Psikolog Sebut Gen Alpha Rentan Depresi

JAKARTA(LB)– Kasus bunuh diri yang melibatkan anak dan remaja masih kerap terjadi. Dalam sebulan terakhir, empat insiden dugaan bunuh diri anak terjadi di Sumatra Barat dan Jawa Barat.

Peristiwa ini dinilai menjadi sinyal darurat untuk lebih memperhatikan kondisi kesehatan mental generasi muda, terutama generasi Alpha, yaitu anak-anak yang lahir pada rentang tahun 2010 hingga 2024. Psikolog dan Manajer Center for Public Mental Health UGM, Nurul Kusuma Hidayati, menyebut meningkatnya kasus bunuh diri harus dipandang sebagai alarm darurat yang menunjukkan perlunya langkah cepat dan kolaboratif untuk melindungi kesehatan mental anak.

Kondisi ini membuat mereka akrab dengan dunia digital, tetapi di sisi lain rentan kelelahan emosional (emotional burnout) bahkan depresi. 

“Mereka berisiko lebih dini mengalami kelelahan emosional, sementara kemampuan pengelolaan pikirannya belum matang. Kombinasi ini berpotensi membuat anak terjebak dalam tekanan mental yang berat hingga berujung pada tindakan ekstrem,” kata dia.

Nurul mengungkapkan ada sejumlah tantangan besar dalam mencegah depresi pada generasi Alpha. Salah satunya adalah rendahnya literasi kesehatan mental masyarakat. Masih banyak orang tua dan guru yang belum memahami tanda-tanda awal gangguan psikologis pada anak.

Akibatnya, deteksi dini tidak terjadi dan masalah psikologis dibiarkan berkembang hingga mencapai titik krisis. Selain itu, komunikasi antar generasi yang berjarak juga menjadi tantangan tersendiri. “Kurangnya dialog yang empatik antara orang tua dan anak membuat proses pertolongan pertama psikologis tidak berjalan dengan baik,” kata Nurul.

Tantangan lain yang muncul adalah rendahnya kemampuan anak dalam mengatur emosi akibat minimnya literasi emosi di lingkungan keluarga. Dalam banyak kasus, peran pengasuhan kini banyak digantikan oleh media digital, sehingga anak-anak kehilangan kesempatan belajar langsung dari orang tua tentang bagaimana mengekspresikan dan mengelola perasaan dengan sehat.

“Paparan dunia digital yang tidak terkontrol semakin memperparah kondisi ini karena anak-anak seringkali tidak memiliki filter dalam menyerap informasi atau membandingkan diri dengan orang lain di media sosial,” ujar Nurul.

Untuk menekan risiko depresi dan tindakan ekstrem pada anak, Nurul menegaskan pentingnya langkah konkret dari keluarga dan sekolah sebagai dua lingkungan utama tempat anak tumbuh. Di tingkat keluarga, orang tua perlu menerapkan aturan screen time yang bijak untuk seluruh anggota keluarga, bukan hanya anak-anak.

Selain itu, orang tua diharapkan berperan aktif sebagai “pelatih emosi” dengan menanamkan contoh ekspresi emosi yang positif dan terbuka. 

“Keluarga perlu membangun komunikasi yang suportif dan meningkatkan literasi kesehatan mental agar bisa mendeteksi tanda-tanda awal perubahan perilaku anak,” kata dia.

Di sisi lain, sekolah juga memiliki peran penting dalam membangun sistem kesehatan mental yang menyeluruh. Nurul mendorong sekolah untuk mengembangkan school-based mental health system yang berfokus pada upaya promotif dan preventif, bukan sekadar penanganan setelah terjadi masalah.

“Sekolah harus memastikan bahwa setiap anak merasa aman, terbebas dari tekanan sosial maupun perundungan,” kata dia.

Dalam jangka panjang, Nurul berharap generasi Alpha dapat tumbuh di lingkungan yang ramah kesehatan mental. la menegaskan pentingnya pendidikan yang tidak hanya menekankan pada kecerdasan intelektual, tetapi juga ketahanan emosional.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *