Ratusan warga Cigudeg, Rumpin dan Parungpanjang mendatangi kantor Bupati Bogor di Cibinong, Senin (4/5). Mereka meminta agar Gubernur Jabar Dedi Mulyadi (KDM) membuka kembali usaha tambang.
CIBINONG (LB)- Ratusan masyarakat Cigudeg, Parungpanjang dan Rumpin mendatangi Kantor Bupati Bogor di Cibinong, Senin (4/5). Mereka memita Gubernur Jabar kembali membuka tambah legal, karena warga sudah didera krisis ekonomi sosial.
Asep Fadlan selaku Kordinator Lapangan, mengaku selama tujuh bulan masyarakat yang menggantungkan usahanya di sektor tambang, terdampak dari penutupan sementara operasional usaha tambang.
Banyak terjadi aksi kriminal seperti pencurian (Curanmor), maraknya pinjaman online (Pinjol), terjadi putus sekolah, hingga meningkatnya angka perceraian di ujung barat Kabupaten Bogor tersebut.
“Di Kecamatan Cigudeg, Parungpanjang dan Rumpin saat ini sudah terjadi darurat ekonomi sosial, dampak dari penutupan sementara operasional tambang banyak terjadi aksi Curanmor, Pinjol, putus sekolah hingga meningkatnya angka perceraian. Oleh karena itu, kami minta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM membuka kembali operasional usaha tambang yang legal,” kata Asep Fadlan kepada wartawan, Senin (4/5).
Asep Fadlan menambahkan, selain meminta KDM membuka kembali operasional usaha tambang yang legal, masyarakat juga meminta segera dibangun jalan khusus tambang.
“Selain itu, kami menuntut KDM segera memenuhi janjinya, berupa pemberian bantuan sosial (Bansos) kepada masyarakat terdampak,” tambahnya.
Kepada Bupati, Wabup dan Ketua DPRD Kabupaten Bogor, ia berharap permintaan dan tuntutan warga kepada KDM untuk disampaikan.
“Kami harap permintaan dan tuntutan kami disampaikan oleh Bupati, Wabup dan Ketua DPRD Kabupaten Bogor kepada Gubernur Jawa Barat KDM. Kami di sini, mewakili 40 ribu jiwa masyarakat yang terdampak penutupan sementara operasional tambang,” harapnya.
Asep Boris warga Kecamatan Rumpin melanjutkan, bahwa selama tujuh bulan, masyarakat termasuk anak yatim piatu harus menggeprek batu dari kali – kali untuk bisa makan atau hidup. “Semoga para pemimpin dibuka pintu hatinya, masyarakat sudah sangat terdampak, jika dulu kami mampu menyantuni anak yatim piatu, saat ini kami dan anak yatim piatu pun harus menggeprek batu untuk bisa melanjutkan hidup,” lanjut Asep Boris. *
