Wamendikdasmen: Karya Multatuli Inspirasi Pemerataan Keadilan

Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat (tengah) foto bersama di Pendopo Pemkab Lebak, Provinsi Banten, Senin (1/6).

LEBAK (LB)- Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat mengatakan karya Multatuli berupa novel berjudul “Max Havelaar” yang identik dengan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten memberikan inspirasi tentang pentingnya pemerataan keadilan.

“Dengan karya Multatuli para tokoh bangsa Indonesia di kemudian hari berjuang untuk menegakkan keadilan dan mengusir kolonial penjajahan itu,” kata dia saat mengunjungi Museum Multatuli Rangkasbitung, Kabupaten Lebak di Rangkasbitung, Senin (1/6).

Semangat perjuangan tokoh bangsa itu, katanya, akhirnya berkorelasi langsung terhadap Pancasila pada sila kedua dan kelima.
Oleh karena itu, kata dia, Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjalankan regulasi pemerataan keadilan, khususnya bagi kelompok rentan dan masyarakat miskin.

Ia menyebut  Sekolah Rakyat merupakan penjabaran sila kelima Pancasila yakni “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”.

Ia juga mengapresiasi dukungan Bupati Lebak melaksanakan Sekolah Rakyat sebagai komitmen pemerataan keadilan bagi keluarga rentan dan miskin.

“Dengan demikian, kehadiran pemerintah tentu berkomitmen untuk pemerataan keadilan, termasuk dunia pendidikan,” katanya.
Ia mengakui bahwa tantangan memajukan dunia pendidikan cukup berat, sedangkan upaya mendorong akses keadilan dalam pendidikan itu, di antaranya melalui program Sekolah Rakyat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Berdasarkan laporan bupati, katanya, pelaksanaan MBG di Lebak berjalan baik, sedangkan berbagai kekurangan pelaksanaan program itu terus dilakukan perbaikan.

Pemerintah juga menjadikan masukan atas program itu untuk pelaksanaan yang lebih baik dan dirasakan masyarakat.

“Kami meyakini program-program yang dilaksanakan Pemerintah Prabowo itu untuk pemerataan keadilan dan memuliakan martabat warga bangsa,” katanya .

Menyinggung penerapan kurikulum Bahasa Prancis, kata dia, masih dalam pengkajian Kemendikdasmen.

Sebetulnya, katanya, mata pelajaran Bahasa Prancis sudah diajarkan di SMA dan SMK sebagai mata pelajaran pilihan. “Pelajaran bahasa Prancis juga bukan hal yang baru,” katanya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *