Foto bersama Kebaktian Malam Purnama II.
JAKARTA (LB)—MATAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) menyelenggarakan Kebaktian Malam Purnama, di Litang MAKIN Jakarta Barat Gedung Khonghucu Yayasan Tepasalira Jl. Jembatan Gambang II No. 77, Pejagalan, Penjaringan, Jakarta Utara, Selasa (4/11/2025).
Tanggal 15 Penanggalan Kongzili atau disebut juga Bulan Purnama merupakan momen ketika bulan mencapai puncak titik terang. Bukan sekedar fenomena alam, pada momen tersebut umat Khonghucu melakukan sembahyang / kebaktian untuk mengucap syukur atas karunia Tian.
Kebaktian dipimpin oleh umat MAKIN (Majelis Agama Khonghucu Indonesia) Jakarta Barat, dimulai dengan penaikan Hio di Altar Tian dan Kidung Wei De Dong Tian, dilanjutkan dengan pembacaan renungan ayat suci dan dilanjutkan pemaparan / Jiang Dao dari Xs. Budi S. Tanuwibowo.

Jiang Dao dimulai dengan penjelasan dari Ketua Umum MATAKIN Xs. Budi terkait kebaktian malam purnama tersebut. “Kebaktian ini adalah yang kedua kalinya, selain biasanya kebaktian umum di Hari Minggu oleh MAKIN Jakarta Barat. Kebaktian Malam Purnama ini dibuka untuk umum, dan akan dilakukan rutin setiap tanggal 15 Kongzili,” kata Budi.
Mengambil tema “Berprinsip tapi bukan Mutlak – mutlakan”, Xs. Budi S. Tanuwibowo menjabarkan dari renungan ayat suci dalam Lun Yu Jilid IX : 4 “Nabi telah lepas dari Empat cacat; tidak berangan – angan kosong, tidak mengharuskan, tidak kukuh dan tidak menonjolkan ‘aku’nya.” dan Lun Yu Jilid XVII : 7 “Bi Xi menyampaikan undangan ; Nabi ingin menjumpainya.
Zi Lu berkata “Dahulu You mendengar Guru bersabda ‘Kepada orang yang suka berbuat tidak baik, seorang Jun Zi tidak mau mendatanginya. Bi Xi itu pemberontak dan merampas daerah Zhong Mou, kalau guru pergi kesana, apa kata orang?”
“Seorang Jun Zi berpegang pada prinsip seperti air yang mengalir — tidak kehilangan arah, namun menyesuaikan bentuk wadahnya. Dalam Buku saya yang berjudul Bertambah Bijak setiap hari 8×3 = 23 menceritakan kisah Yan Hui murid Nabi Kongzi yang terkenal dengan kepintarannya.
Pada suatu hari Yan Hui berjalan di Pasar dan bertemu dengan seorang lelaki yang keras kepala dan sombong, lelaki itu berteriak dengan lantang: “Siapa bilang delapan kali tiga dua puluh empat? Aku bilang delapan kali tiga dua puluh tiga! Yan Hui yang mendengar itu kemudian memberitahu lelaki tersebut bahwa jawaban yang benar dari delapan kali tiga adalah dua puluh empat,” papar Ketum Budi

Merasa tidak terima dengan interupsi dari Yan Hui, lelaki tersebut membuat kesepakatan kemudian mengajak Yan Hui untuk bertaruh “Jika terbukti aku benar, maka kau harus menurunkan topimu (pada zaman dahulu topi adalah simbol wibawa dan kehormatan) jika terbukti aku salah maka akan kuberikan kepalaku”. Dengan mendatangi Nabi Kongzi, Yan Hui menjelaskan kronologi persoalannya.” Tambah Ketum Budi
Usai mendapat pemaparan dari Yan Hui, Nabi Kongzi kemudian menjawab delapan kali tiga adalah dua tiga. Mendengar jawaban tersebut, Yan Hui sangat kecewa dengan Guru yang menjadi panutannya, bagaimana bisa seorang Guru yang dihormatinya bisa berkata bohong dan tidak sesuai dengan kebenaran? Melihat kekecewaan Yan Hui, Nabi Kongzi kemudian menjelaskan kepadanya bahwa kebenaran harus ditempatkan sesuai konteks “Bagaimana kalau tadi aku menjawab delapan kali tiga adalah dua empat? Kau pasti akan menyesal, secara tidak langsung kau akan membunuh orang yang bahkan tidak cukup pandai untuk berpikir”.
“Apa yang bisa kita tangkap dari cerita tersebut? Jun Zi harus berprinsip, tetapi tidak boleh kaku atau fanatik. Kebenaran tidak bisa dipaksakan sesuai dengan ego, mempertahankan prinsip kebenaran harus tahu cara menyampaikan dan mempraktikkannya, harus sesuai dengan waktu, tempat, dan keadaan,” ujar Budi. **
