Peringati 70 Tahun Prof. Jimly Asshidiqie, MATAKIN Gelar Syukuran dan Potong Tumpeng

JAKARTA (LB)—Dalam rangka mensyukuri Ulang tahun ke-70 Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) periode 2003-2008 Prof Jimly Asshiddiqie, yang saat ini juga menjadi Ketua Kehormatan MATAKIN periode 2022-2026, MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu) pada Jumat (17/4/2026) lalu menggelar syukuran dengan pemotongan tumpeng dan makan malam di Hariston Hotel, Penjaringan, Jakarta Utara.

          Pada kesempatan itu pula, MATAKIN merilis buku kenangan yang berisi pengalaman, kesan dan cerita kebersamaan sahabat MATAKIN dengan Prof. Dr Jimly Asshiddiqie.

Prosesi Syukuran 70 tahun Prof Jimly juga dibarengi dengan syukuran HUT ke-73 Haris Chandra, Ketua Kehormatan MATAKIN.

Kedatangan Prof. Jimly dan Haris Chandra ke lokasi acara tampak didampingi oleh keluarga masing – masing.

          Selain itu, ratusan tamu dari berbagai kalangan turut hadir memeriahkan acara tersebut, diantaranya tokoh agama Katolik sekaligus Ketua Konferensi Wali Gereja Indonesia, Romo Antonius Subianto Bunyamin, pengurus KWI Rudy Pratikno, tokoh Agama Kristen, Pendeta Johan Kristantara, tokoh agama Buddha, Piandi Ang (Permabudhi), Pimpinan Spritual Nusantara, Sri Eko Galgendu, Pengurus Pusat MATAKIN serta umat Khonghucu se Jabodetabek dan perwakilan PT. Aditya Sarana Graha.

          Acara dimulai dengan pembacaan doa selamat dan syukuran oleh Pengurus MATAKIN, Ws. Mulyadi dan langsung dilanjutkan den sambutan dari Ketua Umum MATAKIN, Xs. Budi S. Tanuwibowo.

Menurut Ketum Budi, hubungan baik dirinya dengan Prof Jimly sudah terjalin sejak lama. Ia kemudian bercerita masa – masa awal pertemuannya dengan Prof, Jimly

“Pertemuan awal saya dengan Prof Jimly sudah sejak lama, yaitu saat momen buka puasa bersama yang digelar Majelis Reboan. Alm. Pak Djohan Effendy dan Pak Utomo Dananjaya yang mengundang saya. Acara dihadiri para tokoh intelektual Islam, salah satunya Prof. Jimly dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI),” kata Budi mengawali sambutannya.

          “Prof. Jimly Asshiddiqie yang kala itu menjabat sebagai Ketua MK telah banyak membantu MATAKIN dalam memperjuangkan hak-hak Sipil umat Khonghucu,  bahkan sampai saat ini. Sehingga banyak cerita, pengalaman, kesan teman-teman MATAKIN bersama dengan Prof. Jimly yang dituangkan dalam buku tersebut. Dari sekian banyak pengalaman dan kesan dengan beliau , ada yang sangat berkesan dan itu selaras dengan ajaran agama Khonghucu, misal menurut Prof Jimly hukum saja tak cukup, tapi harus dibarengi dengan moralitas dan etika yang menjadi dasar hukum tersebut,” tambah Budi.

          Mengingat jasa Prof. Jimly Asshiddiqie bagi umat Khonghucu, pada momen yang istimewa ini, MATAKIN untuk pertama kalinya menganugerahi nama Mandarin/Tionghoa yaitu Li Zhèngyì, yang berarti berani, jujur dan luhur yang maknanya sama dengan nama “Asshiddiqie”.

          Sementara itu dalam sambutannya, Prof Jimly mengatakan tidak ada bangsa selain Indonesia yang memberikan salam dengan berbagai agama.

“Saya rasa hanya di Indonesia, salam pembuka diawali dengan berbagai macam agama, hal ini sakaligus doa baik agar bangsa ini dapat terus rukun dan damai,” kata  Jimly.

          Prof Jimly kemudian menceritakan perjuangan Pengurus MATAKIN hingga memperoleh kembali pelayanan hak-hak sipilnya oleh pemerintah. Ia kemudian menegaskan bahwa Perayaan Imlek di Indonesia merupakan perayaan keagamaan bukan etnis atau budaya.

“Jadi hari raya tahun baru Imlek merupakan peristiwa keagamaan bukan hari raya etnis atau budaya, walau di Tiongkok sendiri diperingati sebagai hari raya budaya bukan hari raya agama. Itu urusan mereka. Bayangkan jika Imlek dijadikan hari raya budaya etnis tertentu, mungkin etnis/suku lain di Indonesia yang jumlahnya ribuan bisa saja menuntut ingin hari raya serupa” tegas Jimly.

Prof Jimly lantas memberi pesan bahwa di tengah kegalauan kemanusiaan global, mari kita memperkuat kebiasaan saling menghormati, menghargai dan saling memberi manfaat. Karena Jika satu peradaban merasa kuat sendiri akan melakukan kekerasan dan tidak ada perdamaian.

          Acara kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng dan kue yang dibagikan kepada para tokoh agama yang hadir, foto bersama antara Keluarga Jimly Asshiddiqie dan Keluarga Haris Chandra bersama para tokoh dan peserta yang hadir. **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *