Michele Di Gregorio, Kiper Juventus.
TURIN – Juventus menelan kekalahan telak beruntun usai dipermalukan Atalanta dan Fiorentina. Kiper Juventus Michele Di Gregorio menilai timnya harus melakukan perbaikan di banyak sisi atau secara menyeluruh.
Juventus tumbang dalam lawatannya ke markas Fiorentina dalam lanjutan Serie A. Bertanding di Stadio Artemio Franchi, Florence, Senin (17/3) dini hari WIB, Juventus kalah 0-3.
Sebelumnya, Bianconeri dipermalukan Atalanta dengan skor 0-4 di kandang sendiri. Itu berarti pasukan Thiago Motta itu kebobolan tujuh gol dalam dua laga dan sama sekali tidak mencetak gol.
Kekalahan beruntun itu membuat Juventus terlempar dari empat besar usai digusur Bologna. Mereka turun ke peringkat kelima klasemen Liga Italia dengan 52 poin dari 29 laga.
“Kami merasa tidak enak, sama seperti setelah melawan Atalanta. Kamilah yang pertama menderita, kecewa, dan tahu kalau penampilan seperti dua laga terakhir tidak cukup, tidak sesuai standar Juventus,” ujar Di Gregorio seperti dilansir Football Italia.
Ia menyebutkan timnya harus bekerja sangat keras untuk kembali bangkit. “Kami tahu jalan keluarnya adalah lewat kerja, tetap kompak sebagai tim, kerja, dan kerja. Itulah yang penting karena, dalam situasi seperti ini, sulit untuk menunjuk dengan persis apa yang kurang. Kami harus mendekatinya dari setiap sisi,” ujarnya.
Ia juga mengaku tidak tahu apa yang kurang dari timnya. “Apa yang kurang? Saya tidak tahu. Saya akan menonton ulang pertandingan beberapa kali kalau perlu. Kami akan bicara, memahami, dan mendengarkan semuanya karena kami satu tim. Kami harus mencari tahu di mana kesulitannya. Sekarang ada jeda dan kami akan punya waktu untuk merenung. Ketika kami kembali, kami semua akan bicara dan berkumpul lagi,” tutur Di Gregorio.
Pelatih Juventus Thiago Motta tidak akan mengundurkan diri akibat kekalahan timnya. “Akan terlalu gampang kalau melakukan itu dan saya tidak suka hal-hal yang mudah. Kami harus menang, kami harus menemukan cara untuk mendapatkan tiga poin yang kami butuhkan untuk mencapai target kami, yaitu finis empat besar,” ujar Motta kepada DAZN.
Pihak klub sendiri juga enggan memecat sang pelatih. Juve kini disalip Bologna dengan 53 poin. Juve juga belum aman posisinya, bisa disalip Lazio dan AS Roma di bawahnya dengan selisih tidak lebih dari tiga poin.
Sang allenatore dinilai belum bisa membawa Juventus bersaing di level tertinggi. Juventus-nya Motta sudah tersingkir di Coppa Italia dan di playoff babak 16 besar Liga Champions. Dominasi Juventus di Liga Italia pun sudah hilang dalam lima tahun terakhir, nggak pernah juara lagi!
Namun Direktur Olahraga Juventus, Cristiano Giuntoli langsung bungkam semua rumor. “Kami terus bersama Thiago Motta. Sekarang adalah momen yang sulit, tapi kami harus maju dan keluar dari situasi ini bersama-sama,” tegasnya dilansir dari Tribuna.
Kontrak Motta di Juventus masih berlaku sampai musim panas 2027. Pelatih berusia 42 tahun itu baru didatangkan di musim panas 2024.
Kritikan kepada Motta juga disampaikan pelatih Timnas Serbia Dragan Stojkovic. Ia kesal dengan tindakan Motta menepikan Dusan Vlahovic. Ia percaya striker 25 tahun itu bisa membuktikan kualitasnya di timnas.
Vlahovic memang mulai terpinggirkan di Juventus sejak kedatangan dari Randal Kolo Muani. Penyerang Prancis itu didatangkan oleh Si Nyonya Tua pada musim dingin lalu dari Paris Saint-Germain.
Vlahovic hanya sekali bermain sebagai starter di Serie A sejak Januari. Padahal, penyerang asal Serbia ini sebelumnya jadi tumpuan utama di lini depan Juventus. Ia mampu bikin 14 gol di semua ajang musim ini.
Stojkovic menilai tindakan Motta tersebut bukan hal yang baik. Ia ingin Vlahovic membuktikan diri bersama Serbia. Stojkovic menegaskan memberikan kepercayaan penuh kepada Vlahovic.
“Setiap pemain memiliki momen positif dan negatif dalam karier mereka. Kami menghargai bahwa Dusan adalah salah satu pemain terpenting bagi permainan kami. Ia akan selalu bermain dengan saya, karena ia memiliki kesempatan di sini untuk menunjukkan bahwa apa yang mereka lakukan kepadanya tidaklah baik,” ujar Stojkovic dikutip dari Football Italia.
Tapi yang jelas, Motta memang diuntut untuk melakukan sesuatu agar timnya kembali bangkit.***
