Skuad Paris Saint-Germain mengangkat trofi Piala Super Eropa 2025.
UDINESE – Paris Saint-Germain (PSG) berhasil jadi juara Piala Super Eropa 2025. Juara Liga Champions itu mengalahkan Tottenham Hotspur lewat adu penalti dalam duel yang digelar di Stadion Friuli, Udinese, Kamis (14/8) dini hari WIB.
Dalam laga itu Tottenham mencetak gol lebih dahulu melalui Micky van de Ven di menit ke-39. Tottenham menambah gol di paruh kedua melalui Cristian Romero. Namun PSG menyamakan kedudukan melalui Lee Kang-in dan Goncalo Ramos. Skor 2-2 jadi hasil akhir di waktu normal dan lanjut ke adu penlti.
Di babak tos-tosan ini, PSG keluar sebagai pemenang setelah menang 4-3 akibat dua penendang Tottenham, yakni Micky van de Van dan Mathys Tel, gagal melaksanakan tugasnya.
Pelatih Paris Saint-Germain Luis Enrique mengakui timnya tidak pantas menang. Statistik menunjukkan, Tottenham Hotspur lebih tajam dengan lima tembakan ke arah gawang berbanding tiga. Walau PSG lebih mendominasi dengan 75 persen penguasaan bola.
“Selama 80 menit kami tidak pantas menang. Tottenham bermain bagus dan pantas menang, Kami sangat beruntung bisa mencetak dua gol di 10 menit terakhir,” kata Enrique dikutip dari TNT Sports.
Enrique menyoroti ketimpangan kondisi fisik antara kedua tim. Menurut dia, Tottenham tampil lebih siap karena telah menjalani pramusim selama enam pekan, sedangkan PSG baru enam hari memulai latihan usai tampil di final Piala Dunia Antarklub. Namun ia tak ingin euforia menutupi kekurangan timnya. “Kadang sepak bola memang tidak adil,” ujarnya.
Kemenangan yang bikin Enrique puas karena perjuangan PSG untuk mengejar ketertinggalan tidak sia-sia. “Kami mampu bertarung hingga akhir, tapi kami harus melakukan perbaikan. Jika saya harus bilang satu hal yang penting untuk kami, di mana itu penting musim lalu, itu adalah keyakinan kami. Kami yakin bisa terus menang. Saya sangat bahagia,” ujar Enrique di situs resmi UEFA.
Salah satu sorotan positif datang dari debut kiper muda Lucas Chevalier yang menggantikan posisi Gianluigi Donnarumma. Meski melakukan kesalahan pada gol kedua Tottenham, Chevalier berhasil menebusnya dengan menyelamatkan penalti Van de Ven di babak adu penalti.
“Dia menunjukkan kepribadian besar, dan itu sangat penting di klub seperti PSG karena tekanan begitu besar,” kata Enrique.
Sementara itu, gelandang PSG Vitinha menyoroti semangat kolektif timnya saat menghadapi tekanan di babak adu penalti. “Inilah definisi dari tim. Ketika seseorang gagal, yang lain membantu,” kata Vitinha.
Keberhasilan PSG merebut Piala Super Eropa 2025 kian menegaskan superioritas mereka atas klub-klub Inggris sejak awal musim lalu. PSG memenangi enam dari 10 pertandingan, dengan empat kekalahan di semua kompetisi.
Di Liga Champions, PSG menyingkirkan Manchester City di playoff fase gugur, lalu mendepak Liverpool (babak 16 besar), Aston Villa (perempatfinal), dan Arsenal (semifinal). Adapun kegagalan PSG melewati klub Inggris adalah ketika kalah 0-1 di tangan Arsenal di fase liga Liga Champions, dan takluk 0-2 dari Chelsea di final Piala Dunia Antarklub 2025.
Sementara Thomas Frank sudah meramu taktik sebaik mungkin untuk Tottenham Hotspur di laga ini. Sayang, itu tak cukup untuk mengalahkan Paris Saint-Germain.
Taktik serangan balik Tottenham berjalan baik karena mereka mampu merepotkan PSG. Sekalipun menguasai 74 persen ball possesion, PSG kesulitan menciptakan peluang.
“Saya tahu kami harus melakukan sesuatu yang berbeda untuk menghadapi PSG, ini seperti operasi spesial. Di dunia medis, operasinya sukses tapi pasiennya meninggal. Jadi hasil akhirnya tidak bagus. Tapi kami memang memainkan taktik sedikit berbeda dan kami hampir saja menang. Saya rasa jika semua orang bilang ini imbang dan kami kalah di penalti, mereka bakal berpikir ‘oh, sudah bagus ‘. Dan jika Anda melihat performa tim dan juga usaha mereka sepanjang laga. Mental para pemain luar biasa. Banyak hal bikin senang dari laga ini,” ujarnya.***
