Pemprov DKI Targetkan 5 Persen Kebutuhan Pangan Lewat Urban Farming pada 2030

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta Hasudungan Sidabalok (kiri) dan Wali Kota Jakarta,  Timur Munjirin (kanan) saat menghadiri kegiatan panen raya serentak DKI Jakarta di lahan pertanian di Jalan Raya Pulo Gebang, RT 12/RW 06, Cakung, Jakarta Timur, Senin (30/3).

JAKARTA (LB)- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menargetkan peningkatan kemandirian pangan melalui pengembangan pertanian perkotaan (urban farming) hingga mencapai lima persen dari total kebutuhan pada 2030.

“Target kami pada 2030, Jakarta mampu memenuhi hingga lima persen kebutuhan pangannya sendiri, salah satunya lewat pertanian perkotaan (urban farming),” kata Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok setelah mengikuti kegiatan panen raya serentak DKI Jakarta di lahan pertanian di Jalan Raya Pulo Gebang, RT 12/RW 06, Cakung, Jakarta Timur, Senin (30/3).

Saat ini, menurut dia, kontribusi produksi pangan dari dalam Jakarta masih sangat kecil, yakni sekitar dua persen. Sementara itu, sekitar 98 persen kebutuhan pangan warga masih dipasok dari luar daerah.

“Kondisi ini menjadi tantangan bagi kami. Namun, melalui desain besar pertanian perkotaan, kami optimistis ketergantungan terhadap pasokan luar daerah bisa terus ditekan,” ujar Hasudungan.

Dia menjelaskan pencapaian target tersebut difokuskan pada komoditas strategis yang berpengaruh langsung terhadap inflasi daerah, di antaranya cabai merah dan bawang merah yang menjadi prioritas utama karena kerap memicu fluktuasi harga di pasaran.

“Fokus kami pada komoditas yang memengaruhi inflasi, seperti cabai merah dan bawang merah. Jika produksinya meningkat di dalam kota, diharapkan dapat membantu menstabilkan harga,” jelas Hasudungan.

Untuk mencapai target tersebut, Dinas KPKP DKI mengoptimalkan pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan melalui berbagai inovasi, mulai dari urban farming, pemanfaatan lahan kosong, hingga pengembangan kawasan pertanian berbasis komunitas.

Akan tetapi, Hasudungan mengakui sejumlah tantangan yang harus dihadapi, di antaranya keterbatasan lahan, kondisi iklim perkotaan, serta perlunya peningkatan partisipasi masyarakat.

“Keterbatasan lahan memang menjadi tantangan utama. Tapi selama masih ada sinar matahari, lahan sekecil apa pun bisa dimanfaatkan untuk bertani,” ujar Hasudungan.

Selain itu, pihaknya juga menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar semakin banyak warga yang terlibat dalam kegiatan pertanian perkotaan.

Hasudungan pun menilai perubahan pola pikir merupakan kunci keberhasilan program tersebut.

“Yang tidak kalah penting adalah membangun mentalitas masyarakat. Kami terus mengedukasi bahwa pertanian perkotaan itu bisa dan memiliki manfaat besar,” ucap Hasudungan.

Lebih lanjut, dia menegaskan keberhasilan sejumlah wilayah, seperti Jakarta Timur, dalam mengembangkan ratusan titik panen membuktikan pertanian perkotaan berpotensi besar untuk dikembangkan secara luas di Jakarta. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak terkait, sambung dia, Pemprov DKI optimistis target lima persen kemandirian pangan pada 2030 dapat tercapai, sekaligus memperkuat ketahanan pangan di tengah dinamika kota metropolitan. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *