Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo dan jajaran berfoto bersama para delegasi dari Korea Selatan.
JAKARTA (LB)–Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo dan jajaran menerima kunjungan sejumlah akademisi dari Korea Selatan dalam jamuan santap malam di Wiro Sableng Garden, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Jumat (25/7/2025) malam.
Delegasi yang datang sejumlah tujuh orang yaitu Prof. Lee Gyungwon dari Universitas Daejin, didampingi Prof. Choi Youngjin dari Universitas Sungkyunkwan dan Mantan Ketua Asosiasi Konfusianisme Korea, Dr. Dan Yunjin (Universitas Sungkyunkwan), Dr. Lee Jeeyoung (Universitas Daejin), Shon Mihye (Kandidat Doktor di Universitas Daejin) dan Ahn Hyunsuk (Kandidat Doktor di Universitas Daejin) dan Chung Hyunji (Mahasiswi sekaligus penerjemah).
Sejumlah Pengurus Pusat yang mendampingi Ketum MATAKIN, yaitu, Ws. Mulyadi, Spd. Ing. M.Ag. (Wakil Sekretaris Bidang Kerohanian) dan Nyonya.

Kemudian beberapa Wakil Sekretaris Bidang Keorganisasian, diantaranya Hendri Ayung Tjoe, Oei Kiem Ma, B.Ed., M.Phil. (Wakil Sekretaris Bidang Keorganisasian) dan Bryna Meivitawanli, MBA, Ph.D dan Dq. Heri Yuliyanto. Selain itu ikut hadir pula Ketua MAKIN Cimanggis, Chandra Limi dan nyonya.
Pertemuan diawali dengan santap malam bersama, dalam suasana santai dan ceria. Para tamu delegasi disuguhi hidangan seafood khas Nusantara. Mengawali pembicaraan, Ketum MATAKIN menceritakan bahwa pada 1996, , Mr. Choi Gun Duk Presiden Sungkyungkwan Univesity dan delegasi pernah mengjunjungi MATAKIN yang waktu itu dipimpin Ketua Umum Ws. Chandra Setiawan.
Dalam pertemuan itu menghasilkan sejumlah kesepakatan bersama. Mr. Choi juga sempat bertemu Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid), pada waktu itu beliau masih Ketum PBNU,” Kata Ketum Budi.
Selanjutnya Xs. Budi menjelaskan sejarah dan perkembangan agama Khonghucu di Indonesia, di antaranya sejarah kelembagaan Khonghucu dan status agama Khonghucu di Indonesia,
Status Khonghucu di Indonesia merupakan agama yang resmi mendapat pelayanan dari pemerintah, sedang organisasi Khonghucu yaitu MATAKIN sudah berdiri sejak tahun 1923, sedang di tingkat umat namanya MAKIN” kata Ketum Budi.
Umat Khonghucu kalau beribadah di Miao dan Kelenteng. Sekarang di beberapa Kampus terdapat kompleks rumah ibadat, diantaranya kelenteng Khonghucu ” lanjut Ketum Budi.

Dalam kesempatan itu, Ketum Budi menyampaikan bahwa Rohaniwan Khonghucu namanya Jiao Sheng, Wen Shi dan Xue Shi, bahkan MATAKIN pernah mempunyai Xue Shi asal Korsel, yaitu Dr. Thomas Hosuck Kang, pustakawan, cendekiawan dan sejarahwan Khonghucu yang tinggal di Amerika Serikat.
Lebih lanjut Ketum Budi menjelaskan pasang surut perkembangan agama Khonghucu mulai dari era sebelum dan sesudah kemerdakaan Indonesia, era Orde Lama hingga Orde Baru dan era Orde Reformasi.
Selain itu Ketum Budi menceritakan pelayanan pemerintah Indonesia terhadap umat agama Khonghucu , diantaranya adanya hmHari Libur Agama Khonghucu, KTP Khonghucu, pendidikan agama Khonghucu, pencatatan pernikahan Khonghucu, dan sebagainya.
“Bahkan pemerintah saat ini sedang membangun Sekolah Tinggi Agama Khonghucu Indonesia Negeri di Pangkalpinang, Babel,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Prof. Lee Gyungwon selaku pimpinan delegasi, merasa senang dan bahagia bisa dijamu dan berbincang langsung dengan Ketum MATAKIN, mengenal agama Khonghucu di Indonesia.
“Terima kasih atas jamuan makan malamnya dan atas penjelasannya mengenai agama Khonghucu di Indonesia, dan kami sangat tertarik bagaimana umat Khonghucu di Indonesia mendapat pelayanan dari Pemerintah,” ucap Prof. Lee.
Kegiatan diakhiri dengan tukar menukar cenderamata dan foto bersama. Pada kesempatan tersebut Ketum MATAKIN menyematkan Lingdai Kehormatan kepada masing-masing delegasi. **
