Salah satu armada Trans Jateng yang beroperasi di Kota Solo.
SEMARANG (LB)- Pemerintah Provinsi Jawa Tengah merencanakan penambahan rute Trans Jateng Koridor Magelang–Temanggung (Gelangmanggung) yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Koridor baru ini akan melayani rute Terminal Maron (Kabupaten Temanggung)–Terminal Tidar (Kota Magelang)–Terminal Borobudur (Kabupaten Magelang) dengan dukungan 14 armada bus.
Pengembangan transportasi massal berbasis aglomerasi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan konektivitas antarwilayah, tetapi juga diproyeksikan mampu menekan pengeluaran transportasi masyarakat.
Langkah tersebut sejalan dengan komitmen Pemprov Jawa Tengah dalam memperkuat sistem transportasi publik terintegrasi di kawasan aglomerasi.
Kawasan aglomerasi Gelangmanggung yang meliputi Kabupaten Magelang, Kota Magelang, dan Kabupaten Temanggung diharapkan dapat menunjang mobilitas harian masyarakat, mendukung sektor pariwisata, serta mengurangi beban biaya transportasi warga.
Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Tengah, Arief Djatmiko, mengatakan Koridor Magelang–Temanggung merupakan bagian dari sistem transportasi terintegrasi yang disiapkan bersamaan dengan pengembangan kawasan aglomerasi Gelangmanggung. “Persiapan pengembangan aglomerasi ini diawali dengan membangun komitmen bersama untuk integrasi dan kolaborasi sistem transportasi, mulai dari sistem primer hingga kota dan desa,” ujar Arief dalam keterangan tertulis, Jumat, (23/1).
Arief menyebutkan, Pemprov Jawa Tengah telah melakukan penandatanganan kesepakatan bersama antara Gubernur Ahmad Luthfi dengan para bupati dan wali kota di wilayah pengembangan Gelangmanggung sebagai bentuk keseriusan pengembangan transportasi massal.
Komitmen tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah setempat. Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, menilai langkah ini menjadi awal penting dalam membangun sistem transportasi yang saling terhubung antarwilayah.
“Ini komitmen bersama Magelang-Temanggung untuk merancang mobilitas warga yang lebih terhubung, nyaman, dan berkelanjutan. Lewat kolaborasi aglomerasi, transportasi tidak lagi berdiri sendiri, tetapi saling menguatkan antarwilayah,” ungkap Damar.
Dukungan serupa juga disampaikan Pemerintah Kabupaten Temanggung melalui Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Temanggung, Saltiyono Atmaji, dengan menyiapkan angkutan pengumpan (feeder) dari wilayahnya menuju halte Trans Jateng Koridor Gelangmanggung.
Sementara itu, Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang telah berkoordinasi dengan Dishub Provinsi Jawa Tengah terkait rencana pembukaan koridor tersebut sejak pertengahan 2025. Kepala Bidang Angkutan Jalan Dishub Provinsi Jawa Tengah, Bekora Seputranto, mengungkapkan bahwa pihaknya masih melakukan sosialisasi kepada Organisasi Angkutan Darat (Organda) di tiga wilayah yang masuk kawasan aglomerasi.
Ia menegaskan, kehadiran Trans Jateng tidak dimaksudkan untuk mematikan atau menjadi pesaing bagi angkutan eksisting. “Operator eksisting akan dilibatkan sebagai operator Trans Jateng melalui pembentukan konsorsium, proses scraping, serta mengikuti lelang. Awak angkutan yang terdampak juga dapat bergabung sebagai pramudi atau pramujasa,” tutur Bekora.
Bekora berharap, kehadiran Trans Jateng Koridor Gelangmanggung mampu meningkatkan aksesibilitas masyarakat sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah. Dishub menilai kebijakan tarif Trans Jateng memberikan penghematan signifikan bagi warga. “Rata-rata penghematan biaya transportasi warga mencapai Rp 100.000 hingga Rp 300.000 per bulan,” ungkapnya. *
