Bambu-bambu di Wisata Rawa Danau Cipondoh banyak yang hancur karena kondisinya yang tidak terawat.
TANGERANG (LB)- Area wisata Rawa Danau Cipondoh, Kota Tangerang, yang sebelumnya ramai dikunjungi, kini tampak sepi dan mengalami kerusakan di sejumlah titik. Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk “pembiaran aset” oleh pemerintah.
Pengamat tata kota, Yayat Supriyatna, mengatakan, terbengkalainya kawasan wisata itu bukan semata akibat dampak pandemi Covid-19, melainkan karena tidak adanya pengelolaan yang jelas. “Kalau tempat wisata tidak ada yang mengelola, ya terbengkalai. Ini yang saya lihat, ada pembiaran dan penelantaran aset,” ujar Yayat, Kamis (9/4).
Menurut dia, sebuah kawasan wisata seharusnya memiliki sistem pengelolaan yang jelas, baik oleh pemerintah maupun pihak yang ditunjuk secara resmi.
Tanpa pengelolaan, fasilitas akan rusak dan pengunjung akan meninggalkan lokasi tersebut.
Selain itu, Yayat menilai persoalan utama di Cipondoh juga berkaitan dengan tumpang tindih kewenangan pengelolaan. Pasalnya, jika kawasan tersebut merupakan aset Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten, tanggung jawab perawatan berada di tingkat provinsi, bukan pemerintah kota. “Kalau asetnya milik pemprov, ya pemprov yang harus bertanggung jawab. Pemkot tidak bisa berbuat banyak kalau itu bukan kewenangannya,” ucap dia.
Ia juga menyoroti lemahnya koordinasi antarinstansi dalam pengelolaan wisata Rawa Danau Cipondoh.
Menurut dia, pengelolaan situ atau danau melibatkan berbagai dinas, mulai dari pekerjaan umum, pariwisata, hingga lingkungan hidup.
“Sering kali jadi saling lempar. PU tanya, kalau dirawat apakah pariwisata mau menghidupkan? Lingkungan hidup juga bagaimana? Akhirnya tidak ada yang benar-benar menangani,” kata Yayat. Kemudian, pembiaran kawasan situ tidak hanya berdampak pada sektor wisata dan ekonomi warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan. Hal itu dikarenakan situ memiliki fungsi penting sebagai daerah resapan dan penampungan air.
“Daya tampung air berkurang, akhirnya ketika hujan besar bisa meluap dan banjir,” ujarnya.
Selain itu, terdapat pula potensi alih fungsi lahan apabila kawasan tersebut terus dibiarkan tanpa pengawasan. Kondisi ini dapat memicu munculnya bangunan liar di sepanjang tepi danau.
“Kalau dibiarkan, nanti bisa diduduki masyarakat. Lama-lama diuruk, jadi rumah, hilang situnya. Itu yang harus dicegah,” kata dia.
Meski demikian, Yayat menilai wilayah Cipondoh masih memiliki potensi untuk dihidupkan kembali sebagai ruang publik maupun destinasi wisata, asalkan dilakukan penataan dan perawatan secara serius.
“Harus ditata, dirapikan, dijaga kebersihannya. Yang paling penting jelas dulu siapa yang mengelola,” ucap dia. Sebelumnya diberitakan, Wisata Danau Cipondoh di Kota Tangerang mulai sepi pengunjung karena fasilitas rusak. *
