Prosesi doa bersama untuk kelancaran pemasangan balok utama.
JAKARTA (LB)—-Wihara Dharma Bakti yang terletak di Jalan Kemenangan, Petak Sembilan, Kelurahan Glodok, Tamansari, Jakarta Barat, Kamis (27/11/25) pagi lalu melakukan prosesi pemasangan Balok Utama Wihara (Kong Liong).


Prosesi didahului dengan ritual doa, yang dipimpin oleh Y.M. Bhiksu Kusalasasana Mahasthavira (Sukong Xue Liang), yang merupakan Ketua Sangha Mahayana Indonesia.
Ketua Yayasan Wihara Dharma Bakti, Shirley Wijaya, menjelaskan bahwa ritual doa, dimaksudkan agar proses pemasangan berjalan lancar, dan para petugas diberi kekuatan lahir bathin melaksanannya.
“Karena kita memasang balok utama dan memasang paku emas juga, makanya kita harus mengadakan upacara terlebih dahulu,” kata Shirley.

Lebih lanjut, menurut Shirley, setelah pemasangan balok utama ini, pekerjaan penyelesaian akan masih memakan waktu selama kurang lebih satu tahun, agar Wihara dapat dipergunakan sebagai tempat ibadah yang nyaman.
Upacara doa dan pelaksanan pemasangan Balok Utama ini, juga turut dihadiri Tokoh/Pengusaha Indonesia, Tomy Winata dan Walikota Singkawang, Kalimantan Barat, Tjhai Chui Mie, serta Ibu Kam.

Tampak hadir pula, Jajaran Direksi PT. PULAUINTAN di antaranya Ben Susanto, Glenn Susanto, Pui Budi Setiawan yang mewakili sang ayah Pui Sudarto. Dari Yayasan Santoso yang mengelola Wihara Dharma Sakti/Han Ta Kong, yaitu Suhardjo Witarsa, Sutedja Budiman, Setiadi Budiman, Supomo Wiguno.
Ada juga tokoh lain, diantaranya Fuidy Lukman, Lay Irianto, Robin, yang merupakan tokoh dari Perkumpulan PERMASIS /PTK Indonesia. Suhu Tao Kusumo Dan Ketua Umum Yayasan Etika Moral Indonesia (YEMI) Alex Tumondo.

Kemudian ada penulis sejarah wihara di Indonesia, Akian, Ketua Pembangunan Vihara Dharma Bakti Shu Yin Pramono dan Koordinator Pemuda/Siswa Mahayana Toase Bio, Rojali, Fotografer Darwis Triaji, Farina dan lainnya.

Seperti diketahui Wihara Dharma Bakti yang telah berusia 450 tahun terbakar habis pada 5 Maret tahun 2015. Wihara dibangun Kembali sejak tahun 2021. Namun karena Indonesia tengah dilanda pandemi covid, pembangunan agak tersendat, dan baru ketika situasi normal, pembangunan dilanjutkan kembali.
Untuk lay out Gedung, Shirley Wijaya mengungkapkan, diupayakan tetap sama dengan bangunan lama. Demikian pula arsitekturnya, berusaha disamakan, kendati ada perbaikan sedikit. Pada bangunan baru ini juga terdapat ruang bawa tanah, yang akan digunakan untuk pertemuan atau acara pendukung lainnya.

“Sejauh ini semua berjalan lancar. Tapi karena kita terletak di jalan yang kecil, jadi untuk memasukan bahan-bahan bangunan, terutama tiang-tiang yang besar, agak sulit sendikit. Tapi itu bukan masalah, karena kita selalu mencari solusi untuk mengatasinya,” kata Shirley.
Ketua Panitia Pembangunan Kembali Wihara Dharma Bakti, Shu Yin Pramono menjelaskan, untuk pembangunan Wihara Dharma Bakti merupakan tantangan tersendiri untuk para arsitek, karena panitia harus mengikuti berbagai aturan dari pemerintah, tentang pembangunan cagar budaya.
“Kami menggaris bawahi ke Tionghoan Indonesia” dalam pelestarian cagar budaya ini, sehingga komponen 70% dari Indonesia sangat tampak dan ada perbedaan dengan Tiongkok,” pungkas Shu Yin. bam
