Timnas Senegal Menjuarai Piala Afrika

Skuad timnas Senegal mengangkat trofi Piala Afrika 2025.

RABAT – Timnas Senegal menjuarai Piala Afrika 2025 usai mengalahkan Timnas Maroko dengan skor 1-0 pada pertandingan final di Stadion Prince Moulay Abdellah, Rabat, Maroko, Minggu (18/1) malam waktu setempat.

Senegal meraih kemenangan berkat gol semata wayang Pape Gueye pada babak tambahan pertama, tepatnya di menit 94.

Senegal sedianya sempat dapat gol di menit ke-90+2 lewat Abdoulaye Seck, namun dianulir wasit. Tak lama berselang, Maroko yang justru dihadiahi penalti usai Brahim Diaz dilanggar El Hadji Malick Diouf.

Ini menjadi gelar kedua Piala Afrika bagi Senegal sepanjang sejarah setelah sebelumnya berhasil mereka menangkan pada edisi 2021 silam ketika dilangsungkan Maroko.

Di sisi lain, hasil ini memperpanjang penantian Maroko untuk meraih gelar juara Piala Afrika setelah terakhir kali berhasil mereka menangkan pada 1976 lalu saat dilangsungkan di Ethiopia.

Pelatih Senegal, Pape Thiaw menyebut kemenangan ini sebagai bukti kerja keras dan disiplin tim. “Kami sangat bangga. Pemain menunjukkan determinasi tinggi dan kemampuan untuk tetap fokus sampai peluit akhir,” ujar Thiaw kepada wartawan.

Keputusan wasit Jean Jacques Ndala sempat bikin Thiaw, geram. Ia sampai meminta pemainnya walk out dari lapangan.

Setelah lebih dari 15 menit menunda, Senegal akhirnya mau melanjutkan pertandingan lagi. Maroko, yang tetap diberi penalti, malah gagal memanfaatkannya usai tendangan panenka Brahim Diaz mudah ditangkap Edouard Mendy.

Usai laga, Pape Thiaw meminta maaf atas aksi walk out timnya. “Kami sebenarnya tidak setuju. Saya tidak ingin membahas semua insidennya. Saya meminta maaf atas sepakbola. Setelah memikirkannya, saya membuat mereka kembali (ke lapangan). Anda bisa bereaksi dalam panasnya situasi. Kami menerima kesalahan wasit. Kami tidak seharusnya melakukannya, tapi itu sudah terjadi dan sekarang kami menyampaikan permintaan maaf kepada sepakbola,”  katanya saat diwawancara beIN.

Sadio Mane menunjukkan kepemimpinan dengan menolak walk out. Kala itu gol Senegal yang dicetak Abdoualey Seck dianulir hakim garis karena dianggap terjadi pelanggaran lebih dulu. Pasukan Thiaw semakin marah besar ketika Maroko mendapat hadiah penalti tak lama berselang.

Senegal melakukan protes keras atas keputusan wasit yang memberi penalti Maroko. Thiaw menginstruksikan para pemain untuk walk out meninggalkan lapangan. Mane dan segelintir pemain Senegal tetap berada di lapangan dan tak mengikuti arahan walk out. Dia bahkan berlari ke ruang ganti dan meminta para pemain melanjutkan pertandingan. “Kita akan bermain seperti petarung, ayo kembali ke lapangan,” kata Mane.

Sementara pelatih Maroko Walid Regragui meluapkan kekecewaannya.  Menurutnya, laga puncak yang seharusnya menjadi etalase terbaik justru ternoda oleh penghentian pertandingan.

“Gambaran yang kami tampilkan tentang sepak bola Afrika sangat memalukan. Menghentikan pertandingan lebih dari 10 menit saat seluruh dunia menyaksikan jelas bukan sesuatu yang pantas,” ujar Regragui.

Regragui menilai jeda panjang sebelum penalti berdampak pada konsentrasi pemainnya. “Dia punya waktu yang sangat lama sebelum mengambil penalti dan itu pasti mengganggunya. Namun, kami tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Begitulah cara dia memilih menendang penalti. Sekarang kami harus menatap ke depan,”  kata Regragui.

Hasil tersebut juga menjadi kekalahan pertama bagi sang semifinalis Piala Dunia 2022 itu sejak tersingkir oleh Afrika Selatan pada babak 16 besar Afcon 2024.

Meski gagal juara, performa tim nasional Maroko tetap mendapat apresiasi. Raja Mohammed VI menyampaikan ucapan selamat kepada skuad Atlas Lions atas pencapaian mereka di turnamen tersebut.

Selepas Afcon, Maroko dituntut segera bangkit karena agenda besar telah menanti. Mereka akan tampil di Piala Dunia yang digelar di Amerika Utara pada Juni mendatang, satu grup dengan Brasil, Skotlandia dan Haiti.

“Sepak bola kadang kejam. Kali ini kami kalah dan di final, peluang selalu sedikit dan harus dimaksimalkan. Penalti di detik-detik akhir itu bisa saja memberi kami gelar, tetapi takdir berkata lain. Kita bisa membahasnya berjam-jam, namun saya berharap tim ini kembali lebih kuat,” tukasnya.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *