Eceng Gondok Tutupi Waduk Saguling, Warga Rancapanggung Diserbu Nyamuk

Seorang warga memperlihatkan bekas gigitan nyamuk di betisnya. Imbas eceng gondok menutupi permukaan aliran Waduk Saguling, warga Rancapanggung diserbu ribuan nyamuk.

BANDUNG (LB)- Warga Desa Rancapanggung, Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB) kini hidup dalam kekhawatiran akibat ledakan populasi nyamuk yang luar biasa masif. 

Masalah ini diduga kuat bermula dari pertumbuhan eceng gondok yang sangat lebat hingga menutupi hampir seluruh permukaan air Waduk Saguling, sehingga menjadi sarang perkembangbiakan serangga pengganggu tersebut.
 Kondisi paling parah dirasakan warga di RT 01/10 Kampung Bonceret, wilayah yang berbatasan langsung dengan perairan waduk. 

Pasalnya, siapa pun yang berada di pinggiran air hanya dalam waktu kurang dari 30 detik langsung dikerumuni puluhan hingga ratusan nyamuk yang siap menggigit kulit dan menghisap darah.
 “Kalau cuma diceritakan mungkin tidak percaya, tapi lihat ini, baru sebentar berdiri saja sudah banyak yang hinggap. Kalau diam sampai 10 menit, sebadan-badan penuh nyamuk. Tidak ada yang kuat bertahan di sini lama-lama,” ungkap Rohmat, warga setempat, Kamis (14/5).
 Menurutnya, serangan nyamuk seberat ini adalah fenomena baru yang baru dirasakan sepanjang sejarah tinggal di sana. 

Biasanya populasi nyamuk memang cukup banyak, namun tidak sampai di tingkat yang tidak terkendali seperti sekarang. Perubahan kondisi lingkungan di waduk disebut menjadi pemicu utamanya.
 “Baru tahun ini terjadi parah begini. Biasanya setiap 8 bulan sekali air waduk surut dan agak kering, jadi eceng gondoknya mati, kering, bahkan ada yang dibakar warga,” ucapnya. 

“Tapi tahun ini air tidak pernah surut, tanamannya tetap utuh, malah makin rapat tumbuhnya. Akibatnya, nyamuk bebas bertelur dan berkembang biak terus-menerus tanpa terganggu,” jelasnya.
Keresahan warga kian memuncak lantaran dampak gigitan nyamuk tidak sekadar gatal atau bentol biasa. 

Bahkan, bekas gigitan tersebut sering kali berubah menjadi luka kering yang menghitam dan sulit hilang, bahkan menimbulkan kekhawatiran akan risiko penularan penyakit.
“Saat digigit rasanya nyelekit, gatal sekali, kadang tidak terasa sampai nyamuk itu kenyang menghisap darah. Lihat anak saya, kulitnya penuh bercak hitam bekas gigitan nyamuk yang tidak kunjung hilang,” bebernya.
Selama tiga bulan terakhir, ungkap Rohmat, ketidaknyamanan ini sudah merambah hingga ke dalam pemukiman warga. 

“Udah banyak cara penanggulangan sudah dilakukan secara swadaya, namun hasilnya justru berbanding terbalik dengan harapan,” katanya.

Rohmat menyebut, pengasapan atau fogging yang dibiayai bersama oleh warga malah membuat populasi nyamuk makin bertambah dan masuk lebih dalam ke lingkungan rumah warga.
“Saya dan warga patungan biaya, Rp5.000 per kepala untuk biaya fogging. Anehnya, setelah disemprot bukan berkurang, besoknya malah makin banyak,” imbuhnya. 

“Dulu nyamuk jarang masuk rumah, sekarang justru berani masuk dan mengganggu tidur kami,” sambungnya.
Rohmat mengungkapkan, warga hanya berharap Pemerintah Kabupaten Bandung Barat, Pemerintah Provinsi Jawa Barat, serta instansi terkait segera turun tangan. 

Mereka meminta solusi tuntas, bukan sekadar tindakan sementara, mengingat akar masalah diduga kuat ada pada tumpukan eceng gondok yang menutupi perairan waduk.
 
“Saya memohon kepada pemerintah, tolong cari jalan keluar untuk kami. Saya yakin sumber masalahnya ada di eceng gondok yang menutupi air itu,” ungkapnya.  “Tolong bantu cari cara atau hubungi pihak yang berwenang, karena ini sudah menjadi musibah bagi seluruh warga di sini,” tandasnya. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *