Petani di Rorotan Jakarta Utara mengeluhkan gagal panen.
JAKARTA (LB)- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jakarta berencana mengembangkan kawasan agroeduwisata berbasis sawah di wilayah Jakarta Utara. Inisiatif ini bertujuan memberikan edukasi kepada anak-anak tentang proses budi daya padi, sekaligus mempertahankan sawah sebagai ruang terbuka hijau (RTH) di ibu kota.
Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jakarta, Suharini Eliawati mengatakan, program ini juga diarahkan untuk mendukung ketahanan dan swasembada pangan.
“Lahan sawah di Jakarta Utara memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai lokasi agroeduwisata. Sebagai sarana edukasi kepada masyarakat, khususnya anak-anak, tentang budi daya padi,” ujar Suharini saat dikonfirmasi, Selasa (13/5).
Berdasarkan data Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) tahun 2024, luas sawah di Jakarta Utara mencapai 295 hektar, atau sekitar 81,9 persen dari total lahan sawah di seluruh wilayah Jakarta. Hamparan sawah tersebut tersebar di wilayah Rorotan dan Marunda, Kecamatan Cilincing.
Selain berfungsi sebagai lahan pertanian, sawah-sawah ini juga menjadi area resapan air alami bagi sekitarnya. Suharini menjelaskan bahwa pengembangan kawasan ini akan menyasar pelajar dari jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga perguruan tinggi. Melalui kunjungan ke agroeduwisata, para pelajar diajak memahami proses menanam padi, mulai dari pengolahan tanah, penyemaian benih, hingga panen.
“Target pengunjung adalah pelajar dari tingkat PAUD sampai dengan perguruan tinggi,” ucapnya.
Pemprov Jakarta berencana menggandeng berbagai pihak untuk merealisasikan program ini, seperti pemilik lahan, kelompok tani, institusi pendidikan, hingga sektor swasta.
Dukungan dari pihak swasta diharapkan dapat memperkuat penyediaan sarana dan prasarana penunjang seperti titik kumpul, akses ke area persawahan, fasilitas edukasi, hingga promosi dan pelaksanaan berbagai kegiatan. “Perlu kolaborasi, khususnya untuk penambahan prasarana pendukung seperti titik kumpul, akses ke persawahan, aktivitas bagi pengunjung, promosi, dan penyelenggaraan event di sekitar persawahan,” jelas Suharini.
Konsep agroeduwisata ini juga akan diperkuat dengan berbagai kegiatan edukatif seperti olahraga lari dan bersepeda di sekitar area sawah, penelitian pertanian, penerapan teknologi budi daya padi, hingga penyelenggaraan acara khusus yang melibatkan masyarakat setempat.
Suharini menambahkan bahwa keberadaan agroeduwisata sawah ini diharapkan bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar.
Saat ini, terdapat 214 petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Rorotan Jaya. Mereka telah mengelola lahan sawah secara turun-temurun, meskipun sebagian besar lahan belum dimanfaatkan oleh pemiliknya, baik dari kalangan swasta maupun pemerintah.
Rencana pengembangan ini sejalan dengan strategi Pemprov Jakarta dalam mendorong ekonomi hijau. Dengan konsep tersebut, sawah tak hanya berfungsi sebagai lahan pertanian, tetapi juga sebagai ruang hijau yang mendukung pengendalian banjir dan pelestarian lingkungan. “Pengembangan agroeduwisata berbasis sawah di Jakarta Utara akan menambah lokasi agroeduwisata yang telah ada di Jakarta,” tutup Suharini. *
