Foto bersama (duduk, ki-ka) Paulus,Zulkifli Gani Otto,KDH Tranku,Wang Yong He,Iin Minarni dan Dewi serta (berdiri, ki-ka) Matius Sassu, Fang, Indrawan dan Fathan.
JAKARTA – Pimpinan dan Pengurus Indonesia-China One Belt One Road Aliansi Strategy menggelar pertemuan membahas berbagai agenda dalam rangka peran serta meningkatkan investasi di Indonesia. Acara ini berlangsung di Kantor MSMC (Makassar Strait Marine Center), Jl Suryopranoto, Jakarta, Rabu (21/1) siang.
Para tokoh yang hadir adalah President DR KDH Tranku, pengusaha asal Beijing Wang Yong He, para Vice President seperti Iin Minarni, Zulkifli Gani Otto, Budi, Matius Sassu serta pengurus dan staf lainnya.
Sebagaimana data terbaru yang disampaikan oleh Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani beberapa hari lalu, realisasi investasi sepanjang Januari-Desember 2025 berhasil menyentuh angka Rp 1.931,2 triliun.

Lalu penanaman modal asing (PMA) tercatat sebesar Rp900,9 triliun atau 46,6%, sementara penanaman modal dalam negeri (PMDN) Rp 1.030,3 triliun atau 53,4%. Lalu serapan tenaga kerja dari total investasi itu mencapai 2.710.532 orang.
Investasi yang masuk Pulau Jawa sebesar 49,8% sementara di luar Pulau Jawa sebesar 50,2%. Investasi yang berasal dari PMA sebanyak Rp256,3 triliun atau 51,6% sementara PMDN sebesar Rp 240,6 triliun atau 48,4%.

“Kalau mengacu pada data yang disampaikan Pak Menteri Rosan, investasi di luar Jawa sudah menanjak. Itu artinya kami di Indonesia-China One Belt One Road Aliansi Strategy dan juga MSMC perlu bergerak cepat untuk fokus menghadirkan investor di Indonesia bagian Timur seperti Sulawesi, Kalimantan, Kepulauan Maluku, NTT dan sekitarnya. Tentu investasi yang diharapkan harus mendapatkan dukungan dari masyarakat setempat atau pengambil kebijakan setempat,” kata KDH Tranku.
Ia menambahkan, Indonesia-China One Belt One Road Aliansi Strategy akan terus berjuang memperkenalkan potensi investasi di Indonesia Timur ke para pengusaha di RRT atau negara lain.

“Kita punya perwakilan di Beijing. Dan kali ini Pak Wang Yong He hadir di pertemuan ini. Tentu kita akan mendorong beliau untuk terus mencari dan menjajaki kerja sama dengan para pengusaha di RRT. Kita harus terus mendukung program pemerintah dalam meningkatkan investasi di Indonesia. Peran swasta harus kuat,” kata KDH Tranku.
Sementara Wang Yong He mengatakan bahwa begitu banyak pengusaha di RRT, khususnya Beijing yang ingin mendapatkan informasi peluang bisnis dan investasi di Indonesia. Maka, Indonesia-China One Belt One Road Aliansi Strategy harus aktif untuk meyakinkan pengusaha di RRT untuk datang berinvestasi di Indonesia.
Pada saat itu Zulkifli Gani Otto, Iin Minarni, Matius Sassu dan lainnya juga memberikan masukan terkait upaya untuk mendatangkan investor di Indonesia, khususnya di Indonesia Timur.***
