Dalam BESF, Airlangga Bicara Pembangunan Kembali Arsitektur Ekonomi Internasional

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel (Foto: Kemenko Perekonomian).

BRUSSEL – Dinamika geopolitik global yang semakin kompleks memberikan tekanan baru terhadap sistem ekonomi internasional, mulai dari ketahanan rantai pasok hingga stabilitas perdagangan dan investasi.

Kondisi tersebut menuntut hadirnya kerangka kerja sama yang lebih erat serta pentingnya membangun arsitektur ekonomi internasional yang tetap terbuka, inklusif, dan tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan global.

“Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Saya meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships,”  kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, dikutip dari laman Kemenko Perekonomian, Sabtu (6/6).

Brussels Economic Security Forum (BESF) merupakan forum tahunan yang diselenggarakan oleh European Policy Centre (EPC) dan menjadi salah satu forum utama di Brussel untuk membahas isu keamanan ekonomi, ketahanan rantai pasok, perdagangan, investasi, teknologi, dan dinamika ekonomi global. Forum tersebut dihadiri oleh para pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah negara mitra, pelaku usaha, hingga media internasional.

Dalam forum tersebut, diskusi difokuskan pada berbagai isu strategis terkait keamanan dan ketahanan ekonomi di tengah dinamika global. Menko Airlangga memaparkan pendekatan Indonesia dalam memperkuat economic security dan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus menyampaikan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dan Uni Eropa, termasuk proses penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Selain itu, Airlangga juga menyampaikan pandangan Indonesia mengenai pentingnya memperkuat kerja sama internasional, mendorong diversifikasi rantai pasok global, serta mencegah fragmentasi ekonomi yang berpotensi menghambat pertumbuhan dan stabilitas perekonomian dunia.

Pada kesempatan tersebut, Airlangga menjelaskan bahwa berbagai konflik global, termasuk yang terjadi di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah menunjukkan bagaimana gangguan geopolitik dapat dengan cepat berdampak pada rantai pasok, investasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia.

Tren tersebut menunjukkan bahwa gangguan geopolitik dapat dengan cepat memicu peningkatan biaya, menurunkan investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Kondisi tersebut mendorong banyak negara untuk menerapkan berbagai kebijakan guna memperkuat keamanan ekonomi (economic security), antara lain melalui kebijakan industri, penyaringan investasi (investment screening), serta pengendalian ekspor (export controls) untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Di tengah tantangan tersebut, Indonesia mampu menjaga ketahanan ekonomi dengan pertumbuhan sebesar 5,61 persen (year-on-year) pada triwulan I tahun 2026, inflasi yang tetap terkendali, serta cadangan devisa yang kuat dan surplus neraca perdagangan yang telah berlangsung selama lebih dari 70 bulan berturut-turut.

Lebih lanjut, Airlangga menyampaikan bahwa Indonesia saat ini terus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, pengembangan manufaktur, transformasi digital, dan ekonomi hijau. Indonesia juga terus memperkuat posisinya dalam rantai pasok global, termasuk pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *