Waspada Superflu, Kenali Gejala dan Pencegahannya

JAKARTA(LB) — Varian virus influenza A subtipe H3N2 Subclade K atau superflu kian menjadi perhatian seiring meningkatnya kasus di Indonesia. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, tercatat 62 kasus superflu hingga akhir Desember 2025 yang tersebar di delapan provinsi.

Pakar Imunologi Universitas Airlangga, dr Agung Dwi Wahyu Widodo mengungkapkan varian ini memiliki potensi menimbulkan dampak kesehatan yang lebih serius, terutama pada kelompok rentan. 

Menurutnya, virus influenza tipe A dikenal memiliki tingkat variasi antigenik yang tinggi akibat keberadaan protein permukaan Hemaglutinin (HA) dan Neuraminidase (NA). Perubahan genetik yang terus terjadi, atau dikenal sebagai antigenic drift, membuat virus mampu berevolusi dan membentuk varian baru.

“Virus influenza, khususnya tipe A, sangat dinamis. Kemampuannya melakukan reassortment atau penyusunan ulang genetik inilah yang memicu munculnya varian-varian baru yang berpotensi menimbulkan gejala lebih berat bagi individu yang tidak memiliki kekebalan,” kata dia dalam keterangan tertulis dikutip pada Rabu (7/1).

Secara klinis, kata dr Agung, superflu menimbulkan gejala yang mirip flu biasa seperti demam, batuk, pilek, dan nyeri otot. Namun, mutasi yang terjadi meningkatkan risiko komplikasi serius, termasuk pneumonia, terutama pada lansia, anak-anak, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis.

Agung mengatakan vaksinasi influenza tahunan adalah cara paling efektif untuk menekan risiko keparahan akibat superflu. Mengingat sifat virus yang terus bermutasi, pembaruan vaksin secara rutin sangat perlu agar kekebalan tubuh tetap relevan dengan strain yang sedang bersirkulasi di masyarakat.

“Vaksinasi dan proteksi pribadi adalah kunci utama. Jika individu terlindungi, maka risiko penularan secara komunitas juga akan ikut menurun,” ujar dr Agung.

Selain vaksinasi, penerapan protokol kesehatan seperti penggunaan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak tetap menjadi garda terdepan pencegahan. Dari sisi pengobatan, pemberian antiviral seperti Oseltamivir masih dinilai efektif jika diberikan dalam waktu kurang dari 48 jam sejak gejala pertama muncul.

la juga mengingatkan masyarakat agar tidak meremehkan gejala flu, terutama di tengah musim hujan dan munculnya varian baru. Kesadaran akan diagnosis dini dan kelengkapan vaksinasi diharapkan dapat mencegah terjadinya wabah yang lebih luas di Indonesia.

Dalam menghadapi lonjakan kasus influenza, dr Agung menekankan vitalnya peran laboratorium mikrobiologi klinik dalam melakukan diagnosis yang akurat. la menyebutkan metode Real-Time PCR (RT-PCR) tetap menjadi standar emas untuk membedakan influenza dengan virus pernapasan lainnya seperti SARS-CoV-2 atau RSV.

“Diagnosis cepat bukan sekadar untuk menentukan obat, tetapi juga untuk surveilans strain. Kita perlu memantau apakah virus yang beredar telah mengalami resistensi terhadap antiviral yang ada saat ini,” kata dr Agung.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *