Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta, Heru Hermawanto.
JAKARTA (LB)- Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DKI Jakarta, Heru Hermawanto mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) berpartisipasi menuju pembangunan berkelanjutan melalui program “Clean Investment Accelator”.
“Saya mengajak semuanya untuk bisa berpartisipasi menuju pembangunan kita yang berkelanjutan, investasi yang berkelanjutan dan Clean Investment Accelerator bisa kita mulai,” katanya dalam acara daring bertema “Mendorong Investasi Berkelanjutan di Jakarta: Clean Investment Accelarator” di Jakarta, Kamis (23/7).
Heru menyampaikan, pembangunan yang dilakukan selama ini sering mengabaikan lingkungan. Karena itu, pembangunan berkelanjutan yang dituangkan ke dalam investasi hijau atau investasi berkelanjutan.
“Hampir semua sektor itu pasti berkaitan dengan masalah investasi. Untuk itu kami mengajak, saya mengajak teman-teman semua juga mau dan ikut serta mengerti, memahami dan aware (peduli) terhadap keberlanjutan, terutama berkaitan dengan investasi yang berkelanjutan,” kata dia.
Dalam kesempatan itu, Kepala Bidang Penanaman Modal DPMPTSP DKI Jakarta, Budya Pryanto Putra mengemukakan bahwa realisasi investasi hijau di Jakarta sejak 2020 hingga 2024 masih minim.
Merujuk parameter yang digunakan OJK, hanya 3,23 persen dari total investasi yang teridentifikasi sebagai investasi hijau.
“Di tahun 2020 itu hanya 0,01 persen yang dianggap investasi hijau. Kemudian di tahun 2021 meningkat 2,44 persen, di tahun 2022 naik signifikan jadi 7 persen dari total realisasi investasi, di 2023 sekitar 2,15 persen, lalu di 2024 sebesar 3,34 persen,” jelas Budya.
Padahal, berdasarkan laporan Climate Investment Opportunities in Cities yang dirilis International Finance Corporation (IFC) tahun 2018, Jakarta memiliki peluang untuk mendapatkan investasi hijau yang ramah lingkungan senilai 30 miliar dolar AS sampai dengan tahun 2030.
Adapun rincian potensi investasi tersebut terdiri dari bangunan ramah lingkungan sebesar 16 miliar dolar AS, limbah (725 juta dolar AS), transportasi umum (660 juta dolar AS), energi terbarukan (3 miliar dolar AS), air bersih (3 miliar dolar AS), dan kendaraan listrik (7 miliar dolar AS). “IFC memotret sebenarnya potensi investasi hijau di Jakarta kurang lebih ada sampai Rp500 triliun, itu berdasarkan kajian yang bersama Bappeda potensial dari sekian proyek infrastruktur maupun non-infrastruktur di DKI Jakarta yang bisa dialokasikan untuk investasi hijau,” kata Budya. *
