Raphinha, Robert Lewandowski dan Lamine Yamal, pilar utama Barcelona.
BARCELONA – Hansi Flick menantang Barcelona mencapai 100 poin di Liga Spanyol musim ini. Dengan sembilan laga sisa, Lamine Yamal dan kolega harus menang terus demi merealisasikannya.
Barcelona kini mengoleksi 73 poin dari 29 laga di Liga Spanyol. Mereka duduk di peringkat pertama klasemen, unggul empat poin dari Real Madrid di tempat kedua.
Dengan menyisakan sembilan laga, artinya Barca harus sapu bersih kemenangan dan poinnya akan pas berjumlah 100. Tim yang finis dengan 100 poin, baru ada dua di LaLiga. Raihan ini pertama kali dipegang Real Madrid asuhan Jose Mourinho pada musim 2011/12. Saat itu, Los Blancos berhasil meraih 100 poin, dengan 32 kemenangan, 4 hasil imbang, 2 kekalahan, dan 121 gol.
Prestasi itu kemudian disamai oleh Barcelona asuhan Tito Vilanova di musim berikutnya (2012/13). La Blaugrana tercatat membukukan 100 poin dengan mencetak 115 gol.
“Penting bagi kami untuk terus meraih kemenangan. 100 poin merupakan pencapaian yang bagus dan saya harap seluruh pemain bisa melakukannya. Semua ditantang untuk melakukan sesuatu agar meraih trofi di akhir musim dengan fantastis,” kata Flick di situs klub.
Meski begitu, Barcelona harus siap menghadapi jadwal pertandingan-pertandingan yang sulit. Barcelona masih akan menjalani El Clasico kontra Real Madrid pada 11 Mei.
Sementara itu Pep Guardiola melontarkan pujian ke Barcelona saat ini. Manajer Manchester City itu sangat menikmati permainan Barca dan berusaha selalu menonton mereka.
Barcelona menyesuaikan diri di bawah Flick. Bersama pelatih asal Jerman itu, Blaugrana masih melandaskan permainan di penguasaan bola tapi dengan sejumlah perubahan pendekatan.
Barca diminta bermain lebih agresif, lebih cepat, dan lebih banyak memainkan umpan vertikal alih-alih bermain di tempo lambat. Flick menginstruksikan pertahanannya untuk bermain amat tinggi sehingga tim bisa menekan jauh dan merebut bola secepat mungkin dari lawan.
Hasilnya adalah, Barcelona dinilai sangat menghibur namun juga kaos alias kacau. Pertandingannya menjanjikan banyak gol baik dari mereka sendiri maupun dari lawan karena amat terbuka.
Guardiola yang juga mantan pelatih Barca, menilai pendekatan ini yang membuat tim saat ini amat menarik. Barcelona-nya Flick main tanpa rasa takut dan percaya diri selalu bisa mencetak gol lebih banyak dari lawan.
“Kapan pun saya punya kesempatan untuk menonton Barca, saya melakukannya dengan penuh minat sebab bagi saya itu sangat menghibur. Itu perasaan yang penting di sepakbola, perasaan bisa menikmati pertandingan. Ini tim Barca yang bikin Anda menikmati pertandingan, dan ketika Anda duduk di depan televisi, Anda tahu bakal punya waktu yang menyenangkan menonton tim itu,” ujar Guardiola dikutip Mundo Deportivo.
Jika Guardiola sudah terpikat, cerita lebih dramatis datang dari Thierry Henry. Eks striker Arsenal itu sempat meragukan gaya bermain agresif Barcelona. Keraguan itu muncul saat Barca mengalami periode inkonsisten, bahkan gaya Flick dinilai terlalu berisiko untuk bersaing di level tertinggi.
Namun semuanya berubah setelah Barcelona tampil menggila di Liga Champions. Blaugrana menghancurkan Newcastle United dengan skor telak 7-2 di leg kedua babak 16 besar. “Selamat untuk Barcelona. Eropa mulai merasakan ancamannya. Itu bukan sekadar kemenangan, tapi seperti gempa global,” kata Henry.
Ia juga terkesan dengan perubahan Barcelona di babak kedua melawan Newcastle, setelah sempat unggul tipis 3-2 saat turun minum. “Babak kedua mereka luar biasa. Itu transformasi total. Itulah Barcelona yang sebenarnya,” lanjut pemain yang pernah memperkuat Barcelona itu.
Henry bahkan menilai Barcelona punya potensi luar biasa pada musim ini jika bisa terus tampil secara konsisten. Duet lini depan seperti Lamine Yamal dan Robert Lewandowski menjadi ancaman nyata bagi lawan. “Ketika mereka bermain seperti itu, hampir mustahil untuk dihentikan,” tegas Henry.
Terkait Lewandowski, kini ia bukan lagi pengambil penalti pertama di Barcelona. Penyerang veteran top itu mengakui, dirinya kurang percaya diri.
Lewandowski semula jadi pengambil penalti utama Blaugrana. Namun, kondisi itu berubah setelah Lewandowski gagal mengonversi dua dari tiga kesempatan penalti di musim ini.
Adapun tugas mengambil penalti Barcelona kini dilakukan Yamal dan Raphinha secara bergantian. “Sudah jelas bahwa kadang-kadang, ketika Anda kurang percaya diri, memang ada rasa ragu-ragu dan keputusan dibuat di atas lapangan. Toh ada pemain-pemain yang mengambil penalti dengan baik. Saya sebenarnya siap, tapi ketika Anda merasa Anda kurang mendapatkan menit bermain, kepercayaan diri, perasaan dan ritme, lebih baik memilih opsi terbaik untuk tim,” ucap penyerang berusia 37 tahun ini di SPORT.
Namun terlepas dari itu, baik Yamal maupun Lewandowski serta pemain lainnya harus tetap kompak dan solid agar poin 100 di akhir musim bisa tercapai.***
