Kawasan Rumah Nelayan.
JAKARTA (LB)- Pemerintah bekerja sama dengan sejumlah pihak dengan mentransformasi kawasan kumuh nelayan di Desa Tanjung Anom, Tangerang menjadi hunian layak melalui pembangunan 110 unit rumah. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi lintas sektor dengan total pendanaan mencapai sekitar Rp 14 miliar.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan kawasan yang sebelumnya tidak layak kini telah berubah signifikan.
“Hari ini kami secara langsung melihat kondisi kawasan pemukiman Yang sebelumnya bisa dikatakan kondisinya kurang layak untuk hidup Dilakukan pembangunan, perbaikan, penataan rumah-rumah masyarakat,” ujar AHY dalam acara tinjau kawasan kampung nelayan, Desa Tanjung Anom, Tangerang, Kamis (16/4).
AHY juga meninjau langsung hasil pembangunan kawasan kumuh tersebut. Ia menegaskan perubahan kondisi kawasan tersebut terlihat jelas antara sebelum dan sesudah penataan.
“Tadinya bisa dilihat oleh teman-teman. Kondisi before and after sebelum dan sesudahnya jauh sekali. Sebelumnya itu bisa dikatakan kumuh dan kini jauh lebih asri,” katanya.
Ia menyebut, pembangunan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat nelayan. AHY mendorong sekaligus memastikan kehidupan para nelayan semakin baik dari hari ke hari.
Dalam proyek tersebut, sebanyak 110 rumah dibangun di atas lahan seluas 1,3 hektare dengan luas bangunan sekitar 30 meter persegi per unit.
Bupati Tangerang, Maesyal Rasyid menjelaskan, pembangunan kawasan ini dilakukan secara gotong royong oleh empat pihak utama.
“Terus juga kita bangun bersama dengan kolaborasi antara habitat, juga ada koperasi, ada pemerintah daerah Kabupaten Tangerang, juga ada masyarakat,” ujar Maesyal.
Program ini melibatkan organisasi Habitat for Humanity yang menggelontorkan dana sekitar Rp 5,5 miliar untuk pembangunan rumah dan pemberdayaan masyarakat.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang turut berkontribusi melalui pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan lingkungan, sanitasi, hingga fasilitas penerangan di kawasan tersebut dengan total anggaran Rp 6,3 miliar.
Dalam skema pembiayaan, Koperasi Mitra Dhuafa berperan menyediakan pembiayaan pembelian lahan seluas 1,3 hektare yang kemudian dicicil oleh warga. Skema cicilan yang diterapkan tergolong ringan bagi nelayan.
“Dicicil, satu minggu lebih kurang sekitar (Rp) 75 ribu sampai dengan (Rp) 170 ribu,” tambahnya.
AHY juga menilai skema tersebut membantu masyarakat memiliki hunian dengan beban yang terjangkau.
“Seminggu itu kurang lebih 170 ribuan (rupiah). Satu minggu jadi tenornya kurang lebih 4 tahun ke depan. Jadi ini adalah sesuatu yang ringan dan semakin terjangkau,” katanya.
Ke depan, pemerintah akan melengkapi kawasan ini dengan berbagai fasilitas penunjang seperti tanggul penahan abrasi, dermaga, hingga pabrik es untuk mendukung aktivitas nelayan.
“Di mana (kawasan kampung nelayan Desa Tanjung Anom) bukan hanya merapikan dan menata kawasan perumahannya. Tapi juga kita pastikan ini semakin produktif dan juga aman dari ancaman alam atau ekologis,” sambungnya.
Dengan kolaborasi yang melibatkan pemerintah, organisasi, koperasi, dan masyarakat, proyek ini diharapkan menjadi model penataan kampung nelayan yang tidak hanya layak huni, tetapi juga produktif dan berkelanjutan. *
