Skuad Inggris mendapat hadiah hiburan di peringkat ketiga Piala Dunia 2026.
FLORIDA – Inggris sukses mengamankan tempat ketiga Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Prancis 6-4 dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Miami, Amerika Serikat, Minggu (19/7) dinihari WIB.
Inggris unggul 4-0 di babak pertama lewat Declan Rice (3), Ezri Konza (18), Bukayo Saka (37 & 45+1). Di babak kedua Inggris menambah gol lewat Saka (p 87) dan Jude Bellingham (90+8).
Prancis sendiri mencetak gol di babak kedua lewat Kylian Mbappe (48 & 66), Bradley Barcola (54) dan Ousmane Dembele (90+6).
Inggris akhirnya berhasil pada kesempatan ketiganya memenangkan pertandingan perebutan tempat ketiga setelah gagal pada Piala Dunia 1990 dan 2018.
Pelatih Inggris, Thomas Tuchel mengakui sempat mengkhawatirkan kondisi fisik para pemain. Mereka hanya memiliki waktu pemulihan yang lebih singkat dibandingkan Prancis setelah semifinal.
“Anda bisa melihat perbedaan yang dihasilkan oleh satu hari tambahan dan perbedaan jadwal. Kami sangat, sangat lelah dan terkuras setelah melalui beberapa pekan terakhir. Saya mengkhawatirkan tuntutan fisik pertandingan ini. Kami tahu kualitas dan kecepatan Prancis, sementara mereka memiliki jadwal yang jauh lebih menguntungkan. Mereka memiliki satu hari tambahan di antara semifinal dan pertandingan ini,” kata Tuchel dikutip dari BBC Sport.
Meski demikian, Tuchel tidak pernah meragukan mentalitas skuadnya. Ia menilai para pemain mampu melewati berbagai kesulitan untuk mengamankan kemenangan.
“Kami bermain dalam kondisi panas dan di tempat dengan ketinggian. Saya mengkhawatirkan kondisi fisik kami. Anda bisa melihatnya pada babak kedua, dengan kram dan rasa lelah yang dialami para pemain. Namun, saya tidak pernah mengkhawatirkan mentalitas mereka. Saya sudah mengatakannya sebelumnya, tim ini telah menciptakan sesuatu yang sangat spesial dan mereka kembali menunjukkannya,” kata Tuchel.
Bagi Saka, ia menjadi pemain Inggris keempat yang berhasil menorehkan hat-trick di laga Piala Dunia. Winger berusia 24 tahun itu mengikuti jejak Geoff Hurst (1966), Gary Lineker (1986) dan Harry Kane (2018).
FIFA pun menobatkan Saka sebagai Man of The Match (MoTM) pertandingan kali ini. “Ini laga yang benar-benar gila. Kami masih kecewa karena gagal ke final, tapi ini tentang mengakhiri dengan kuat dan memberikan finis terbaik bagi negara kami di Piala Dunia dalam 60 tahun. Kami senang dengan hasil akhirnya,” kata Saka dilansir dari BBC.
Saka bangga menjadi bagian dari daftar elite pemain negaranya yang pernah mencetak hattrick di putaran final Piala Dunia. “Rasanya luar biasa. Saya sangat menikmatinya dan tentu ini pencapaian yang hebat. Saya baru diberi tahu bahwa hanya ada empat pemain Inggris yang pernah mencetak hattrick di Piala Dunia. Anda tahu siapa saja mereka. Itu adalah daftar yang sangat elite dan saya bangga bisa menjadi bagian darinya,” kata Saka, dikutip dari FIFA.
Meski puas dengan penampilan pribadinya, Saka mengakui Inggris sebenarnya menargetkan tampil di partai final, bukan hanya memperebutkan peringkat ketiga. “Kami ingin mengakhiri turnamen dengan kuat karena sebagai sebuah tim kami merasa pantas untuk itu. Tentu kami percaya seharusnya bisa melangkah hingga final. Namun kenyataannya lain. Saya senang kami berhasil melakukannya (meebut tempat ketiga),” kata Saka.
Sementara pelatih Prancis Didier Deschamps mengakui dirinya membuat kesalahan di laga itu. Kesalahan yang dilakukan Deschamps adalah ketika Prancis tertinggal empat gol di babak pertama. Setelah itu, ia melakukan perubahan cepat di babak kedua dengan memasukkan empat pemain sekaligus, yaitu Lucas Digne, Dayot Upamecano, Ousmane Dembele dan Bradley Barcola.
“Ini adalah kesalahan saya. Saya tidak melakukan apa yang seharusnya dilakukan pada babak pertama. Setidaknya, pada babak kedua kami menunjukkan sesuatu, meski kekalahan ini tetap menyakitkan. Tentu saja akan jauh lebih baik jika kami bisa finis di peringkat ketiga,” kata Deschamps, dikutip dari laman resmi FIFA.
Kylian Mbappe menilai timnya tampil sangat berbeda antara babak pertama dan babak kedua. “Ada dua babak yang sangat berbeda. Pada babak pertama, saya bisa mengerti mengapa beberapa orang berpikir kami mempermalukan diri sendiri dan tidak menjunjung tinggi nama baik tim. Sebaliknya, saya akan mengatakan bahwa kami manusiawi dan kami tidak boleh seperti itu. Kami benar-benar terkejut, dan mereka benar-benar menyadarkan kami,” kata Mbappe, dilansir dari laman FIFA.
Mbappe mengaku seluruh pemain ingin memberikan hasil terbaik sebagai penghormatan untuk sang pelatih. “Pada akhirnya, kami tidak menang, dan itu sangat disayangkan bagi pelatih (Didier Deschamps). Kami mengecewakannya,”ujar penyerang Real Madrid itu.***
