Studi Ungkap Banyak Perempuan Berisiko Kanker Akibat Gunakan Skincare

Ilustrasi Skincare

JAKARTA(LB) — Sebuah studi terbaru menemukan bahwa banyak produk kecantikan yang digunakan perempuan setiap harinya mengandung bahan kimia berbahaya yang dapat memicu kanker. Penelitian ini diterbitkan dalam jurnal Environmental Science & Technology Letters. 

Dalam studi ini, para peneliti menganalisa kebiasaan 64 perempuan di Los Angeles AS dalam menggunakan produk perawatan kulit (skin care) selama satu pekan. Para partisipan diminta memotret label bahan dari setiap produk yang mereka gunakan. 

Hasilnya, lebih dari separuh peserta dilaporkan menggunakan produk seperti sabun mandi, body lotion, shampoo, kondisioner,  eyeliner, pemutih kulit, hingga lem bulu mata yang mengandung formaldehida atau bahan pengawet yang melepaskan formaldehida. Ini merupakan zat yang telah lama diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia.

“Ini sangat mengkhawatirkan karena kita secara sadar memasukan bahan pelepas karsinogen ke dalam produk yang kita aplikasikan setiap hari,” kata peneliti utama studi dan direktur riset di Silent Spring Institute, Robin Dodson, dilansir dari NPR, Senin (12/5). 

Formahelida dikenal sebagai pengawet yang sangat efektif dan kerap digunakan dalam berbagai produk industri, termasuk cairan pengawet jenazah. 

Namun paparan berulang terhadap zat ini melalui kulit atau saluran pernapasan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan serius termasuk kanker.

Studi ini memperluas temuan sebelumnya dengan menunjukkan bahwa formahelida dan bahan pelepas formahelida tak hanya ditemukan dalam produk pelurus rambut, tetapi juga dalam berbagai produk kecantikan yang lebih sering digunakan.

Salah satu partisipan bahkan tercatat menggunakan tiga produk mengandung formahelida sekaligus: dua jenis kondisioner dan sabun mandi. 

Secara total, partisipan menggunakan 1.143 produk dalam sepekan, atau rata-rata 17 produk per orang setiap hari. Angka ini dinilai mencerminkan tekanan sosial terhadap perempuan untuk tampil sesuai dengan standar kecantikan tertentu.

“Kami menyerukan pengawasan dan regulasi yang lebih ketat terhadap kandungan bahan kimia dalam produk kecantikan,” kata peneliti. 

Meski formahelida telah dikategorikan sebagai zat penyebab kanker oleh lembaga federal AS sejak lebih dari satu dekade lalu, hingga kini belum ada pelarangan resmi yang diberlakukan. Sebaliknya, Uni Eropa telah melarang formahelida sebagai bahan kosmetik sejak tahun 2009.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *