Benarkah Ikan Sapu-sapu Biang Kerok Rusaknya Ekosistem Sungai Jakarta?

Ikan sapu-sapu.

JAKARTA (LB)- Pegiat komunitas ikan sapu-sapu (pleco), Anton, menyebut, ikan sapu-sapu bukan penyebab utama rusaknya ekosistem sungai di Jakarta. Menurut dia, kerusakan justru lebih banyak dipicu oleh pencemaran air dan aktivitas manusia.

Ikan sapu-sapu bukan biang kerok utama berkurangnya populasi ikan lain. “Kalau dibilang sapu-sapu merusak ekosistem dengan memangsa ikan lain atau telur-telurnya, itu kurang tepat. Faktor utamanya justru pencemaran lingkungan,” ujar Anton, Senin (13/4).

Adapun ikan-ikan lokal seperti lele, mujair, dan sepat lebih rentan terhadap kondisi air yang tercemar sehingga membuat jenis ikan tersebut mudah mati.

Selain itu, jenis ikan lele, mujair, dan sepat juga banyak ditangkap untuk konsumsi sehingga populasinya semakin menurun. “Ikan lain itu lebih lemah. Ditambah lagi banyak dieksploitasi karena bisa dikonsumsi atau dijual. Lama-lama habis, sementara yang bertahan justru sapu-sapu karena lebih kuat,” kata dia.

Menurut Anton, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan yang tercemar. Hal ini membuat populasinya tetap bertahan bahkan meningkat di sungai-sungai perkotaan seperti di Jakarta.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa keberadaan ikan sapu-sapu tetap menimbulkan dampak terhadap lingkungan, terutama dari sisi fisik sungai. “Ikan sapu-sapu ini pasti berdampak ke lingkungan perairan kita karena mereka menggali lubang untuk reproduksi dan bisa menyebabkan pengikisan pinggiran sungai,” kata dia.

Namun, ia membantah jika ikan sapu-sapu disebut sebagai perusak ekosistem ikan lain.

Anton menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu bukanlah pemangsa telur ikan sebagaimana informasi yang beredar. Justru yang merusak ekosistem di sungai Jakarta, yakni karena pencemaran yang terjadi sudah sangat parah.

“Kurang tepat kalau ikan sapu-sapu menjadi faktor utamanya. Faktor utama kerusakan kali dan sungai adalah pencemaran lingkungan,” kata Anton.
Selain itu, populasi ikan sapu-sapu di perairan Jakarta saat ini sudah sangat banyak dan sulit dikendalikan.

Pasalnya, dalam sekali reproduksi, ikan ini bisa menghasilkan hingga 400 telur ikan. “Sangat susah dan tidak mungkin untuk menghilangkan ikan sapu-sapu ini di perairan Jakarta karena sudah sangat luas penyebarannya. Untuk jenis yang ada di kali Jakarta rata-rata sekali bertelur di kisaran 200 sampai 400 butir,” jelas dia.

Dengan jumlah tersebut, sangat sulit untuk mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di Jakarta.

Meskipun begitu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan sapu-sapu yang berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya.

Di sisi lain, ia menyebut ikan sapu-sapu sebenarnya memiliki peran dalam ekosistem, salah satunya membantu pergerakan endapan di dasar sungai yang berkaitan dengan siklus zat seperti amonia dan oksigen.

Namun, peran tersebut menjadi tidak seimbang ketika populasinya berlebihan. “Karena jumlah sangat banyak dan berlebihan maka menjadi masalah,” imbuh dia. Oleh sebab itu, ia mengatakan pentingnya penanganan akar persoalan, yakni pencemaran sungai, dibanding hanya menyalahkan keberadaan ikan sapu-sapu.

 “Pencemaran air karena kimia dan sampah domestik mematikan ikan-ikan yang lebih lemah dibanding ikan sapu-sapu yang lebih kuat dan sudah beradaptasi,” ucap dia. *

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *