Pemprov DKI Gencar Basmi Ikan Sapu-sapu, DPRD Soroti Masalah Utama yang Terabaikan

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth.

JAKARTA (LB)- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta saat ini gencar menangkap ikan sapu-sapu di sejumlah kali. Namun, DPRD DKI mengingatkan bahwa masalah utamanya bukan hanya pada ikannya, melainkan kondisi sungai yang tercemar.

Anggota Komisi C DPRD DKI Jakarta, Hardiyanto Kenneth, mengatakan banyaknya ikan sapu-sapu justru menjadi tanda kualitas air di Jakarta sedang tidak baik.

“Banyak yang menganggap ikan sapu-sapu sebagai pahlawan kebersihan karena memakan alga dan sisa organik. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya, kehadiran mereka menjadi indikator kuat bahwa perairan kita sedang tidak sehat,” ujar Kenneth dalam keterangan tertulisnya, dikutip Senin (20/4).

Ia menjelaskan, ikan sapu-sapu atau Hypostomus plecostomus merupakan jenis ikan yang mampu hidup di air kotor. Karena itu, jika jumlahnya banyak, kondisi sungai kemungkinan besar telah tercemar.

Ikan ini juga mudah berkembang biak dan dapat mendominasi sungai. Akibatnya, ikan lokal seperti wader dan gabus terancam karena telur-telurnya dimakan.

Selain itu, ikan sapu-sapu juga berpotensi merusak bantaran sungai. Mereka menggali lubang untuk berkembang biak, yang dapat menyebabkan erosi hingga longsor di tepi sungai dan memperparah risiko banjir.

“Ikan ini juga menggali lubang di bantaran sungai untuk berkembang biak. Ini berpotensi memicu erosi hingga longsor di tepi sungai, yang pada akhirnya bisa memperparah risiko banjir di Jakarta,” kata dia.

Dari sisi kesehatan, ikan ini juga berbahaya jika dikonsumsi. Pasalnya, ikan sapu-sapu dapat menyerap logam berat seperti merkuri dan timbal dari air yang tercemar.

“Ini penting untuk diketahui masyarakat. Jangan sampai ikan sapu-sapu dimanfaatkan tanpa kajian, karena bisa berdampak buruk bagi kesehatan,” katanya.

Kenneth menegaskan, penanganan tidak cukup hanya dengan menangkap ikan.
Pemerintah juga harus memperbaiki kualitas air sungai, seperti mengurangi limbah, memperbaiki sanitasi, serta mengedukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.

“Bisa dilakukan pengendalian limbah domestik dan industri, peningkatan sistem sanitasi, serta edukasi masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai. Perbaiki sungainya,” katanya.

Ia juga menyebut ikan sapu-sapu masih bisa dimanfaatkan secara ekonomi, asalkan melalui kajian yang aman.

“Saya secara konsisten akan terus mengawal kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pemulihan ekosistem sungai. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga bagi masa depan Kota Jakarta dan warganya,” ujar Kenneth.

Sebagai informasi, Pemprov DKI Jakarta telah menggelar operasi serentak penangkapan ikan sapu-sapu di lima wilayah kota administrasi pada Jumat (17/4).

Dalam satu hari, sebanyak 68.800 ekor ikan sapu-sapu dengan total berat 6,98 ton berhasil ditangkap.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A. Sidabalok, mengatakan operasi dilakukan mulai pukul 07.30 hingga 11.00 WIB di berbagai titik perairan Jakarta. “Hasil tangkapan ikan yang diperoleh mencapai 6,98 ton,” kata Hasudungan A. Sidabalok saat dikonfirmasi, Jumat (17/4). *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *