Ketum MATAKIN Xs. Budi S. Tanuwibowo.
BOGOR (LB)—Ketua Umum MATAKIN (Majelis Tinggi Khonghucu Indonesia) Xs. Budi S. Tanuwibowo menghadiri Kebaktian Bersama MATAKIN Kabupaten Bogor Wilayah 2 yang berlangsung di Lithang Budi Asih, MAKIN Rancabungur, Kabupaten Bogor, pada Minggu (7/6/2026) siang.
Kebaktian yang dihadiri sekitar 350 umat Khonghucu ini diawali dengan pembacaan doa pembuka oleh rohaniwan setempat, dilanjutkan dengan nyanyian kidung pujian, serta pembacaan ayat kitab suci Sishu.
Selain umat MAKIN Ranca Bungur sebagai tuan rumah, hadir pula pengurus dan umat dari berbagai Lithang dan MAKIN, di antaranya MAKIN Kampung Tionghoa, MAKIN Kampung Bulu, MAKIN Tegal Bogor, MAKIN Ciampea, MAKIN Kemang, MAKIN Tonjong, dan MAKIN Binong. Turut hadir Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat sekaligus Ketua Bidang Pendidikan Tinggi MATAKIN Pusat, Ws. Gunadi beserta jajaran.

Mengawali Jiang Dao (khotbah) nya, Xs. Budi S. Tanuwibowo yang akrab disapa Xs. BST menekankan pentingnya adanya musuh demi pengembangan diri. Menurutnya dalam kehidupan kita memerlukan musuh atau kompetitor untuk memacu memotivasi diri untuk maju.
“Jujur, dalam kehidupan kita membutuhkan musuh, pesaing, atau kompetitor. Bukan untuk dihancurkan atau dijatuhkan, melainkan sebagai motivasi untuk berkembang lebih maju,” tambahnya.
Ia kemudian mencontohkan kisah keteladanan Nabi Purba Baginda Sun. Meski berkali-kali diancam akan dicelakakan bahkan dibunuh oleh adik tiri, ibu tiri dan ayah kandungnya, Beliau tidak menaruh dendam. Sebaliknya, rasa sakit yang mendalam itu dijadikan bekal untuk membentuk karakter yang tahan uji, maju, dan terpercaya.
Di jaman modern, Xs. Budi mengambil contoh perjuangan Nelson Mandela, tokoh anti-apartheid asal Afrika Selatan. Walau pernah dipenjara dan disiksa dalam waktu yang lama, Mandela tidak menyimpan dendam terhadap para penyiksanya setelah bebas.

“Jadi, bangsa yang besar bukan bangsa yang selalu dalam keadaan tenteram, dan damai sejahtera, melainkan bangsa yang tahan digembleng saat menghadapi multikrisis, lalu mampu bangkit dan bergerak lebih maju,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, ia juga merefleksikan sejarah umat Khonghucu di Indonesia yang pernah melewati masa-masa sulit, ditekan, dinisbikan hingga hak-hak sipilnya dipersulit—mulai dari urusan pendidikan, pernikahan, hingga pencantuman agama di KTP. Pada saat itu umat yang ada tetap gigih berjuang dan eksis.
Kemudian ia juga menyoroti ketika keadaan sudah membaik dan hak sipil telah dipermudah, umat Khonghucu dirasa relatif belum bergerak maju secara signifikan.
“Jawabannya adalah karena kita tidak mempunyai musuh (tantangan dari luar). Malah akhirnya kita bermusuhan di antara sesama kita sendiri, antar rohaniwan, antar umat. Hal inilah yang harus dirubah,” tegasnya.
Mengingatkan wejangan Raja Wen, Xs. BST mengingatkan: “Jika tidak ada pemimpin berjiwa baru, kitalah yang harus memperbarui diri.” Hal ini juga berlaku bagi organisasi MATAKIN atau MAKIN untuk senantiasa memperbarui diri dan mempersiapkan generasi muda sebagai pemimpin masa depan.
Jadi agama Khonghucu akan lebih maju kalau kita semua peduli, tidak ada kubu-kubuan tidak membully kelemahan orang lain, tali kita bekerja keras bersama-sama untuk organisasi MATAKIN dan MAKIN yang kita cintai” pesannya
Ketum MATAKIN juga berpesan agar umat tidak mengolok-ngolok organisasi, institusi, maupun suatu negara jika ada hal yang dinilai kurang baik. “Fokus pada substansi. Kritik kebijakannya, bukan merendahkan atau mengejek organisasi atau negaranya,” tegasnya.
Menutup khotbahnya, Xs. Budi membagikan tips sukses bagi umat Khonghucu yang disarikan dari ayat Kitab Sishu yaitu Belajar dan Berlatih: Terus mengasah kemampuan secara konsisten, kemudian Membangun Relasi dengan Mencari jejaring dan jalin hubungan yang positif dan terakhir yang terpenting Jangan berkecil hati jika ditekan bahkan mengalami kegagalan.
Terkait cara menyikapi musuh, Xs. BST menyarankan umat untuk mencari kompetitor yang sepadan atau bahkan lebih tinggi.
Jadi para Daoqin saya tekankan kembali, dalam kehidupan ini memang membutuhkan musuh, esensi dari menyikapi musuh bukanlah memusuhi orangnya, tapi diambil kebaikannya, yang baik ditiru, bila ada yang tidak baik periksa dirimu sendiri” pesannya.,” pungkasnya.
Selain penyampaian Jiang Dao oleh Xs. Budi S. Tanuwibowo, acara ini juga diisi dengan sejumlah sambutan, antara lain dari dari Ketua MAKIN Rancab Bungur Elda, Ketua MATAKIN Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Js. Suparman, serta Ketua MATAKIN Provinsi Jawa Barat Ws. Gunadi. **
