldSkills ASEAN merupakan kompetisi kejuruan (vokasi) dua tahunan terbesar di Asia Tenggara.
Perjalanan ini dimulai sejak tahun 2022 ketika Benecia mengikuti Lomba Kompetensi Siswa yang diselenggarakan oleh Puspresnas (Pusat Prestasi Nasional).

”Saat itu, saya menyadari bahwa dunia hospitality bukan hanya tentang pelayanan, tetapi tentang bagaimana menghadirkan pengalaman, empati, profesionalisme, serta kemampuan beradaptasi dalam situasi yang dinamis,” ujar Benecia.
Melalui proses latihan yang intensif dan penuh disiplin, Benecia berhasil meraih juara 2 tingkat wilayah, kemudian melanjutkan perjalanan hingga memperoleh juara 1 tingkat Provinsi Jawa Timur dan akhirnya juara 1 nasional mewakili Jawa Timur.
Dibalik capaian tersebut terdapat proses pembinaan yang sangat membentuk dirinya, baik secara teknis maupun mental.
”Saya dibimbing oleh Pak Suko selaku Night Manager Shangri-La Hotel Surabaya, Pak Khellen sebagai juri dan evaluator kompetisi, serta Pak Wawan sebagai guru pembimbing perhotelan. Mereka tidak hanya mengajarkan standar pelayanan profesional, tetapi juga menanamkan nilai kedisiplinan, konsistensi, kerendahan hati, serta pentingnya menjaga kualitas diri dalam setiap proses. Dari mereka saya belajar bahwa profesionalisme dibangun melalui latihan yang berulang, kemampuan menerima evaluasi, dan komitmen untuk terus berkembang,” tutur Benecia.
Pada masa kelulusan, Benecia dipercaya sebagai siswi berprestasi non-akademik sekaligus memperoleh kesempatan menyampaikan pidato kelulusan di hadapan guru, orang tua, dan rekan-rekan siswa.
Momen tersebut menjadi refleksi penting bahwa setiap perjuangan memiliki nilai yang lebih besar daripada sekadar hasil akhir.
Pengalaman tersebut juga membuka kesempatan bagi saya untuk memperoleh beasiswa penuh di Institut Pariwisata Trisakti, sebuah peluang yang semakin memperkuat keyakinannya untuk terus berkembang dalam bidang hospitality dan pengembangan kompetensi profesional.

Namun demikian, Benecia menyadari bahwa kesiapan menghadapi kompetisi internasional tidak dapat dibangun hanya melalui pembelajaran akademik. Dunia industri memiliki dinamika, tekanan, dan standar profesional yang membutuhkan pengalaman nyata.
”Oleh karena itu, saya mengambil keputusan strategis untuk bekerja terlebih dahulu selama dua tahun sebagai Service Associate Front Office. Dalam posisi tersebut, saya menjalankan berbagai tanggung jawab sebagai receptionist, executive lounge attendant, dan operator,” ujar perempuan berparas cantik ini.
Menurutnya, pengalaman bekerja di industri hospitality menjadi proses pembelajaran yang sangat berharga dalam membentuk kompetensi yang relevan dengan standar WorldSkills.
Belajar Menghadapi Tamu
Dia belajar menghadapi tamu dari berbagai latar belakang budaya, menangani keluhan dengan pendekatan profesional, menjaga kualitas pelayanan dalam tekanan operasional tinggi, serta membangun komunikasi yang efektif di lingkungan kerja yang dinamis.
Selain kemampuan teknis, Benecia juga belajar mengenai ketahanan mental, pengelolaan emosi, multitasking, serta pentingnya kolaborasi tim dalam menjaga kualitas pelayanan.
Kompetensi tersebut kemudian tervalidasi ketika pada tahun 2024 dia berhasil meraih Juara 1 Receptionist of The Year wilayah Surabaya yang diselenggarakan oleh Hotel Front Liner Association (HFLA) Surabaya.
Bagi Benecia, pencapaian ini bukan hanya bentuk pengakuan profesional, tetapi juga bukti bahwa proses pembelajaran dan pengalaman industri yang saya jalani memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas diri.
Ketika seleksi kompetitor The 14th WorldSkills ASEAN Competition dibuka bersamaan dengan keputusannya melanjutkan studi di Institut Pariwisata Trisakti.
“Saya melihat hal tersebut sebagai momentum strategis dalam perjalanan pengembangan diri saya. Saya ingin mengintegrasikan pendidikan vokasi, pengalaman industri, dan kompetisi internasional sebagai satu kesatuan proses pembelajaran yang utuh. Dalam perspektif Pilmapres, saya percaya bahwa mahasiswa berprestasi tidak hanya dituntut memiliki capaian, tetapi juga visi pengembangan diri yang jelas, terarah, dan berdampak bagi masyarakat maupun bangsa,” urainya.
Benecia mengungkapkan, perjalanan menuju WorldSkills ASEAN bukanlah proses yang singkat maupun mudah. Setelah melalui tahapan seleksi wilayah dan nasional hingga berhasil meraih juara 1 nasional, dia memperoleh kehormatan menjadi delegasi Indonesia pada bidang Hotel Reception, sebuah bidang yang untuk pertama kalinya diikuti Indonesia dalam ajang WorldSkills ASEAN.
”Kesempatan tersebut menjadi tanggung jawab besar sekaligus kebanggaan yang saya maknai sebagai amanah untuk membawa nama Indonesia di tingkat internasional,” ujar Benecia.
Training Center di IP Trisakti
Benecia menuturkan, persiapan kompetisi dilakukan melalui Training Center selama enam bulan di Institut Pariwisata Trisakti dengan sistem pembinaan intensif dari pagi hingga malam hari.
Selama proses tersebut, dirinya menjalani dua kali cross exposure industry.
Pengalaman pertama dilakukan selama dua bulan di Park Royal Serviced Suites Thamrin Jakarta dan Pan Pacific Jakarta, dan pengalaman kedua berlangsung selama dua bulan di The St. Regis Jakarta untuk memperdalam standar pelayanan hotel luxury internasional.
Melalui pengalaman tersebut, kata Benecia, dirinya belajar bahwa standar pelayanan internasional tidak hanya diukur dari keterampilan teknis, tetapi juga melalui detail pelayanan, kemampuan membaca kebutuhan tamu, komunikasi profesional, ketepatan pengambilan keputusan, serta kemampuan menjaga kualitas pelayanan secara konsisten.

”Saya juga mempelajari bagaimana budaya kerja profesional dibangun melalui disiplin, teamwork, precision, dan continuous improvement,” imbuhnya.
Dua bulan berikutnya difokuskan pada pendalaman test project, simulasi kompetisi, serta familiarisasi sistem operasional atau biasa disebut PMS (Property Management System) yang digunakan selama lomba.
Dalam proses ini Benecia mendapatkan pembinaan intensif dari expert nasional, yaitu Khellen dan Amalia Mustika, yang memperkuat kesiapan teknis, strategi kompetisi, serta kesiapan mental saya sebagai delegasi Indonesia.
Standar penilaian WorldSkills menuntut konsistensi performa, akurasi pelayanan, profesionalisme sikap, kemampuan komunikasi, problem solving, serta ketahanan mental dalam menghadapi tekanan waktu dan situasi yang kompleks.
Benecia mengatakan, kompetisi ini mengajarkannya bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan individu, tetapi juga oleh kemampuan menjaga fokus, disiplin, adaptabilitas, dan integritas dalam setiap proses.
Melalui latihan yang disiplin, evaluasi yang berkelanjutan, serta komitmen penuh terhadap proses, Benecia, akhirnya berhasil meraih Bronze Medal bagi Indonesia di tingkat ASEAN.
Baginya, medali tersebut bukan sekadar simbol kemenangan pribadi, melainkan representasi dari perjuangan panjang, pengorbanan, doa, dukungan banyak pihak, dan semangat untuk terus membawa nama Indonesia ke tingkat global.
”Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus atas setiap kesempatan dan proses yang saya lalui. Saya juga menyampaikan terima kasih yang mendalam kepada Ibu Rektor dan Ibu Robiatul Adawiyah selaku Kaprodi Pengelolaan Perhotelan yang membuka jalan kesempatan ini, para expert dan mentor yang membimbing saya, kedua orang tua yang selalu mendukung, seluruh jajaran institusi pendidikan di Institut Pariwisata Trisakti, tempat saya bekerja, serta seluruh pihak yang percaya pada potensi saya,” ucap Benecia dengan penuh bangga.

Dari seluruh perjalanan ini, Benecia mengakui dirinya mendapatkan pelajaran bahwa prestasi sejati bukan hanya tentang menjadi yang terbaik, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu bertumbuh melalui proses, menghadapi tantangan dengan ketekunan, serta menjadikan pengalaman tersebut sebagai kontribusi dan inspirasi bagi orang lain.
”Saya percaya bahwa mahasiswa berprestasi bukan hanya individu yang mampu meraih penghargaan, tetapi juga pribadi yang memiliki integritas, visi, kepedulian, dan komitmen untuk terus berkembang demi memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa,” ujarnya.
Ingin Terus Belajar
Ke depan, dia berharap pengalaman ini dapat menjadi awal kontribusi yang lebih luas dalam pengembangan kualitas sumber daya manusia Indonesia, khususnya di bidang hospitality dan pelayanan global.
”Saya ingin terus belajar, bertumbuh, dan membagikan pengalaman saya kepada generasi muda agar semakin banyak talenta Indonesia yang percaya bahwa mereka mampu bersaing di tingkat internasional,” ujar Benecia.
Menurutnya, setiap proses perjuangan memiliki makna strategis dalam membentuk masa depan. Dan melalui perjalanan menuju WorldSkills ASEAN ini, Benecia belajar bahwa mimpi besar hanya dapat diwujudkan melalui keberanian untuk memulai, kerendahan hati untuk terus belajar, serta ketekunan untuk bertahan dalam setiap proses yang dijalani. **
